Makna Simbolik Merah Putih Pada Makanan Untuk Peringatan Bulan Saffar Di Kalangan Etnis Madura Di Desa Sungai Malaya

Authors

  • Nurhalimah Nurhalimah Universitas Tanjungpura

DOI:

https://doi.org/10.26418/balale.v1i1.42793

Keywords:

Makanan Merah Putih, Perubahan Budaya, Simbolik, Tradisi Makan

Abstract

Kajian ini berfokus pada makna simbolik merah putih pada makanan untuk peringatan bulan Saffar di kalangan Etnis Madura di Desa Sungai Malaya, yang dikaji dengan menggunakan metode kualitatif. Makanan merah putih adalah tradisi masyarakat Desa Sungai Malaya yang dilakukan setiap setahun sekali pada bulan Saffar, memiliki makna simbolik. Makanan yang berwarna putih sebagai lambang kesucian, sedangkan makanan yang berwarna merah menunjukkan keberanian Husain dalam melawan pasukan Yazid.  Namun, seiring berkembangnya zaman tradisi ini memiliki perubahan pada jenis makanan yang disajikan.    Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan jenis makanan merah putih dengan jenis makanan lain antar lain adalah pertama: faktor ekonomi, masyarakat etnis Madura Desa Sungai Malaya beranggapan bahwa membuat makanan merah membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Kedua: waktu, membuat makanan merah putih tentu membutuhkan waktu yang lumayan lama oleh karena itu masyarakat cenderung memilih mengganti dengan jenis makanan lain yang membutuhkan waktu lebih sedikit. Ketiga: praktis, ketika masyarakat etnis Madura di Desa Sungai Malaya membuat makanan dengan jenis yang berbeda dengan biasanya tempat atau wadah untuk membagikan kepada tetangga dapat menggunakan mika atau kotak makanan sedangkan jika menggunakan jenis makanan merah putih dengan jenis bubur maka akan kesulitan untuk membawa dan dibagikan kepada tetangga sekitar.

Author Biography

Nurhalimah Nurhalimah, Universitas Tanjungpura

Program Studi Antropologi

References

Azis Said, Abdul. (2004). Simbolisme Unsure Visual Rumah Tradisional Toraja Dan Perubahan Aplikasinya Pada Desain Modern. Yogyakarta: Ombak

Alhaq. (2015). Kisah Terbunuhnya Al Hasan Dan Al Husein Radhiyallahu Anhuma http://tukpencarialhaq.com/2015/10/29/kisah-terbunuhnya-al-hasan-dan-al-husein-radhiyallahu-anhuma/ Diakses Pada Tanggal 06 September. Pukul 10:50

Barth, (1988) .Kelompok Etnik Dan Batasannya.Jakart: Universitas Indonesia Press

Berber, Arthur Asa. (2005). Tanda-Tanda Dalam Kebudayaan Kontemporer. Jogjakarta: Tiara Wacana Jogja

Bungin, Burhan. (2007). Analisis data penelitian kualitatif. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Evi, V. Petetang. (2008). Pendidikan Multicultural Kal-Bar. Pontianak: Mitra Kasih

Endang Setyaningsih, Atiek Zahrulianingdyah. (2015).“Adat Budaya Siraman Pengantin Jawa Syarat Makna Dan Filosofiâ€02: 02-11.Diakses pada 21 Desember 2017 pukul 12:25.

Geertz, Clifford. Kebudayaan dan agama. Yogyakarta: Penerbit Yunisius

Hadari, Nawawi. (1994). Metode Penelitian Bidang Social.Yogyakarta: Ugm Press.

Jenks, Chris. (2013). Culture Studi Kebudayaan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Koentjaraningrat. (1974). Kebudayaan, Mentalitas Dan Pembangunan. Jakarta: Pt Gramedia.

Kuntowijoyo. (1999). Budaya Dan Masyarakat. Yogyakarta: Pt.Tiara Wacana Yogya

Downloads

Published

2020-05-29

Issue

Section

Articles