PELAKSANAAN UPACARA ADAT "PAULAK UNE DAN MANINGKIR TANGGA" PADA PERKAWINAN MASYARAKAT ADAT BATAK TOBA DI KOTA PONTIANAK

Authors

  • LENI TASYA NATALIA NIM. A1011181040 Faculty of Law Tanjungpura University

Abstract

Abstrac The Batak Toba community is known for its strong traditional customs, especially in marriage ceremonies. Among these are Paulak Une and Maningkir Tangga, which are post-wedding stages rich in symbolic and social meanings. However, in the context of migration, such as in Pontianak City, the implementation of these ceremonies has shifted from their original forms in the bona pasogit (homeland). This study aims to examine the conformity of the Paulak Une and Maningkir Tangga ceremonies in Pontianak with the original customary rules, to identify the factors causing these shifts, to analyze the legal implications if the ceremonies are not carried out, and to explore the preservation efforts made by the Batak Toba Cultural Council (Majelis Adat Budaya Batak Toba / MABBT). This research applies an empirical legal method with a descriptive qualitative approach through interviews, observations, and questionnaires. The results show that these ceremonies are still performed by the community but are now combined into a single day with the traditional wedding ceremony (ulaon unjuk) due to modernization, economic, and geographical factors. The inconsistency in conducting the ceremonies results in customary consequences and moral sanctions for those who do not observe them. MABBT plays an active role in cultural preservation through socialization and community assistance to ensure that Batak Toba cultural values remain alive amid changing times. Keywords: Paulak Une, Maningkir Tangga, Traditional Marriage, Customary Shift. Abstrak Masyarakat Batak Toba dikenal memiliki adat istiadat yang kuat, terutama dalam upacara perkawinan. Salah satu di antaranya ialah paulak une dan maningkir tangga, yaitu tahapan pasca-perkawinan yang sarat makna simbolik dan sosial. Namun, dalam konteks perantauan seperti di Kota Pontianak, pelaksanaan kedua upacara tersebut mengalami pergeseran dari bentuk aslinya di bona pasogit (kampung halaman). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesesuaian pelaksanaan upacara adat paulak une dan maningkir tangga di Kota Pontianak dengan ketentuan adat aslinya, mengidentifikasi faktor penyebab pergeseran, menelaah akibat hukum jika tidak dilaksanakan, serta mengetahui upaya pelestarian yang dilakukan oleh Majelis Adat Budaya Batak Toba (MABBT). Penelitian ini menggunakan metode yuridis empiris dengan pendekatan kualitatif deskriptif melalui wawancara, observasi, dan penyebaran angket. Hasil penelitian menunjukkan bahwa upacara masih dilaksanakan oleh masyarakat, tetapi digabung dalam satu hari dengan pesta adat perkawinan (ulaon unjuk) karena faktor modernisasi, ekonomi, dan geografis. Ketidaksesuaian pelaksanaan menimbulkan konsekuensi adat serta adanya sanksi moral jika tidak melaksanakan adat tersebut. MABBT berperan aktif dalam pelestarian adat melalui sosialisasi dan pendampingan agar nilai budaya Batak Toba tetap hidup di tengah perubahan zaman. Kata Kunci: Paulak Une, Maningkir Tangga, Perkawinan Adat, Pergeseran Adat

References

DAFTAR PUSTAKA

BUKU-BUKU

Bambang Waluyo. 2002. Penelitian Hukum Dalam Praktek. Jakarta: Sinar Grafika,

Departemen Pendidikan Nasional. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

G.M.P. Simangunsong. 2011. Batak Habatahon. Jakarta: Gematama.

Hilman Hadikusuma. 2003. Pengantar Ilmu Hukum Adat Indonesia. Bandung: Mandar Maju, Cetakan Kedua.

I Gede AB Wiranata. 2005. Hukum Adat Indonesia Perkembangannya dari Masa ke Masa. Bandung: Citra Aditya Bakti.

………….. 2005. Hukum Adat Indonesia Perkembangannya dari Masa ke Masa. Bandung: Citra Aditya Bakti.

Iman Sudiyat. 2007. Hukum Adat Sketsa Asas. Yogyakarta: Liberty.

J. C Vergouwen. 1986. Masyarakat dan Hukum Adat Batak Toba. Pustaka Azet.

………….. 2004. Masyarakat dan Hukum Adat Batak Toba, ed. Fuad Mustafid. Yogyakarta: LKIS

Koentjaraningrat. 2009. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.

Marhaeni. 2020. Hukum Adat Dalam Perkembangannya. Jakarta: Universitas Masa ke Masa. Bandung: Citra Aditya Bakti.

Moh. Nazir. Ph. D. 2003. Metode Penelitian. Jakarta: PT. Ghalia Indonesia.

Paimin Napitupulu dan Edison Hutauruk. 2018. Pedoman Praktis Upacara Adat Batak. Medan: Pustaka Batak.

Pred N Kelinger. 2010. Pengantar Metode Penelitian Hukum. Jakarta: Rajawali.

Rachmat Kriyantono. 2014. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Ronny Hanitijo Soemitro. 1985. Metode Penelitian Hukum. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Rosady Ruslan. 2006. Metode Penelitian: Public Relations & Komunikasi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

S.P. Wasis. 2002. Pengantar Ilmu Hukum. Malang:Umm Pres.

Soepomo. 1983. Bab-Bab Tentang Hukum Adat. Jakarta: Pradnya Paramita.

Soerjono Soekanto. 1982. Pengantar Penelitian Hukum. UI pers.

Soerojo Wignjodipoero. 1995. Pengantar dan Asas-asas Hukum Adat. Jakarta: PT.Gunung.

Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.

………….. 2019. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Suharsimi Arikunto, S. 2019. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka cipta.

Suriyaman Masturi Pide. 2017. Hukum Adat Dahulu, Kini, dan Akan Datang. Jakarta: Kencana.

Tolib Setiady. 2009. Intisari Hukum Adat Indonesia. Bandung: Alfabeta.

………….. 2009. Intisari Hukum Adat Indonesia dalam Kajian Kepustakaan. Bandung: Alfabeta.

Yulia. 2016. Buku Ajar Hukum Adat. Aceh: Penerbit Unimal Press.

Jurnal, Karya Ilmiah

Ayu Fitri, Isjoni, dan Bunari, “Penerapan Filosofi Adat Dalihan Natolu dalam Kehidupan Masyarakat Batak Toba di Kecamatan Pinggir Kabupaten Bengkalis,†JISHUM (Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora) 1, no. 3 (Maret 2023): 435–452.

Ayu Fitri, Isjoni, dan Bunari, “Penerapan Filosofi Adat Dalihan Natolu dalam Kehidupan Masyarakat Batak Toba di Kecamatan Pinggir Kabupaten Bengkalis,†JISHUM (Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora) 1(3) (2023): 435–452.

Fitri, A., Isjoni, & Bunari. 2023. Penerapan filosofi adat Dalihan Natolu dalam kehidupan masyarakat Batak Toba di Kecamatan Pinggir Kabupaten Bengkalis. JISHUM (Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora), 1(3), 435–452.

Friska Widyawaty Hutagaol, Erfina Nurussa’adah. 2021. â€Etnografi Komunikasi Tradisi Pariban dalam Pernikahan Adat Suku Batak Tobaâ€. Journal Unwira, 2(2). Hlm:141-158

Hasanah, I. N., Ferina, F. A., Syahar, A. A., Sinta, & Setiyoko, D. T. (2025). Kearifan lokal dalam tradisi upacara adat pada masyarakat Desa Jalawastu. Journal on Education, 7(2), 10257–10264.

Hasbuddin Khalid, “Analisis Hukum Tentang Perkawinan Endogami Dalam Perspektif Hukum Adat,†UNES Journal of Swara Justisia 7, no. 3 (2023): 968–975

Muhammad Erfan, Nor Fadillah, dan Fitriah, “Hukum Adat di Indonesia: Aspek, Teori, dan Penerapan,†Maqashiduna: Jurnal Hukum Keluarga Islam 2(2) (2024): 109–121.

Oktovia, D., Dora, N., Nasution, S. H., & Ruwina, Y. (2025). Dalihan Na Tolu sebagai falsafah etnik Batak di Sumatera Utara. Jurnal Ilmiah Nusantara (JINU), 2(2), 462–467

Sembiring, E., & Christina, V. (2023). Kedudukan hukum perkawinan adat di dalam sistem hukum perkawinan nasional menurut UU No. 1 Tahun 1974. Journal of Law, Society and Islamic Civilization, 2(2), 72–94.

Theovanni Indah M. Lumbantobing, Lina Yanti Waruwu, Sarmila Hasibuan, Wilda Putriyansyah Hasibuan, Dina Febry Sofyanti, Henny Sari, dan Julia Ivanna, “Cerminan Filosofi Batak Toba ‘Dalihan Natolu’ Terhadap Nilai-Nilai Luhur Bangsa Indonesia,†Journal of Law & Policy Review 1, no. 1 (2023): 25–32.

Wiwit Juliana Sari, Yeti Kurniati, & Tejo, E. S. (2024). Eksistensi Perkawinan Adat di Tengah Pengaruh Hukum Nasional: Studi Perbandingan di Beberapa Daerah Indonesia. Jurnal Ilmu Hukum, Humaniora Dan Politik, 5(2), 1257–1266.

Internet

Bridestory, “45 Tradisi dan Adat Pernikahan Unik dari Penjuru Indonesia,†Bridestory.com,, diakses pada 30 Juli 2025.

Katadata, "12% Penduduk Kalimantan Barat Ada di Kota Pontianak pada Juni 2024," Databoks, 21 Juni 2024. https://databoks.katadata.co.id/demografi/statistik/d963193f80af441/12-penduduk-kalimantan-barat-ada-di-kota-pontianak-pada-juni-2024, diakses pada 30 Juli 2025.

Published

2025-10-09