Perencanaan Pembangkit Listrik Hibrida Angin "“ Biomassa "“ Diesel "“ Surya Di Desa Penjernang, Kecamatan Sungai Tebelian, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat

Authors

  • Joddy Indrawan
  • Kho Hie Khwee
  • Ayong Hiendro

DOI:

https://doi.org/10.26418/j3eit.v10i1.52518

Abstract

Pertambahan dari jumlah penduduk di Indonesia, menjadi sebuah masalah bagi pemerintah. Masalahnya adalah untuk memenuhi kebutuhan energi listrik bagi masyarakat Indonesia, PLN merasa belum mampu untuk memenuhi seluruh kebutuhan energi listrik untuk masyarakat Indonesia dikarenakan wilayah geografis yang luas dan jumlah penduduknya yang sangat banyak. Agar mampu memenuhi kebutuhan energi listrik di Kalimantan Barat dengan membeli energi listrik dari Malaysia dan pembangkit yang bersumber dari energi fosil.   Akibat dari ketergantungan energi fosil dan impor energi adalah energinya tidak dapat diperbarui dan terancamnya ketahanan energi nasional. Solusi untuk mengatasi hal tersebut yaitu dengan membangun sumber energi baru dan terbarukan. Untuk mempercepat target pemerintah memenuhi target bauran energi nasional sebesar 23% bersumber dari energi baru terbarukan (EBT) di tahun 2025 dan juga mengatur bahwa penggunaan minyak bumi akan diturunkan menjadi 25% di tahun yang sama. Penelitian ini menganalisis tentang perencanaan pembangkit listrik hibrida bersumber dari angin, biomassa, diesel,dan surya untuk memenuhi kebutuhan energi listrik di Desa Penjernang dari aspek ekonomis. Perangkat lunak HOMER digunakan untuk mensimulasikan dan menganalisis konfigurasi dengan skenario off grid dan on grid. Dari simulasi didapatkan hasil analisis ekonomi dari sistem PLTH on grid paling ekonomis yaitu dengan konfigurasi panel surya "“ inverter "“ grid yang menghasilkan total biaya keseluruhan (NPC) sebesar Rp4.826.167.342,68, total biaya tahunan (AC) sebesar Rp243.444.137,89, dan biaya pokok produksi (LCOE) sebesar Rp1.174,232/kWh. Dan untuk hasil analisis ekonomi dari sistem PLTH off grid paling ekonomis yaitu konfigurasi panel surya "“ generator diesel "“ generator biogas "“ inverter "“ baterai menghasilkan total biaya keseluruhan (NPC) sebesar Rp9.094.862.206,57, total biaya tahunan (AC) sebesar Rp458.767.948,12, biaya pokok produksi (LCOE) sebesar Rp2.399,3512/kWh. Secara keseluruhan untuk biaya yang paling terekonomis antara skenario terputus jaringan dan terhubung jaringan, didapatkan bahwa konfigurasi terhubung jaringan dari panel surya "“ inverter "“ grid adalah konfigurasi yang paling ekonomis pada perencanaan PLTH untuk Desa Penjernang.

Downloads

Published

2022-02-11

Issue

Section

Articles