Karakteristik Gelombang Laut di Pantai Bahari Jawai Laut Kabupaten Sambas Kalimantan Barat

Authors

  • Fahrul Sujarwan Program Studi Ilmu Kelautan, FMIPA, Universitas Tanjungpura
  • Muliadi Muliadi Program Studi Geofisika, FMIPA, Universitas Tanjungpura
  • Risko Risko Jurusan Ilmu Kelautan dan Perikanan, Politeknik Negeri Pontianak

DOI:

https://doi.org/10.26418/jose.v2i1.59729

Keywords:

pantai Bahari Jawai Laut, Sambas, SMB (Sverdrup Munk Bretscmetder), waves

Abstract

Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui karakteristik tinggi gelombang di pantai Bahari Jawai Laut pada setiap musim. Perkiraan tinggi gelombang laut ditentukan berdasarkan data angin 2010-2019 dari ECMWF dan dihitung menggunakan metode SMB (Sverdrup Munk Bretscmetder). Berdasarkan hasil penelitian lapangan menunjukan bahwa pantai Bahari Jawai Laut memiliki kedalaman 1,4 m. Hasil perhitungan dibandingkan dengan data pengukuran lapangan untuk keperluan validasi dan diperoleh kesalahan relative untuk Hs dan Ts masing-masing sebesar 14,81 % dan 19,73 %. Gelombang di Pantai Bahari Jawai Laut Sambas memiliki tinggi signifikan berkisar antara 0,18"“0,37 m, sedangkan periode signifikan berkisar antara 5,86-7,94 detik. Hasil pengolahan data gelombang menunjukkan bahwa Musim Barat memiliki Hs dan Ts tertinggi sebesar 0,96 m dan 17,92 detik dengan kecepatan angin 2,10"“3,60 m/s. Musim Peralihan memiliki Hs dan Ts sebesar 0,31 m dan 6,08 detik dengan kecepatan angin sebesar 0,50"“2,10 m/s. Musim Timur memiliki Hs dan Ts sebesar 0,37 m dan 7,42 detik dengan kecepatan angin 2,10"“3,60 m/s. Musim Peralihan memiliki Hs dan Ts terendah sebesar 0,23 m dan 5,33 detik dengan kecepatan angin sebesar 0,50"“2,10 m/s. Pantai Bahari Jawai Laut memiliki karakteristik gelombang laut transisi dan termasuk dalam klasifikasi gelombang gravitasi yang dibangkitkan oleh angin. Hal ini disebabkan oleh faktor angin yang berhembus dengan kecepatan yang lebih besar yang menjadi pembangkit gelombang, serta adanya pasang surut air laut. Selain itu bentuk topografi pantai menjadi penentu tinggi gelombang air laut yang terbentuk.

References

Coastal Engineering Research Center (CERC), 1984, Shore Protection Manual Volume I, US Army Corps of Engineer Washington D.C., Chapter 3: 1-53.

Coastal Hydraulic Laboratory (CHL), 2002, Coastal Engineering Manual, Part I-VI. Washington DC: Dept. of The Army, U.S. Army Corp of Engineers.

Fajri, H., 2013, Simulasi Perubahan Garis Pantai Teluk Belitung Kabupaten Kepulauan Meranti Menggunakan Program GENESIS, J. Penelitian, Pekanbaru: Universitas Riau.

Hidayati, N., 2017, Dinamika Pantai, UB Press, Malang.

Ningsih, N.S., 2002, Diklat Kuliah Gelombang Fisika, Bandung: Penerbit ITB

Pratikto, W.A., Suntoyo, Solikhin, Sambodho, K., 2000, Struktur Pelindung Pantai, hibah Pengajaran – Like, Teknik Kelautan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya.

Simamora, R.J., 2019, Estimasi Energi Gelombang Pada Musim Peralihan II di Muara Sungai Banyuasin, Universitas Sriwijaya, Inderalaya (Skripsi)

Suhana, M. P.; Nurjaya, I. W.; Natih, N. M, 2016, Analisis Kerentanan Pantai Timur Pulau Bintan, Provinsi Kepulauan Riau Menggunakan Digital Shoreline Analysis System dan Metode Coastal Vulnerability Index, Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan, 7(1): 21–38.

Suhana, M. P.; Nurjaya, I. W.; Natih, N. M. N, 2018, Karakteristik Gelombang Laut Pantai Timur Pulau Bintan Provinsi Kepulauan Riau tahun 2005-2014, Dinamika Maritim, 6(2): 16–19.

Sulaiman, A., dan Soehardi, 2008, Pendahuluan Geomorfologi Pantai Kuantitatif, 1–265.

Tjasyono, B.H.K., 2004, Klimatologi Umum. Bandung: Penerbit ITB, 348 hlm

Wyrtki, K., 1961, Science Result of Marine Investigation of the South China Sea an The Gulf of Thailand, Naga refort, University of California, 1:159-163.

Downloads

Published

2023-07-24

Issue

Section

Articles