Pengaruh Produk Domestik Regional Bruto Terhadap Indeks Kualitas Lingkungan Hidup Kalimantan Barat

Authors

  • yuliana B1011141074

Abstract

ABSTRACT

                  This research aims to look for factors that influence the Environmental Quality Index (IKLH) in West Kalimantan. Because IKLH is a reflection of the environmental quality of a province in Indonesia. This research is quantitative descriptive. The data used in this study are secondary data obtained from the Central Statistics Agency (BPS), Ministry of Environment of the Republic of Indonesia. The research variables used in this study are the GRDP of the agriculture and forestry sectors, industrial GRDP and processing, transportation and warehousing GRDP and mining and excavation GRDP. The analysis method used in this research is multiple regression or Ordinary Least Square (OLS) which is processed using SPSS 22.                   The results of the simultaneous test show that agriculture and forestry GRDP, industrial GRDP and processing, transportation and warehousing GDP and mining and quarrying GRDP affect IKLH in West Kalimantan. whereas for the determination test shows that 88.5% of the independent variables are able to influence the dependent variable (IKLH), the rest are affected by variables outside the independent variables.  Keywords: IKLH, agriculture and forestry GRDP, industrial and processing GRDP, transportation and warehousing GRDP, and mining and excavation GRDP and Multiple Regression.

 

 

 

 

ABSTRAK

                              Penelitian yang dilakukan ini bertujuan untuk mencari faktor-faktor yang mempengaruhi Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) di Kalimantan Barat. Sebab IKLH merupakan cerminan kualitas lingkugan suatu daerah provinsi yang ada di Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS), Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia. Variabel penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah PDRB sektor pertanian dan kehutanan, PDRB industri dan pengolahan, PDRB transportasi dan pergudangan serta PDRB pertambangan dan penggalian. Teknik metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi berganda atau Ordinary Least Square (OLS) yang diolah menggunakan SPSS 22.

Hasil penelitian uji simultan menunjukkah bahwa PDRB pertanian dan kehutanan, PDRB industri dan pengolahan, PDRB transportasi dan pergudangan serta PDRB pertambangan dan penggalian berpengaruh terhadap IKLH di Kalimantan Barat. sedangkan untuk uji determinasi menunjukkan bahwa 88,5% variabel independent mampu mempengaruhi variabel dependent ( IKLH), sisanya dipenaruhi variabel diuar variabel independent

 

Kata Kunci : IKLH, PDRB pertanian dan kehutanan, PDRB industri dan pengolahan, PDRB  transportasi dan pergudangan, serta PDRB pertambangan dan penggalian dan Regresi Berganda.

 

 

 

PENDAHULUAN

Indeks kualitas lingkungan hidup merupakan suatu indikator untuk melihat tingkat kualitas lingkungan hidup di suatu daerah provinsi disuatu negara. IKLH di Kalimantan Barat mempunyai pengaruh dengan PDRB pertanian dan kehutanan, PDRB industri dan pengolahan, PDRB transportasi dan pergudangan, serta PDRB pertambangan dan penggalian yaitu jika faktor-faktor itu berkembang menjadi baik maka akan membuat kondisi Indeks Kulitas Lingkungan Hidup cenderung menurun. Kondisi ekonomi yang baik yaitu suatu kondisi dimana PDRB meningkat dengan diikuti IKLH yang juga akan meningkat dari masa-kemasa.

Tabel 1.3.

Indeks Kualitas Lingkungan Hidup Provinsi Kalimantan Barat

Tahun 2007-2017 (Indeks)

Tahun

IKLH

2007

79.17

2008

87.24

2009

71.92

2010

76.39

2011

74.27

2012

69.91

2013

68.12

2014

68.31

2015

75.88

2016

72.24

2017

74.17

                        Sumber : IKLH Kementerian Lingkungan Hidup Indonesia 2007-2017

 

Dari data diatas dapat di ketahui indeks tersebut menggambarkan kondisi Kualitas Lingkungan   Hidup Provinsi Kalimantan Barat yang pada tahun 2008 berada pada kondisi sangat baik yaitu sebesar 87,24 dan pada tahun 2009   mengalami penurunan hingga menjadi sebesar 71,92  masuk dalam kategori baik kemudian pada tahun 2013 mengalami penurunan dan berada pada angka 68,12 dan berada pada kondisi cukup baik, angka ini merupkan angka terendah selama sebelas tahun terakhir. Kalimantan Barat memiliki IKLH yang masuk dalam kategori baik kembali pada tahun 2015-2017. Dalam penilaian setiap indeks ditetapkan klasifikasi kualitas lingkungan hidup kedalam 7 tujuh kategori. Kategori paling rendah adalah waspada, dan yang paling tinggi adalah kategori sangat baik. Penentuan klasifikasi dilakukan sebagai berikut:

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 1.4.

Klasifikasi Nilai Indeks Kualitas Lingkungan Hidup

No

Predikat

Nilai

1

Sangat Baik

IKLH   ≥ 80

2

Baik

70 < IKLH   ≤ 80

3

Cukup Baik

60 ≤ IKLH   ≤ 70

4

Kurang Baik

50 ≤ IKLH   < 60

5

Sangat Kurang Baik

40 ≤ IKLH   < 50

6

Waspada

30       IKLH   < 40

                    Sumber : Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Tahun 2016

Analisis Kuznets tentang pengaruh kelestarian lingkungan hidup terhadap pertumbuhan ekonomi ini secara teoritis diungkapkan dengan munculnya teori Environmental Kuznets Curve (EKC). Teori Environmental Kuznets Curve menyatakan bahwa untuk kasus di negara sedang berkembang seiring dengan perjalanan waktu, teknologi dapat merusak kelestarian alam dan lingkungan, sebaliknya untuk negara maju seiring dengan perjalanan waktu dalam kemajuan teknologi, maka kelestarian lingkungan hidup semakin bisa dijamin keberadaannya. Berdasarkan pada penemuannya tersebut, bentuk kurva EKC adalah huruf U terbalik (Munasinghe dalam Gupito, 2012).

Hal yang tepat untuk mengurangi ketimpangan antara pertumbuhan dan pembangunan ekonomi terhadap kualitas lingkungan hidup, yaitu dengan melakukan pembangunan ekonomi berwawasan lingkungan serta menerapkan konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Pembangunan ekonomi berwawasan lingkungan adalah pembangunan berkelanjutan dibidang ekonomi yang tidak hanya berorientasi hasil untuk saat ini tetapi juga berorientasi pada masa depan dengan titik fokus pada keberlangsungan pelestarian lingkungan, dapat diketahui bahwa parameter keberhasilan sebuah pembangunan adalah keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan pembangunan berkesinambungan yang ditandai dengan tidak terjadinya kerusakan sosial dan kerusakan alam (Gupito, 2012). Oleh karena itu, pembangunan ekonomi berwawasan lingkungan merupakan suatu jalan keluar dari permasalahan tersebut yang umumnya diterapkan pada negara-negara berkembang. Selanjutnya dari uraian, pemaparan data, dan latar belakang tersebut maka peneliti memberikan judul penelitian ini yaitu Pengaruh PDRB Terhadap Kualitas Lingkungan Hidup di Provinsi Kalimantan Barat.

 

RUMUSAN MASALAH

  1. Bagaimana pengaruh PDRB Sektor Pertanian dan kehutanan terhadap Kualitas Lingkungan Hidup di Provinsi Kalimantan Barat?
  2. Bagaimana pengaruh PDRB Sektor Transportasi dan Pergudangan terhadap Kualitas Hidup di Provinsi Kalimantan Barat?
  3. Bagaimana pengaruh PDRB Sektor Industri dan Pengolahan Terhadap Kualitas Lingkungan Hidup di Provinsi Kalimantan Barat Tahun?  
  4. Bagaimana pengaruh Sektor Pertambangan dan Penggalian terhadap Kualitas Lingkungan Hidup di Provinsi Kalimantan Barat?  
  5. Bagaimana pengaruh PDRB sektor pertanian dan kehutanan, PDRB sektor transportasi dan pergudangan, PDRB sektor industri dan pengolahan, PDRB sektor pertambangan dan penggalian berpengaruh terhadap Kualitas Lingkungan Hidup di Provinsi Kalimantan Barat?

 

TUJUAN PENELITIAN

  1. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh PDRB sektor pertanian dan kehutanan  dalam mempengaruhi nilai IKLH di Kalimantan Barat sehingga kedepannya dapat diambil suatu tindakan antisipasi.
  2. Untuk mengetahui seberapa besar PDRB industri dan pengolahan dalam mempengaruhi nilai IKLH di Kalimantan Barat sehingga kedepannya dapat diambil suatu tindakan antisipasi.
  3. Untuk mengetahui seberapa besar PDRB sektor transportasi dan pergudangan dalam mempengaruhi nilai IKLH di Kalimantan Barat sehingga kedepannya dapat diambil suatu tindakan antisipasi.
  4. Untuk mengetahui seberapa besar PDRB pertambangan dan penggalian dalam mempengaruhi nilai IKLH di Kalimantan Barat sehingga kedepannya dapat diambil suatu tindakan antisipasi.
  5. Untuk mengetahui besaran pengaruh PDRB sektor pertanian dan kehutanan, PDRB sektor industri dan pengolahan, PDRB sektor transportasi dan pergudangan, serta PDRB sektor pertambangan dan penggalian dalam mempengaruhi angka IKLH di Kalimantan Barat sehingga dapat diambil langkah-langkah pencegahan dalam upaya meningkatkan angka IKLH di Kalimantan Barat.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif yaitu bertujuan untuk menggambarkan data yang diperoleh sebagaimana adanya dan menggunakan pendekatakan kuantitatif dengan perhitungan secara matematis. Data yang digunakan bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS), dan Kementerian Lingkungan Hidup Indonesia. Teknik metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi berganda atau Ordinary Least Square (OLS), dengan data runtut waktu (time series) yang diolah menggunakan SPSS 22.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil penelitian uji simultan menunjukkah bahwa PDRB pertanian dan kehutanan, PDRB industri dan pengolahan, PDRB transportasi dan pergudangan serta PDRB pertambangan dan penggalian berpengaruh terhadap IKLH di Kalimantan Barat. Sedangkan untuk uji parsial diketahui PDRB industri dan pengolahan, PDRB transportasi dan pergudangan serta PDRB pertambangan dan penggalian tidak berpengaruh terhadap IKLH Kalimantan Barat dan selanjutnya berpengaruh PDRB pertanian dan kehutanan negative terhadap IKLH.

Analisis regresi berganda digunakan untuk mengetahui pengaruh lebih dari satu variabel independen PDRB terhadap variabel dependen. Dimana dalam penelitian yang dimaksud dengan pengaruh variabel independent terhadap variabel dependent adalah pengaruh PDRB pertanian dan kehutanan, PDRB industri dan pengolahan, PDRB transportasi dan pergudangan dan PDRB pertambangan dan penggallian terhadap Indeks Kualitas Lingkungan Hidup Kalimantan Barat. Persamaan regresi berganda dalam penelitian ini dibentuk berdasarkan hasil olahan SPSS 22 yang ditampilkan oleh tabel 4.2.

Tabel 4.3.

Uji Regresi Berganda

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

t

Sig.

B

Std. Error

Beta

1

(Constant)

2,226

,150

 

14,814

,000

pdrb pertanian

-,044

,009

-,856

-4,815

,003

pdrb industri

-,002

,009

-,028

-,180

,863

pdrb transportasi

-,002

,008

-,042

-,272

,795

pdrb pertambangan

,006

,010

,119

,631

,551

a. Dependent Variable: iklh

Sumber : Olahan SPSS 22

Berdasarkan tabel 4.2 bahwa besar nilai konstansta persamaan nilai konstanta linier berganda adalah sebesar 2.226 dan adapun koefisien variabel PDRB Pertanian dan kehutanan, PDRB Industri dan pengolahan, PDRB Transportasi dan pergudangan, dan PDRB Pertambangan dan penggalian  masing-masing sebesar -0.044, -0.002, -0.002 dan 0.006 Berdasarkan nilai konstanta dan koefisien variabel tersebut maka persamaan regresi linier berganda adalah sebagai berikut:

LogIKLH=    2.226 "“   0.044 logPDRB Pertaniandan kehutanan "“ 0.002 log PDRB Industri dan pengolahan  - 0.002 log PDRB Transportasi dan perguadangan + 0.006 log PDRB Pertambangan dan penggalian

Adapun hasil persamaan regresi berganda tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

  1. Berdasarkan hasil regresi linier berganda dipeoleh bahwa nilai konstanta sebesar  2.226  artinya jika variabel PDRB pertanian dan kehutanan, PDRB Industri dan pengolahan, PDRB transportasi dan pergudangan, serta PDRB pertambangan dan penggalian tetap atau tidak mengalami perubahan maka IKLH Kalimantan Barat sebesar   2.226 indeks.
  2. Berdasarkan hasil regresi dipeoleh bahwa nilai koefisien sebesar -0.044 menunjukkkan bahwa apabila PDRB pertanian dan kehutanan naik sebesar 1% maka IKLH turun sebesar 0.044 %, dengan asumsi PDRB Industri dan pengolahan, PDRB transportasi dan pergudangan, serta PDRB pertambangan dan penggalian tetap.
  3. Berdasarkan hasil regresi diperoleh bahwa nilai koefisien sebesar -0.002  menunjukkkan bahwa apabila PDRB Industri dan pengolahan naik sebesar 1% maka IKLH turun sebesar 0.002%,  dengan asumsi PDRB pertanian dan kehutanan, PDRB Industri dan pengolahan, PDRB transportasi dan pergudangan, serta PDRB pertambangan dan penggalian tetap.
  4. Berdasarkan hasil regresi dipeoleh bahwa nilai koefisien sebesar -0.002 menunjukkkan bahwa apabila PDRB transportasi dan pergudangan, naik sebesar 1% maka IKLH turun sebesar 0.002 indeks,  dengan asumsi PDRB pertanian dan kehutanan, PDRB Industri dan pengolahan, PDRB Industri dan pengolahan, serta PDRB pertambangan dan penggalian tetap.
  5. Berdasarkan hasil regresi dipeoleh bahwa nilai koefisien sebesar 0.006 menunjukkkan bahwa apabila PDRB pertambangan dan penggalian  naik sebesar 1% maka IKLH naik sebesar 0.006%, dengan asumsi PDRB pertanian dan kehutanan, PDRB Industri dan pengolahan, PDRB transportasi dan pergudangan, serta PDRB tetap.

 

 

4.6. Hasil Uji Hipotesis dan Koefisien Determinasi

4.6.1 Uji t

Uji t bertujuan untuk menguji apakah variabel PDRB pertanian dan kehutanan, PDRB industri dan Pengolahan, PDRB transportasi dan pergudangan serta PDRB pertambangan dan penggalian masing-masing mempunyai pengaruh secara parsial terhadap variabel IKLH atau tidak. Dasar pengambilan keputusan pada uji t apabila tingkat signifikansi > 0,05 maka H0 diterima dan Ha ditolak atau sebaliknya

 

Tabel 4.10.

Hasil Uji t

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

t

Sig.

B

Std. Error

Beta

1

(Constant)

2,226

,150

 

14,814

,000

pdrb pertanian

-,044

,009

-,856

-4,815

,003

pdrb industri

-,002

,009

-,028

-,180

,863

pdrb transportasi

-,002

,008

-,042

-,272

,795

pdrb pertambangan

,006

,010

,119

,631

,551

a. Dependent Variable: iklh

 

Hasil uji t pada masing-masing variabel independen dan variabel dependen dalam penelitian ini dapat dijelaskan sebagai berikut :

 

  1. Pengaruh PDRB pertanian dan kehutanan  (X1) terhadap IKLH (Y)

Berdasarkan tabel 4.7 hasil pengujian data model regresi data time series , bahwa dapat diketahui nilai signifikan dari   PDRB pertanian dan kehutanan  terhadap IKLH sebesar 0,003 dengan alpha 0,05 (5%). Sehingga jika dibandingkan dapat dilihat bahwa nilai signifikan lebih kecil dari pada nilai alpha 0,05 sehingga H0 ditolak dan Ha diterima. Maka dapat diambil kesimpulan ada hubungan negatif antara   pertanian dan kehutanan  terhadap IKLH.

  1. Pengaruh PDRB industri dan   pengolahan (X2 ) terhadap IKLH (Y)

Berdasarkan tabel 4.7 pada model regresi data time series, bahwa dapat diketahui nilai signifikan dari PDRB industri dan   pengolahan terhadap IKLH   sebesar   dengan alpha sebesar 0,05%. Sehingga dapat terlihat bahwa nilai signifikan 0.863 lebih besar dari 0,05 (5%) sehingga Ho diterima dan Ha ditolak. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara PDRB industri dan   pengolahan terhadap IKLH.

  1. Pengaruh PDRB transportasi dan pergudangan (X3) terhadap IKLH (Y)

Berdasarkan tabel 4.7 pada model regresi data time series , bahwa dapat diketahui nilai signifikan dari PDRB transportasi dan pergudangan terhadap IKLH sebesar 0,795 dengan alpha 0,05 (5%). Sehingga jika dibandingkan dapat dilihat bahwa nilai signifikan lebih besar dari pada nilai alpha 0,05 sehingga H0 diterima dan Ha ditolak. Maka dapat diambil kesimpulan tidak ada hubungan antara transportasi dan pergudangan terhadap IKLH.

  1. Pengaruh PDRB pertambangan dan penggalian (X4) terhadap IKLH (Y)

Berdasarkan tabel 4.7 hasil pengujian data model regresi data time series, bahwa dapat diketahui nilai signifikan dari harga minyak mentah dunia terhadap ekspor sebesar 0,551 dengan alpha 0,05 (5%). Sehingga jika dibandingkan dapat dilihat bahwa nilai signifikan lebih besar   dari pada nilai alpha 0,05 sehingga H0 diterima dan Ha ditolak. Maka dapat diambil kesimpulan tidak ada hubungan PDRB pertambangan dan penggalian terhadap IKLH.

 

 

 

4.7.2   Uji F

Uji simultan atau uji F berganda untuk mengetahui apakah PDRB pertanian dan kehutanan, industri dan pengolahan, transportasi dan pergudangan, serta PDRB pertambangan dan penggalian berpengaruh secara serentak terhadap ekspor.

Berikut kriteria dalam menentukan hipotesis di bawah ini :

H0 ditolak = F-Sig < 0.05 berarti seluruh variabel independen berpengaruh

H0 diterima = F-Sig > 0,05 berarti seluruh variabel independen tidak berpengaruh.

Tabel 4.11.

Hasil Uji F

ANOVAa

Model

Sum of Squares

df

Mean Square

F

Sig.

1

Regression

,009

4

,002

11,590

,006b

Residual

,001

6

,000

 

 

Total

,010

10

 

 

 

a. Dependent Variable: iklh

b. Predictors: (Constant), pdrb pertambangan, pdrb transportasi, pdrb industri, pdrb pertanian

Sumber: Olahan SPSS 22

Berdasarkan dari tabel 4.8 Hasil Uji F terlihat bahwa nilai signifikan sebesar 0,006  lebih kecil dari nilai alpha sebesar 0,05 sehingga hipotesis H0 ditolak dan selanjutnya dapat disimpulkan bahwa variabel Independent berpengaruh secara simultan terhadap variabel dependent.

 

4.7.3.   Uji koefisien determinasi

Koefisien determinasi digunakan untuk melihat seberapa besar variabel-variabel independent secara bersam-sama mampu memberikan penjelasan mengenai variabel dependent dimana nilai R2 antara 0 sampai 1 (0 ≤ R2 ≤ 1). Semakin kecil nilai R-Squared maka kemampuan variabel independen menjelaskan variabel dependen lemah atau sebaliknya jika nilai R-Squared besar maka kemampuan variabel independen menjelaskan variabel dependen dinyatakan kuat. Berikut hasil uji koefisien determinasi pada penelitian ini ditampilkan pada tabel di bawah berikut:

Tabel 4.12.

Hasi uji koefisien determinasi (R2)

Model Summary

Model

R

R Square

Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

1

,941a

,885

,809

.01402

a. Predictors: (Constant), pdrb pertambangan, pdrb transportasi, pdrb industri, pdrb pertanian

Sumber: Olahan SPSS 22

Berdasarkan tabel 4.12. Hasil Uji Koefisien Determinasi (R2) nilai R-Square sebesar 0,885   yang menunjukkan bahwa kemampuan model variabel yang terdiri dari 4 variabel indenpendent yaitu PDRB pertanian dan kehutanan, industri dan pengolahan, transportasi dan pergudangan, serta PDRB pertambangan dan penggalian dalam   menjelaskan perubahan IKLH   sebesar 88,5%, sedangkan sisa sebesar 12,5% dipengaruhi oleh variabel lain diluar dari variabel dalam penelitian ini.

 

4.8.   Pembahasan

4.8.1. Pengaruh PDRB Pertanian dan Kehutanan Terhadap IKLH Di Kalimantan Barat

Hasil uji t-statistik menunjukkan bahwa hipotesis pertama (H1) diterima, karena PDRB sektor Pertanian dan Kehutanan berpengaruh negatif signifikan terhadap Indeks Kualitas Lingkungan Hidup. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa PDRB sektor Pertanian dan Kehutanan berpengaruh secara parsial terhadap Indeks Kualitas Lingkungan Hidup. Ini berarti tinggi atau  rendahnya PDRB sektor Pertanian dan Kehutanan membuat naik turunnya  Indeks Kualitas Lingkungan Hidup Kalimantan Barat. Ini sejalan dengan penelian yang dilakukan oleh idris (2012) yang menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi dengan indeks kualitas tutupan hutan terbukti mengikuti kurva U (bukan U terbalik), yang dapat dikatakan bahwa pada tahap awal pertumbuhan ekonomi akan diikuti oleh penurunan kualitas tutupan hutan sampai waktu tertentu, namun setelah batas teretentu terlampaui kemudian peningkatan pertumbuhan ekonomi akan diikuti oleh peningkatan indeks kualitas lingkungan hidup. juga sejalan dengan pernyataan (Statistik Lingkungan Hidup Indonesia,2014) yang menyatakan bahwa penurunan kualitas hutan yang diakibatkan alih fungsi lahan hutan sebagai peresap dan penyimpan cadangan air didarat serta akan membuat kerusakan pada lingkungan, dan ini sejalan dengan penelitian   Katrin Retno Gupito (2012) yang menyatakan bahwa kehutanan berpengaruh positif signifikan terhadap (Emisi CO2) atau menurunnya indeks kualitas lingkungan, emisi tersebut dari sektor kehutanan terkait dengan proses deforestasi (landuse, land use change, dan forestry) yang disertai dengan kebakaran hutan. Bank dunia (2009) mengestimasi alih fungsi lahan (land use change) dan deforestasi di indonesia sekitar 2 juta hektar pertahun. Secara lebih detail forest watch indonesia (FWI) dan global forest watch (GFW) mencatat laju perubahan kehutanan besar-besaran di indonesia sekitar 1 juta hektar pertahun sepanjang tahunnya. Penelitian ini sejalan dengan teori Enviromental Kuznets Curve yang menggambarkan hubungan antara pertumbuhan ekonomi dengan degradasi lingkungan yaitu ketika pendapatan negara masih tergolong rendah, maka perhatian suatu negara atau daerah akan tertuju bagaimana cara meningkatkan pendapatannya, baik melalui produksi, investasi yang mendorong terjadinya peningkatan pendapatan dengan mengesampingkan permasalahn kualitas lingkungan. Akibatnya pertumbuhan pendapatan akan diikuti oleh kenaikan polusi atau menurunnya kualitas lingkungan dan kemudian menurun lagi dengan pertumbuhan yang tetap berjalan (Mason dan Swanson, 2003).

Penelitian ini menunjukkan bahwa meningkatnya PDRB sektor Pertanian dan Kehutanan Kalimantan Barat tentu akan menurunkan nilai Indeks Kualitas Lingkungan Hidup di Kalimantan Barat. Sebaliknya menurunnya PDRB sektor Pertanian dan Kehutanan Kalimantan Barat juga tentu meningkatkan nilai Indeks Kualitas Lingkungan Hidup Kalimantan Barat. Dapat dipahami karena tingkat PDRB sektor pertanian dan kehutanan di Kalimantan Barat   cukup tinggi, yaitu berkisar 8,45 juta rupiah,   ini salah satunya didorong oleh adanya perkebunan kelapa sawit yang semakin meningkat dari tahun ketahun. Hal ini di buktikan dengan jumlah luas areal perkebunan kelapa sawit pada tahun 2011 yang mencapai 880.767 (ha) dan meningkat menjadi 1.478.879 (ha) pada tahun 2017, data ini diperoleh dari dinas perkebunan Kalimantan Barat tahun 2017. Selain itu Pada tahun 2014 dan 2015 kebakaran lahan di kalimantan barat tidak hanya untuk pertanian menetap dan ladang berpindah, tetapi juga untuk membuka lahan untuk perkebunan kelapa sawit, kayu dan kayu pulp (Purnomo dkk.2017) ada tujuh perusahaan di Kalimantan Barat yang sengaja membakar lahan   mereka berikut peta yang menggambarkan kondisi kebakaran lahan kelapa sawit yang ada di Kalimantan Barat.  

 

Sumber :P.Tias, Columbia University 2014-2015

Gambar 4.2. Peta 5 dan 6: Hamparan titik api pada konsesi kelapa sawit kalimantan barat (2014 dan 2015)

pada tahun 2014 Kalimantan Barat menjadi provinsi yang memiliki luas areal sawit terluas kedua   dipulau Kalimantan ini dibuktikan pada tabel berikut:

Tabel 4.13.

Perkembangan Luas Areal Tanam Kelapa Sawit Dipulau Kalimantan

Tahun

Kalimantan Barat

Kalimantan Tengah

Kalimantan Selatan

Kalimantan Timur

Kalimntan Utara

2009

530.575

1.037.497

312.719

474.739

-

2010

750.948

911.441

353.724

446.094

-

2011

683.276

1.003.100

420.158

675.395

-

2012

885.075

1.024.973

423.206

716.662

-

2013

914.835

1.099.692

475.739

815.257

-

2014

959.226

1.156.653

499.873

856.091

-

Sumber: Statistik Perkebunan Indonesia 2013-2015

 

FWI (Forest Watch Indonesia, 2013) mencatat dalam kurun waktu 2009-2013 telah terjadi pelepasan kawasan hutan untuk perkebunan seluas 579.700 hektare (ha), dan paling luas terjadi di Kalimantan yaitu mencapai 192.000 hektare. Kebijakan ini memberi keleluasaan perubahan penggunaan lahan dan konversi hutan secara besar-besaran. Meskipun legal, namun acapkali menimbulkan persoalan lingkungan maupun sosial. Sehingga luas pertanian dan hutan akan mendorong Indeks Kualitas Lingkungan Hidup menurun walaupun hal tersebut mendorong meningkatnya PDRB sektor Pertanian dan Kehutanan di Kalimantan Barat.

4.8.2. Pengaruh PDRB Industri dan pengolahan Terhadap IKLH Di Kalimantan Barat

Hasil uji t-statistik menunjukkan bahwa hipotesis ketiga (H2) diterima ini menunjukkan PDRB sektor Industri dan Pengolahan berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap Indeks Kualitas Lingkungan Hidup di Provinsi Kalimantan Barat. Hasil ini penelitian ini membuktikan bahwa PDRB sektor Industri dan Pengolahan tidak berpengaruh secara parsial terhadap Indeks Kualitas Lingkungan Hidup. Hasil ini sesuai dengan penelitian yang disampaikan  oleh Katrin Retno Gupito (2012), yang menyatakan sektor industri berpengaruh dan tidak signifikan terhadap (Emisi CO2) perindustrian di kalimantan semakin berkembng mulai dari industri kecil dan besar dengan semakin banyaknya indsutri yang berdiri di setiap daerah yang ada di kalimantan barat bahkan daerah pedesaan telah menghasilkan gas buang limbah industri menjadikan pencemran yang merusak lingkungan dan penyebab polusi. Walaupun disisi lain industri sangat mendatangkan keuantungan yang cukup besar terhadap kontribusi kepada perekonomian Kalimantan Barat. Penelitian ini juga sejalan dengan penelitian Idris (2012).  Yang menyatakan bahwa sektor indutri berpengaruh negatif terhadap kualitas lingkungan yaitu kualitas udara namun tidak signifikan, namun dapat dikatakan bahwa pada aha awal pertumbuhan ekonomi akan diikuti oleh penurunan kualitas udara sampai batas waktu tertentu namun setelah melampaui batas waktu tertentu kemudian peningkatan pertumbuhan ekonomi akan diikuti oleh peningkatan indeks kualitas udara yang sangat lambat. Penelitian ini sejalan dengan teori Enviromental Kuznets Curve yang menggambarkan hubungan antara pertumbuhan ekonomi dengan degradasi lingkungan yaitu ketika pendapatan negara masih tergolong rendah, maka perhatian suatu negara atau daerah akan tertuju bagaimana cara meningkatkan pendapatannya, baik melalui produksi, investasi yang mendorong terjadinya peningkatan pendapatan dengan mengesampingkan permasalahan kualitas lingkungan. Akibatnya pertumbuhan pendapatan akan diikuti oleh kenaikan polusi atau menurunnya kualitas lingkungan dan kemudian menurun lagi dengan pertumbuhan yang tetap berjalan (Mason dan Swanson, 2003).

Hal ini menunjukkan bahwa meningkatnya PDRB sektor Indutri dan Pengolahan juga akan meningkatkan Indeks Kualitas Lingkungan Hidup di Kalimantan Barat. Sebaliknya menurunnya PDRB sektor Industri Dan Pengolahan akan menurunkan  Indeks Kualitas Lingkungan Hidup. Dapat diketahui bahwa jumlah sektor industri terus mengalami peningkatan selama beberapa tahun terakhir yaitu pada tahun 2008 terdiri sebanyak 120 perusahaan dan pada tahun 2015 mencapai 147 perusahaan industri besar dan sedang, ini tercatat bahwa   sebesar 48,98 persen perusahaan IBS (indsutri besar dan sedang) dikuasai oleh industri makanan dan pabrik pengoalahan kelapa sawit, dan sebayak 14,96 persen dikuasai oleh industry karet dan barang karet, data ini diperoleh dari Dinas Perindustrian Kalimantan Barat tahun 2015. Walaupun angka PDRB industri terus meningkat tidak mendorong kualitas lingkungan hidup untuk menurun.

4.8.3. Pengaruh PDRB transportasi dan pergudangan Terhadap IKLH Kalimantan Barat  

Berdasarkan Hasil uji t-statistik menunjukkan bahwa hipotesis ketiga (H3) ditolak yang menyatakan bahwa PDRB sektor Transportasi dan Pergudangan berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap Indeks Kualitas Lingkungan Hidup di Provinsi Kalimantan Barat. Hasil ini penelitian ini membuktikan bahwa PDRB sektor Transportasi dan Pergudangan tidak berpengaruh secara parsial terhadap Indeks Kualitas Lingkungan Hidup. hasil ini tidak sejalan dengan yang dikemukakan oleh Lamhot Hutabarat (2010), yang menyatakan bahwa Pendapatan Domestik Bruto (PDB) memiliki pengaruh secara negatif dan signifikan terhadap kualitas lingkungan hidup melalui emisi CO2. Apabila PDB mengalami kenaikan sebanyak 1 persen maka kualitas lingkungan hidup mengalami penurunan sebesar 9,11 persen. Hasil tersebut memperlihatkan bahwa pertumbuhan ekonomi mendorong tingginya penurunan tingkat Kualitas Lingkungan Hidup dan meningkatkan emisi CO2. ini sejalan dengan penelitian Katrin Retno   (2013) yang menyatakan bahwa transportasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap Emisi CO2 yaitu semakin meningkatnya transportasi maka akan meningkatkan Emisi   CO2atau akan menurunkan indeks kuaitas lingkungan.

Hal ini menunjukkan bahwa meningkatnya PDRB sektor Transportasi dan pergudangan tidak   berpengaruh signifikan terhadap Indeks Kualitas Lingkungan Hidup di Kalimantan Barat. Sebaliknya menurunnya PDRB sektor transportasi dan pergudangan belum tentu meningkatkan Indeks Kualitas Lingkungan Hidup. Sehingga meskipun PDRB sektor Transportasi dan Pergudangan meningkat belum tentu akan mendorong menurunnya Kualitas Lingkungan Hidup Kalimantan Barat. Dapat dipahami bahwa jumlah transportasi di Kalimantan Barat pada tahun 2013 mencapai 1.825.440 unit dan pada tahun 2017 meningkat menjadi 2.333.993 unit (BPS Kalimantan Barat, 2017). Angka transportasi yang paling mendominasi ialah kendaraan roda dua dan angka terbanyak berada di kota Pontianak yaitu sebanyak 506.154 unit. Namun angka ini tidak   berpengaruh terhadap menurunnya indeks kualitas lingkungan hidup Kalimantan Barat sebab PDRB sektor transportasi dan pergudangan tidak mendorong indeks kualitas lingkungan hidup menurun walaupun, hal tersebut mendorong meningkatnya PDRB sektor transportasi dan pergudangan di Kalimantan Barat

4.8.4. Pengaruh PDRB pertambangan dan penggalian Terhadap IKLH Di Kalimantan Barat

        Berdasarkan Hasil uji t-statistik menunjukkan bahwa hipotesis keempat (H4) ditolak yang berarti bahwa PDRB sektor Pertambangan dan Penggalian berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap Indeks Kualitas Lingkungan Hidup di Provinsi Kalimantan Barat. Hasil ini membuktikan bahwa PDRB sektor Pertambangan dan Penggalian tidak berpengaruh secara parsial terhadap Indeks Kualitas Lingkungan Hidup. tidak sejalan dengan dengan teori yang dikemukakan oleh Maryani (2007), yaitu apabila terjadinya penurunan kualitas lingkungan atau penurunan kualitas tanah akan sangat berdampak pada kehidupan sosial ekonomi masyarakat karena dengan menurunnya fungsi daya guna lahan berarti juga menurunkan sumber pendapatan masyarakat yang bergantung pada sumber daya alam. sejalan dengan penelitian idris (2012), yang menyatakan bahwa hubungan positif tidak signifikan antara pertumbuhan ekonomi dengan indeks kualitas air yang disebabkan oleh adanya kegiatan eksplotasi kekayaan pertambangan di indonesia.

Hal ini menunjukkan bahwa meningkatnya PDRB sektor Pertambangan dan Penggalian tidak  berpengaruh secara signifikan terhadap Indeks Kualitas Lingkungan Hidup di Kalimantan Barat. Sebaliknya menurunnya PDRB sektor Pertambangan dan Penggalian tidak   meningkatkan angka Indeks Kualitas Lingkungan Hidup Kalimantan Barat. Sehingga meskipun PDRB sektor Pertambangan dan Penggalian meningkat tidak mendorong menurunnya angka Indeks Kualitas Lingkungan Hidup Kalimantan Barat. Dapat dipahami bahwa jumlah pertambangan yang paling besar di Kalimantan Barat ialah di Kabupaten Ketapang menurut hasil riset swandiri institute (2013) jumlah unit tambang 156 unit dengan luasan   mencapai 1.332.231,50 hektar dan Luas Tambang di daerah Kalimantan Barat   sendiri mencapai 5,07 juta hektar. Kegiatan ini tidak mendorong angka Indeks Kualitas Lingkungan Hidup menurun walaupun hal tersebut mendorong meningkatnya PDRB sektor pertambangan dan penggalian di Kalimantan Barat atau di karenakan keterbatasan data sehingga data pertambangan yang ada dikalimantan barat tidak mencakup keseluruhan masuk kedalam indeks kualitas lingkungan hidup Kalimantan Barat.

 

PENUTUP

Kesimpulan

Berdasarkan hasil uji simultan menunjukkah bahwa PDRB pertanian dan kehutanan, PDRB industri dan pengolahan, PDRB transportasi dan pergudangan serta PDRB pertambangan dan penggalian berpengaruh terhadap IKLH di Kalimantan Barat berpengaruh terhadap IKLH di Kaliamantan Barat. Selain itu uji determinasi menunjukkan bahwa 88,5% variabel bebas mempengaruhi variabel dependent (IKLH), sisanya dipengaruhi oleh variabel diluar variabel independent.

Saran

Dalam meningkatkan Indeks Kualitas Lingkungan Hidup Kalimantan Barat diharapkan bukan hanya angka statistik namun realita Indeks Kualitas Lingkungan Hidup Kalimantan Barat yang juga harus dalam keadaan baik. Dilakukan perbaikan dan pengembangan yang baik oleh pemerintah daerah ataupun masyarakat dalam meningkatkan Indeks Kualitas Lingkungan Hidup Kalimantan Barat disamping meningkatnya PDRB setiap sektor yang ada di Kalimantan Barat.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Barat. (2012). Kalimantan Barat dalam Angka. Pontianak: BPS.

"¦"¦"¦"¦"¦"¦"¦.(2013). Kalimantan Barat Dalam Angka.  Pontianak: BPS.

"¦"¦"¦"¦"¦"¦"¦.(2014). Kalimantan Barat Dalam Angka.  Pontianak: BPS.

"¦"¦"¦"¦"¦"¦"¦.(2015). Kalimantan Barat Dalam Angka . Pontianak: BPS.

"¦"¦"¦"¦"¦"¦"¦.(2016). Kalimantan Barat Dalam Angka. Pontianak: BPS.

"¦"¦"¦"¦"¦"¦"¦.(2017). Kalimantan Barat Dalam Angka.  Pontianak: BPS.

Gujarati, Damodar. 2003. Ekonometrika Dasar (Terjemahan Sumarno Zain). Jakarta.

Gupito, Katrin Retno. (2012). Keterkaitan PDRB Perkapita Dari Sektor Industri,Transportasi, Pertanian dan Kehutanan Terhadap Kualitas Lingkungan Diukur Dari Emisi Coâ‚‚ ( Studi kasus di : 30 Kab/Kota Provinsi Jawa Tengah Tahun 2009-2010, Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro. Volume. 2 No. I. Semarang.

Hutabarat, Lamhot. (2010). Pengaruh PDRB Sektor Industri Terhadap Kualitas Lingkungan Ditinjau Dari Emisi Sulfur dan CO2 di Lima Negara Anggota Asean Periode 1980-2000 (Skripsi Publikasi). Skripsi Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro.

Kementerian Lingkungan Hidup Indonesia, (2012). Laporan Indeks Kualitas Lingkungan Hidup Indonesia. Kementerian Lingkungan Hidup Indonesia, Jakarta.

................................, (2013). Laporan Indeks Kualitas Lingkungan Hidup Indonesia. Kementerian Lingkungan Hidup Indonesia, Jakarta.

................................, (2014). Laporan Indeks Kualitas Lingkungan Hidup Indonesia. Kementerian Lingkungan Hidup Indonesia, Jakarta.

................................, (2015). Laporan Indeks Kualitas Lingkungan Hidup Indonesia. Kementerian Lingkungan Hidup Indonesia, Jakarta.

................................, (2016). Laporan Indeks Kualitas Lingkungan Hidup Indonesia. Kementerian Lingkungan Hidup Indonesia, Jakarta.

................................, (2017). Laporan Indeks Kualitas Lingkungan Hidup Indonesia. Kementerian Lingkungan Hidup Indonesia, Jakarta.

Mankiw, N. Gregory. 2003. Teori Makroekonomi, Edisi kelima, Diterjemahkan oleh Imam Nurmawan, Erlangga, Jakarta.

Soekirno, Sadono, (2002), "Mikroekonomi" .PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Sukirno, Sadono. (2004). Pengantar Teori Makroekonomi, Edisi ketiga. Rajagrafindo Persada, Jakarta.

Prasurya, R. A. (2016). Analisis Pengaruh PDRB Terhadap Kualitas Lingkungan Hidup Di Pulau Sumatera Tahun 2010-2014, (Skripsi Publikasi). Fakultas Ekonomi Dan Bisnis   Universitas Lampung, Indonesia.

Suliyanto, (2011), "Ekonomi Terapan: Teori dan Aplikasi dengan SPSS". CV. ANDI OFFSET, Yogyakarta.

www.disbun.kalbarprov.go.id diakses pada tanggal 02 Desember 2018

Ant. (2016). Kalimantan Barat surga perkebunan sawit. diakses dari: Https://Economy.Okezone.Com

Suliyanto, (2011), "Ekonomi Terapan: Teori dan Aplikasi dengan SPSS". CV. Andi Offset, Yogyakarta.

Todaro, Michael P. (2009). Pembangunan Ekonomi Dunia Ketiga, Edisi Kesembilan, Erlangga Jakarta.

Http://Id.Wikibooks.Org Diakses Pada Tanggal 20 Desember 2018

Http://Id.Wikipedia.Org Diakses Pada Tanggal 22 Desember 2018

Http://Amdalterhadaplingkungan.Blogspot.Com/ Diakses Pada Tanggal   14 Desember 2018

Http: Indahladiesoloi.Blogspot.Com/ Diakses Pada Tangga 04 Januari 2019

Norman, Robert T. Deacon and Cathrine S, (2004), Does The Enviromental Kuznets Curve Describe How Individual Countries Behave?", Departmen Of Economics University Of California.

Idris, (2003). Enviromental Kuznet Curve: Bukti Empiris Hubungan Antara Pertumbuhan Ekonomi Dan Kualitas Lingkungan Di Indonesia, artikel jurnal ECONOMAC, Volume II No.2 FE UNP Padang.

Damayanti, Riza dan Chamid, Mutiah. (2016). Analisis pola hubungan PDRB dengan faktor pencemaran lingkungan di Indonesia menggunakan penekatan Geographically weighted regression (GWR), Volume 5. No.1. FMIPA Institut teknologi sepuluh nopember (ITS), Surabaya.

Https://www.Mongabay.co.iddiakses pada tanggal 07 Februari 2019

Https://Sawitindonesia.ComDiakses Pada Tanggal 06 Februari 2019

Http://Www.Incas-Indonesia.Org Diakses Pada Tanggal 06 Februari 2019

Http://Fwi.Or.Id Diakses Pada Tanggal 05 Februari 2019

Https://Forestsnews.Cifor.Org Diakses Pada Tanggal 06 Februari 2019

 

Published

2019-03-25