Kondisi Kerusakan Terumbu Karang Akibat Aktivitas Wisata Snorkeling di Teluk Cina Pulau Lemukutan
DOI:
https://doi.org/10.26418/jose.v2i1.56355Keywords:
terumbu karang, wisata snorkeling, Teluk CinaAbstract
Penelitian ini bertujuan untuk menentukan tingkat kerusakan terumbu karang yang berada di kawasan Teluk Cina, Pulau Lemukutan, khususnya kerusakan yang ditimbulkan oleh aktivitas wisata snorkeling. Pengamatan terumbu karang menggunakan metode LIT (Line Intercept Transect) untuk menganalisis tingkat kerusakan. Hasil analisis dampak wisata snorkeling didapatkan kondisi ekosistem terumbu karang yang berada di perairan Teluk Cina masuk kedalam kategori rusak sedang, dengan angka stasiun 1 (1,47%,) stasiun 2 (2,41%), dan stasiun 3 (3,29%) dan, karang yang luka stasiun 1 (1,57%), stasiun 2 (2,48%), dan stasiun 3 (3,52%). Hal ini dapat menjadi acuan ilmiah bahwa ekosistem terumbu karang di Teluk Cina memerlukan perhatian dalam pemeliharaan dan penjagaan ekosistem, supaya tidak terjadi penurunan menuju kategori buruk.
References
Andri, Karlina, I., Jaya, Y.V., 2014, Persentase Tutupan Karang Hidup Di Pulau Abang Batam Provinsi Kepulauan Riau, Universitas Maritim Raja Ali Haji.
Burke L., Selig E., and Holmes M., 2002, Reefs at Risks in Southeast Asia, World Resource Institute, Washington DC, USA.
Dahuri, R., 2003, Keanekaragaman Hayati laut, Aset Pembangunan Berkelanjutan Indonesia, Jakarta, PT Gramedia Pustaka Utama.
Harfiandri, 2003, Terumbu Karang Kita, Padang: Pusat Kajian Mangrove dan Kawasan Pesisir, Universitas Bung Hatta.
Liew, H.C., Y.S. Chua, and E.H. Chan, 2001, The Impact on Coral Reefs by Leisure Divers in Redang. National Symposium on Marine Park and Island in Trengganu. 7p.
Muhidin, Yulianda, F., Zamani, N.P., 2017, Dampak Snorkeling dan Diving Terhadap Ekosistem Terumbu Karang, Jurnal Ilmu Dan Teknologi Kelautan Tropis, 9(1), 315-326.
Netty, S., Wardiyati, T., Handayanto, E., Maghfoer, M. D., 2012, Nickel Accumulating Plants in the Post-Mining Land of Sorowako, South Sulawesi, Indonesia, J. Trop. Agric., 50, 45-48.
Patty, S. I. 2013. Distribusi Suhu, Salinitas dan Oksigen Terlarut di Perairan Kema, Sulawesi Utara, Jurnal Ilmiah Platax, 1(3): 148-157.
Pranata, N.B., 2018, Kondisi Ekosistem Terumbu Karang di Teluk Cina, Pulau Lemukutan, Kalimantan Barat, Jurnal Laut Khatulistiwa, 1(2), 9-16.
Lestari, R.F., 2017, Analisis Pengelolaan Ekowisata Bahari Snorkeling di Pulau Karimun Jawa Berdasarkan Sistem Informasi Geografis, Universistas Muhammadiyah Surakarta.
Rouphael, A.B. and Inglis, G.J., 2002, Increased Spatial and Temporal Variability in Coral Damage Caused by Recreational Scuba Diving, Ecological Applications, 12(2), 427-440.
Saleh, 2009, Teknik Pengukuran dan Analisis Kondisi Ekosistem Terumbu karang. www.coremap.or.id. (29 Oktober 2019).
Souhoka, J., 2013, Kondisi dan Keanekaragaman Karang Batu di Perairan Pulau Gangga Sulawesi Utara, Ilmu Kelautan, 18(4), 213-224.
Sumadhidarga, K., Moosa, M.K., 1997, Program Rehabilitasi dan Pengelolaan Terumbu Karang: Sebuah Upaya Penyelamatan Lingkungan Pesisir Indonesia. Seminar Nasional Peran Pelestarian Kehidupan Liar dan Ekosistemnya Dalam Pembangunan Nasional yang Berkelanjutan, YSI (The Indonesian Wildlife Fund. IWF), Jakarta.
Tubalaworthy, S., 2001, Pengaruh Faktor-Faktor Oseaonografi Terhadap Prokdutivitas Primer Periaran Indonesia. Institut Pertanian Bogor.