The Concept of Recycled Farming According to Dayak Kanayatn and the Cultural Dimension

Authors

  • Dismas Kwirinus The School of Philosophical Theology “Widya Sasana” Malang, Indonesia
  • Petrus Yuniarto Licentiate Program on Major Pastoral, University of Santo Tomas Manila, the Philippines

DOI:

https://doi.org/10.26418/ijerch.v1i1.64439

Keywords:

Balale"™, Cultural dimension, Kanayatn Dayak, Recycled farming

Abstract

This research focuses on explaining the concept of recycled farming according to Dayak Kanayatn and its Cultural Dimensions. Talking about the Dayak Kanayatn cannot be separated from all their life activities. One of their most significant life activities is the farming practices of the Dayak Kanayatn tribe, which is rich in ritual ceremonies. The ceremony signifies the human relationship with nature and all its contents. Apart from that, the activities of the Kanayatn Dayak tribe, which are also essential to discuss, are economic activities. Supported by natural conditions, the Dayak people depend on the recycling farming system for their economy. However, the problem that arose later was the recycling farming system of the Dayaks, who were accused of destroying nature, encroaching on forests, and illegal loggers, thus disturbing and destroying nature. If we open history again, the Dayak tribe has managed nature in this way for centuries but has not caused any damage to nature. Departing from this accusation, the researcher explains how the Dayak Kanayatn people wisely manage nature with recycled farming. This paper aims to respond to accusations of Kanayatn Dayak as natural destroyers of their farming system. Then he wanted to explore one of the cultures of the Dayak people, especially the Kanayatn Dayak, which was almost extinct due to the times. Furthermore, it introduces the Dayak-style culture of nature management through the recycled farming tradition the Kanayatn Dayak represents. The author uses qualitative research methods and critical reading of the text without ignoring the author"™s experiences and observations as a Dayak son. The findings of this paper are that the Dayak Kanayatn farming system not only reveals economic activity but also reveals community socio-cultural and religious activities. From how they work the fields with the balale"™ system, it is implied that they are solid in solidarity with others. It was there that their solid community life was revealed based on kinship and brotherhood.

References

Andasputra, Nico (Ed). (1997). Mencermati Dayak Kanayatn. Pontianak: Institut Dayakologi.

----------. (1999). Perlawanan Rakyat di Hutan Kalimantan. Pontianak: IDRD.

----------. (1992). “Manusia Dayak dan Konsep Pemikirannyaâ€. Pontianak: IDRD. Kalimantan Review,1(1). 24-26.

Apo, K.D. (2022). Tradisi Beuma dan Pandangan akan Alam Dayak Suaid sebagai Pelestarian Lingkungan. Balale’: Jurnal Antropologi, 3(1), 17-36.

Aseng, Maran Marcellinus. (1997). “Memahami Nilai-Nilai Sastra Lisan Yang Membentuk Budaya Dayak Bukitâ€, dalam Nico Adasputra, Mencermati Dayak Kanayatn. Pontoanak: IDRD.

Aten, Herkulanus. (1996). “Memahami Demokrasi Orang Dayak Kanayatnâ€. Pontianak: IDRD. Kalimantan Review, 10(4), 17-19.

Bamba, John (Ed). (2008). Mozaik Dayak Keberagaman Subsuku dan Bahasa Dayak di Kalimantan Barat. Pontianak: Institut Dayakologi.

----------. (1999). “Memahami Demokrasi Orang Dayak Kanayatnâ€. Pontianak: IDRD. Kalimantan Review, 5(2), 27-29.

Coomans, M. (1987). Manusia Daya Dahulu, Sekarang, Masa Depan. Jakarta: Gramedia.

Daeng, Hans. (1970). Antropologi Budaya. Ende: Nusa Indah.

Darmadi, D., & Prasojo, Z. H. (2021). Orang Melayu Buyan Berladang: (Kontestasi Antara Tradisi Lokal dan Modernitas Di Pedalaman Kalimantan Barat). Prosiding Muktamar Pemikiran Dosen PMII, 1(1), 357–368.

Dilen, Dihi. (1997). “Radakng dalam Kehidupan Orang Dayak Kanayatnâ€, dalam Nico Andasputra, Mencermati Dayak Kanayatn. Pontianak: IDRD.

----------. (1999). “Alam Kehidupan dan Kematian bagi Suku Dayak Kanayatnâ€. Pontianak: IDRD. Kalimantan Review, 4(2), 23-26.

Djuweng, Stefanus. (1992). “Dayak, Dya, Daya’, dan Daya Cermin Kekaburan Sebuah Identitasâ€. Pontianak: IDRD. Kalimantan Review 1(1), 12-14.

Dove, Michael. R. (1998). Sistem Perladangan di Indonesia Suatu Studi Kasus dari Kalimantan Barat. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Florus, P. (1994). Kebudayaan Dayak Aktualisasi dan Transformasi. Jakarta: Gramedia.

Gomes, Edwin H. (1911). Seventeen Years among the sea Dayak of Borneo. Seely and CO Limeted: London.

Goretti, Maria. (1999). “Memberantas Hama Padi Ala Dayak Kanayatnâ€. Pontianak: IDRD. Kalimantan Review 51(9), 34-36.

Gubernur Kalimantan Barat. (2020). Pergub No 103 Tahun 2020 ttg pembukaan-areal-lahan-pertanian-berbasis-kearifan-lokal.pdf.

Hendra. (2017). Perubahan Kebudayaan Berladang Mayarakat Dayak Ahe di Daerah Tunang Selatan Mauknya Perkebunan Kelapa Sawit. Jurnal Sosiologi, 5(2), 47-60.

Huson, Alfred Bacon. (1973). Ensyclopedia Americana Corporation, Vol I. New York: Orbis Books.

Jimy O. Andin, Ichyatul Afrom, K. N. (2020). Analisis Dalam Tari Tematik/Bertema Berladang (Studi Kasus Tari Karang Alu). Jurnal Tambuleng: Pendidikan Seni, Drama Dan Tari, 1 (2), 21-36.

Julipin, Vinsentius. (1993). “Naik Dango, Upacara Syukur dan Menghormati Padiâ€. Pontianak: IDRD. Kalimantan Review, 4(2), 10-13.

Kusmiran, Toni. (2002). “Upacara Berladang Dayak Bukitâ€. Pontianak: IDRD. Kalimantan Review, 86(11), 34-35.

Kusworo, Engkus. (2009). Metode Penelitian Komunikasi: Fenomenologi, Konsepsi, Pedoman dan Contoh Penelitiannya. Bandung: Widya Padjajaran.

Kwirinus, Dismas. (2022). Imanensi dan Transendensi Petara Raja Juwata Sebagai Wujud Tertinggi Orang Dayak Desa Kalimantan Barat. Perspektif, 17(2), 91–113.

Lahajir, Y. (2002). Etnologi Perladangan Orang Dayak Tanung Linggang. Yogyakarta: Galang Press.

Lontaan, J.U. (1975). Sejarah-hukum adat dan adat istiadat Kalimantan Barat. Jakarta: Bumirestu.

Moleong, Lexy J. (2017). Metodologi Penelitian Kualitatif, Edisi Revisi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Pahlevi, A. (2019). Bagi masyarakat Dayak, Berladang itu sekaligus Menjaga Keragaman Hayati. Pontianak: IDRD.

Peorwadarminta, W.J.S. (1986). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Pide, S. M. (2014). Hukum Adat: Dahulu, Kini dan Akan Datang. Jakarta: Kencana.

Raharso, Alphonsus Tjatur dan Yustinus (Ed). (2018). Metodologi Riset Studi Filsafat Teologi. Malang: Dioma.

Rufinus, Albert. (1997). “Tradisi Lisan dalam Tata Upacara Adat pada Teknologi Pertanian Asli Masyarakat Dayak Kanayatnâ€, dalam Nico Andasputra (ed). Mencermati Dayak Kanayatn. Pontianak: IDRD.

----------. (1992). Beberapa Aspek Permasalahan Sosial Budaya dalam Masyarakat Dayak Kanayatn di Kabupaten Pontianak. Pontianak: IDRD.

----------. (1999). “Pengetahuan Dayak Kanayatn dalam Tradisi Lisanâ€. Pontianak: IDRD. Kalimantan Review, 6(3), 29-30.

----------. (1999). “Manusia Dayak: Manifestasi Prilaku dan Perbuatannyaâ€. Pontianak: IDRD. Kalimantan Review, 1(2), 10-12.

Said, Muhammad., Arkanudin., Yulianti. (2020). Tradisi Nyimbah Aik Tanah Dayak Kanayat’n sebagai Sistem Pengendalian Sosial di Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten. Kubu Raya. Balale’: Jurnal Antropologi, 1(1), 29-40.

Setiawan, B. (1986). Ensiklopedi Nasional Indonesia, Jilid IV. Jakarta: PT. Cipta Adi Pustaka.

Shadily, Hassan. (1973). Ensiklopedi Umum. Yogyakarta: Kanisius.

Sinju, H. Bahari. (1993). “Konsep Pemikiran Tanah pada Suku Dayak Kanayatnâ€. Pontianak: IDRD. Kalimantan Review, 5(2), 30-32.

Sood, Miden. (1999). Dayak Bukit Tuhan, Manusia, Budaya. Pontianak: IDRD.

----------. (1999). “Peladang Bukan Penyebab Kabut Asapâ€. Pontianak: IDRD. Kalimantan Review, 25(7), 27-29.

Sulastri, Dewi. (2015). Pengantar Hukum Adat. Jakarta: Pustaka Setia.

Tatang, L. (1996). “Kearifan Tradisional Orang Dayak dalam Melestarikan Keanekaragaman Hayatiâ€. Pontianak: IDRD. Kalimantan Review, 16(5). 15-17.

----------. (1999). “Adat Nyarapa’ Dayak Kanayatn untuk Usir Hama Tikusâ€. Pontianak: IDRD. Kalimantan Review, 75(10), 26-28.

Ukur, Fridolin. (1992). Tantang Djawab Duku Dajak. Jakarta: BPK Gunung Mulia.

Saeng, Valentinus. (2011). Adat Pelestarian Hutan dalam Suku Mualang. Seri Filsafat Dan Teologi Widya Sasana: Edisi Khusus 40 Tahun STFT, Vol.21 (No.20), 61.

William, Thomas. (1973). Ensyclopedia Americana, Vol IV. New York: Orbis Books.

Wulansari, Dewi. (2010). Hukum Adat Indonesia: Suatu Pengantar. Bandung: PT. Refika Aditama, 2010.

Yeri. (2016). Adat Istiadat Orang Dayak: Landak dan Tayan. Yogyakarta: Pohon Cahaya.

Interview:

Interview about the Kanayatn Dayak Tribe's Farming Tradition, (2023).

Yanuarius Kompu. (2023). Interview Regarding Traditional Rituals of Dayak Kanayatn Farming.

Aseng. (2023). Interview Regarding the Highest Form of Dayak Kanayatn and Ancestral Beliefs. Interview about traditional Dayak Kanayatn beliefs.

C. Eken. (2023). Interview about the History of the Kanayatn Dayak Tribe in West Kalimantan 2023. "Interview with the Kanayatn Dayak Community, the Kanayatn Dayak Tribe regarding the Concept of Recycled Cultivation in the Kanayatn Dayak Tribe".

Downloads

Published

2023-07-19

Issue

Section

Articles Research