STUDI KOMPARATIF TENTANG SYIBHUL ‘IDDAH BAGI LAKI-LAKI ANTARA HUKUM ISLAM DAN KOMPILASI HUKUM ISLAM

Authors

  • NARATAMA RIZKI PUTRA NIM. A1011211135 Faculty of Law Tanjungpura University

Abstract

Abstract This study is motivated by unequal treatment between men and women in the application of ‘iddah within Islamic law. Classical Islamic jurisprudence generally imposes the obligation of ‘iddah solely on women, while men are not subject to any waiting period after divorce. However, several contemporary scholars, including Wahbah az-Zuhaili, have introduced the concept of syibhul ‘iddah for men under certain conditions, such as the prohibition of marrying women who are closely related to a former wife or when a man has already reached the maximum number of four wives. This study aims to examine the similarities and differences in the concept of syibhul ‘iddah for men between Islamic law and the Compilation of Islamic Law (KHI), as well as to analyze the strengths and weaknesses of its regulation in both legal systems. This research employs a qualitative method with a normative legal approach. It is descriptive-comparative in nature and applies statutory, conceptual, and comparative approaches. Data are collected through library research by examining primary legal sources and relevant secondary literature. The findings indicate that both Islamic law and the KHI recognize the existence of a waiting period for men after divorce before remarrying, which serves to preserve public welfare (maṣlaḥah), prevent lineage ambiguity, and protect women’s rights. Islamic law conceptualizes syibhul ‘iddah as a normative-theological doctrine derived from scholarly ijtihād, emphasizing moral awareness and individual responsibility. While this approach offers ethical flexibility, it lacks legal certainty and administrative enforceability. In contrast, the KHI regulates syibhul ‘iddah through binding written legal norms supported by institutional mechanisms such as the Religious Courts and the Office of Religious Affairs, thereby ensuring legal certainty and juridical protection for women and children, although it places greater emphasis on legal-formal aspects than on moral and spiritual dimensions. Overall, the study concludes that both legal systems are complementary in promoting justice and order within Islamic family law in Indonesia. Keywords: compilation of islamic law, islamic law, syibh al-‘iddah   Abstrak Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya perbedaan perlakuan antara laki-laki dan perempuan dalam pelaksanaan ‘iddah dalam hukum Islam. Dalam fikih klasik, kewajiban ‘iddah hanya dibebankan kepada perempuan, sementara laki-laki tidak dikenai masa tunggu. Namun, sejumlah ulama kontemporer, seperti Wahbah az-Zuhaili, mengemukakan adanya kondisi tertentu yang menyerupai syibhul ‘iddah bagi laki-laki, antara lain larangan menikahi perempuan yang memiliki hubungan mahram dengan mantan istri atau ketika laki-laki telah memiliki empat istri. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini mengkaji persamaan dan perbedaan konsep syibhul ‘iddah bagi laki-laki antara hukum Islam dan Kompilasi Hukum Islam (KHI), serta menganalisis kelebihan dan kekurangannya dalam kedua sistem hukum tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan normatif. Penelitian ini bersifat deskriptif-komparatif dengan menggunakan pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan perbandingan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi kepustakaan dengan menelaah sumber-sumber primer dan literatur sekunder yang relevan dengan tema penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hukum Islam dan Kompilasi Hukum Islam sama-sama mengakui adanya masa tunggu bagi laki-laki pasca perceraian sebelum menikah kembali, dengan tujuan menjaga kemaslahatan, mencegah kerancuan nasab, dan melindungi hak-hak perempuan. Hukum Islam memandang syibhul ‘iddah sebagai konsep normatif-teologis yang bersumber dari ijtihad ulama dan menekankan kesadaran moral serta tanggung jawab individual, sehingga bersifat fleksibel namun lemah dalam aspek kepastian hukum dan administrasi. Sebaliknya, KHI mengatur syibhul ‘iddah secara formal dan mengikat melalui mekanisme kelembagaan, sehingga memberikan kepastian hukum dan perlindungan yuridis, meskipun cenderung menitikberatkan pada aspek legal-formal. Temuan ini menegaskan bahwa kedua sistem hukum tersebut bersifat saling melengkapi dalam mewujudkan keadilan dan ketertiban hukum keluarga Islam di Indonesia. Kata kunci: hukum islam, kompilasi hukum islam, syibhul ‘iddah

References

DAFTAR PUSTAKA

BUKU

Abdul Manan. 2011. Fiqih Lintas Madzhab: Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hambali, Juz

Kediri: PP Al-Falah Ploso Mojo.

Abdulkadir Muhammad. 2004. Hukum dan Penelitian Hukum. Cetakan. III, Bandung: Citra Aditya Bakti.

Abdurrahman Al-Jaziri. 2015. Fikih Empat Madzhab, Terj. Faisal Saleh, Lc, M.Si,

Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.

Abū Hāmid Al-Ghazālī. 1980. al-Mustaṣfā min Ilm al-Uṣūl. Beirut: Dār al Kutub al-Ilmiyah.

Ahmad Azhar Basyir, 1999. Hukum Perkawinan Islam, Yogyakarta: UII Pres. Ahmad Azhar. 1999. Hukum Perkawinan Islam ,Cet. 9, Yogyakarta: UII Press.

Bahder Johan Nasution. 2008. Metodologi Penelitian Ilmu Hukum. Bandung: CV Mandar Maju.

Dewi Sadiah. 2015. Metode Penelitian Dakwah Pendekatan Kualitatif Dan Kuantitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.

H.M.Hasbi Umar. 2007. Nalar Fiqh Kontemporer, Cet. I; Jakarta: Gaung Persada Press.

Iffah Muzammil. 2019. Fiqh Munakahat (Hukum Pernikahan Dalam Islam).

Tangerang: Tira Smart.

Irwansyah. 2021. Penelitian Hukum. Yogyakarta: Mirra Buana Media.

Lidwa Pusaka, Ensiklopedi Hadis Kitab 9 Imam, [CD ROM], Shahih Bukhari hadis.

M. Nazir. 2014. Metode Penelitian. Bogor: Ghalia Indonesia.

Mahmud Yunus, 1989. Kamus Arab Indonesia. Jakarta: Karya Agung.

Moh. Ali Wafa. 2018. Hukum Perkawinan Di Indonesia: Sebuah Kajian Dalam Hukum Islam Dan Hukum Materil. Tangerang Selatan: YASMI.

Muhamad Azrul Fauzan. 2025. Syibhul ‘Iddah Dalam Pemikiran Wahbah Az- Zuhaili Dan Peraturan Di Indonesia,UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Muhamad Isna Wahyudi, 2009, Fiqh Iddah : Klasik dan Kontemporer. Pustaka Pesantren.

Muhammad Syaifuddin, Sri Turatmiyah, & Annalisa Yahanan. (2022). Hukum Perceraian. Sinar Grafika.

Mukhsin, Nyak Umar. 2017. Al-Maslahah Al-Mursalah: Kajian Atas Relevansinya dengan Pembaharuan Hukum Islam. Banda Aceh: Turats.

Ramli. 2021. Ushul Fiqh. Yogyakarta: Nuta Media.

Rusdaya Basri. 2019. Ushul Fikih 1, Parepare: IAIN Parepare Press.

Rusdaya, Basri. 2020. Fikih Munakahat 2, (Parepare: IAIN Parepare Nusantara Press.

Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji. 2004. Penelitian Hukum Normatif: Suatu Tinjauan Singkat. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Soerjono Soekanto,. 2010. Pengantar Penelitian Hukum. Jakarta: Universitas Indonesia.

Tgk. Safriadi. 2021. Maqashid Al- Syari’ah dan Mashlahah: Kajian terhadap Pemikiran Ibnu ‘Asyur dan Sa’id Ramadhan Al-Buthi. Lhokseumawe: Sefa Bumi Persada.

Wahbah Az-Zuḥaīlī, 1996. al-Fiqḥ al-Islāmī wa Adillatuhu. Damaskus: Dār al-Fiqr.

Wahbah Az-Zuhaili. 2011. Fiqih Islam Wa Adillatuhu, Penerjemah, Abdul Hayyie al- Kattani, dkk ; penyunting, Budi Permadi. Jakarta: Gema Insani.

Wahbah Zuhaili, 2006. al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, Libanon: Darl Fikr.

Yusroh dan Haaniyatur Roosyidah. 2020. ‘iddah dan Ihdad Dalam Mazhab Syafi’I dan Hanafi. Yogyakarta: Penerbit Simpang.

ARTIKEL JURNAL

Ahmad Khoiri dan Asyharul Muala. 2020. “Iddah dan Ihdad Bagi Wanita Karir Perspektif Hukum Islam.” JIL: Journal of Islamic Law, 1(2).

Asiyah dkk., 2023. “Syibhul ‘Iddah Bagi Suami Dalam Perspektif Maqashid Al- Syariah,” NUR EL-ISLAM : Jurnal Pendidikan Dan Sosial Keagamaan, 10(1).

Deky Pramana, Abnan Pancasilawati, Lilik Andar Yuni. 2024. “Perbandingan Konsep Syibhul ‘Iddah dalam KHI dan Surat Edaran Dirjen Bimas Islam (Prespektif Maqāṣid Syarī’ah),” Maqasid: Jurnal Studi Hukum Islam, 13(1).

Habib Ismail dan Nur Alfi Khotamin, 2017. “Faktor Dan Dampak Perkawinan Dalam Masa Iddah (Studi Kasus Di Kecamatan Trimurjo Lampung Tengah).” Jurnal Mahkamah : Kajian Ilmu Hukum Dan Hukum Islam, 2(1).

Imron Rosyadi. 2012. Maslahah Mursalah sebagai Dalil Hukum, jurnal SUHUF, 24(1).

Khairuddin. 2024. ‘Iddah Bagi Laki-Laki: Studi Komparasi Wahbah Zuhaili dan Faqihuddin Abdul Kodir, Abdurrauf Journal Of Islamic Studies, 3(1).

Riha Nadhifah Minnuril Jannah dan Naning Faiqoh, 2021. “Pendekatan Keadilan Gender Pada Penerapan Iddah Ditinjau Dari Studi Islam,” Urwatul Wutsqo: Jurnal Studi Kependidikan Dan Keislaman, 10(1).

Sartina, Lilik Andaryani. 2022. “Konsep Syibhul ‘iddah Bagi Laki-Laki Ditinjau dari Hukum Islam”, Jurnal Tana Mana, 3(2).

Wardah Nuroniyah, 2018. “Diskursus ’Iddah Berpersepktif Gender: Membaca Ulang ’Iddah Dengan Metode Dalalah alNass.” Al-Manahij: Jurnal Kajian Hukum Islam, 12(2).

DOKUMEN HUKUM

Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1991 tentang Penyebarluasan Kompilasi Hukum Islam.

Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1975 Tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan.

Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan.

Downloads

Published

2026-03-16