ADAT ISTIADAT SAPRAHAN PERNIKAHAN PADA MASYARAKAT MELAYU DESA TUMUK MANGGIS KECAMATAN SAMBAS
Abstract
Abstract
In the saprahan tradition, there are equipment used, such as saprahan cloth, saprah plates, side dish plates, drinking water cups, rice spoons, side dish spoons, large trays, small trays, and napkins. The types of saprahan can also be distinguished based on the shape and type of dish. There are daily saprahan, kaccik day saprahan, and big day saprahan. The Sambas Malay saprahan tradition has moral education values contained in it, such as mutual cooperation (ta'awun), respecting guests (ikram dhuyuf), and togetherness (ma'iyah). Saprahan also symbolizes the values of Islamic teachings, with saprahan properties and processions.
So the main problem in this writing is: "Are the Saprahan Customs in the Malay Community in Tumuk Manggis Village, Sambas District, Sambas Regency Still Implemented according to the original customary provisions? The objectives of this research are as follows: To obtain data and information, causal factors, legal consequences and legal efforts regarding the Saprahan Customs in the Malay Community of Tumuk Manggis Village, Sambas District. This study used an empirical legal research method, with a descriptive research nature and qualitative data analysis.
The results of the study were that the saprahan customs in the Sambas Malay community in Tumuk Manggis Village, Sambas District, are still carried out even though they have experienced several shifts, namely the loss of one of the stages or series in the Implementation of the Saprahan Customs of the Sambas Malay Community; That the factors that caused the shift in the Implementation of the Saprahan Customs of the Malay Community in Tumuk Manggis Village, Sambas District, Sambas Regency, namely due to the development of the era; That the legal consequences for couples who do not carry out the Saprahan Customs in their entirety are the loss of connection with culture and identity, the saprahan customs are an important part of the cultural heritage and identity of a group. By not carrying out the saprahan customs, couples may lose connection with their own culture and identity. This can reduce their sense of pride and understanding of their cultural roots, while negative reactions from the community: not carrying out the saprahan customs can cause negative reactions from the community, especially from those who strongly adhere to traditional values. couples may face criticism or judgment from their surroundings, which can affect their social relationships and the support they receive; and the efforts of the Malay indigenous community to maintain and preserve the saprahan customs as an important part of their identity and cultural heritage. They realize the importance of maintaining the sustainability of customs so that they remain alive and passed on to future generations.
Keywords: Custom, Saprahan, Sambas Malay
Abstrak
Dalam tradisi saprahan, terdapat peralatan yang digunakan, seperti kain saprahan, pinggan saprah, piring lauk, cawan air minum, sendok nasi, sendok lauk, baki besar, baki kecil, dan serbet. Jenis saprahan juga dapat dibedakan berdasarkan bentuk dan jenis hidangannya. Ada saprahan sehari-hari, saprahan hari kaccik, dan saprahan hari besar. Tradisi saprahan Melayu Sambas memiliki nilai-nilai pendidikan akhlak yang terkandung di dalamnya, seperti gotong royong (ta'awun), menghormati tamu (ikram dhuyuf), dan kebersamaan (ma'iyah). Saprahan juga melambangkan nilai ajaran agama Islam, dengan properti dan prosesi saprahan.
Maka yang menjadi pokok permasalahan dalam penulisan ini adalah: "Apakah Adat Istiadat Saprahan Pada Masyarakat Melayu Di Desa Tumuk Manggis Kecamatan Sambas Kabupaten Sambas Masih Dilaksanakan sesuai ketentuan adat aslinya?. Adapun tujuan penelitian yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah sebagai berikut: Untuk mendapatkan data dan informasi, faktor penyebab, akibat hukum dan upaya hukum tentang Adat Istiadat Saprahan Pada Masyarakat Melayu Desa Tumuk Manggis Kecamatan Sambas. Dalam penelitian ini dipergunakan metode penelitian hukum empiris, dengan sifat penelitian deskriptif dan analisis datanya kualitatif.
Hasil penelitian yang dicapai bahwa adat istiadat saprahan pada masyarakat Melayu Sambas di Desa Tumuk Manggis Kecamatan Sambas masih dilakukan walaupun mengalami beberapa pergeseran yaitu hilangnya salah satu tahapan atau rangkaian dalam Pelaksanaan Adat Istiadat Saprahan Masyarakat Melayu Sambas; Bahwa faktor yang menyebabkan terjadinya pergeseran Pelaksanaan Adat Istiadat Saprahan Masyarakat Melayu di Desa Tumuk Manggis Kecamatan Sambas Kabupaten Sambas.yaitu karena Faktor perkembangan zaman; Bahwa akibat hukum bagi pasangan yang tidak melaksanakan Adat Istiadat Saprahan secara utuh yaitu hilangnya hubungan dengan budaya dan identitas, adat istiadat saprahan merupakan bagian penting dari warisan budaya dan identitas suatu kelompok. Dengan tidak melaksanakan adat istiadat saprahan, pasangan mungkin kehilangan hubungan dengan budaya dan identitas mereka sendiri. Ini dapat mengurangi rasa kebanggaan dan pemahaman tentang akar budaya mereka, sedangkan reaksi negatif dari masyarakat: tidak melaksanakan adat istiadat saprahan dapat menyebabkan reaksi negatif dari masyarakat, terutama dari mereka yang sangat memegang teguh nilai-nilai tradisional. pasangan mungkin menghadapi kritik atau penilaian dari lingkungan sekitar mereka, yang dapat mempengaruhi hubungan sosial dan dukungan yang mereka terima; dan upaya masyarakat adat Melayu berusaha menjaga dan melestarikan adat istiadat saprahan sebagai bagian penting dari identitas dan warisan budaya mereka. Mereka menyadari pentingnya menjaga keberlanjutan adat istiadat agar tetap hidup dan diteruskan kepada generasi mendatang.
Kata Kunci : Adat, Saprahan, Melayu Sambas.
References
DAFTAR PUSTAKA
Literatur
Ali, Zainuddin, 2021, Hukum Perdata Islam Di Indonesia, Jakarta: Sinar Grafika.
Amiruddin Dan Zainal Asikin, 2004, Pengantar Metode Penelitian Hukum, Rajagrafindo Persada, Jakarta.
Aris Bintania, 2012, Hukum Acara Peradilan Agama Dalam Kerangka Fiqih Al-Qadha, Cetakan 1 Rajawali Press, Jakarta.
Asfirmanto W. A., Nurlambang, dan Waryono. 2013. Pengaruh Kondisi Fisik dan Budidaya Terhadap Kualitas Kopi Kintamani dan Gayo (Skripsi). Universitas Indonesia. Depok.
Bambang Danu Nugroho, 2015, Hukum Adat, Refika Aditama, Bandung.
Banks, J. A., 2012, Strategi Mengajar Ilmu Sosial Penyelidikan, Penilaian dan. Pengambilan Keputusan. Bandung: Mutiara Press.
Bushar Muhammad, 2000, Pokok-Pokok Hukum Adat,Pradnya Paramitha, Jakarta.
Cholid Narbuko Dan Abu Achmadi, 2003, Metodologi Penelitian, Jakarta: Pt. Bumi Aksara.
Geertz Clifford,1981, Abangan Santri Priyai Dalam Masyarakat Jawa,Pustaka Jaya, Jakarta.
H. Hilman Hadikusuma,1992,Pengantar Ilmu Hukum Adat, CV. Mandar Maju,Bandung.
Hadari, Alkadri, Asman, Deni Irawan, 2023, Bunga Rampai Perilaku Beragama Masyarakat Melayu Sambas (Sajian Dalam Living Al-Quran, Living Hadis, Hukum Dan Dakwah), Eureka Media Aksara, Jawa Tengah :Probolinggo.
Hamidy, Uu., 1996, Orang Melayu Di Riau, Uir Press.
I Made Widnyana, Hukum Pidana Adat dalam Pembaharuan Hukum Pidana,. PT. Fikahati Aneska, Jakarta.
I Made Winyana, 1995, Eksistensi Tindak Pidana Adat Dan Sanksi Adal Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, Dalam Bunga Rampai Pembangunan Hukum Indoensia, Cetakan Pertama I Made Widnyana, dkk eds), Bandung.
Koentjaraningrat,1990,Pengantar Ilmu Antropologi,Rineka Cipta,Jakarta.
Kosim, 2016, Nilai-Moral Dalam Tradisi Saparan Masyarakat Desa Nogosaren Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang.
Legi Saputra, 2019, Peran Tokoh Masyarakat Dalam Melestarikan Tradisi Saprahan Di Desa Pusaka Kecamatan Tebas. Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan, Universitas Tanjungpura Pontianak.
Masri Singarimbun dan Safian Effendi, 1981, Metode Penelitian Survey Jakarta: LP3ES.
Mun’in, F. 2017. Eksitensi Tradisi Pembacaan Assalai/Asy’rakal Dan Makan Besaprah Pada Pesta Pernikahan Masyarakat Melayu Sambas.
Musa, Pabali,2003,Sejarah Kesultanan Sambas Kalimantan Barat: Kajian Naskah Asal Raja-Raja Dan Salsilah Raja Sambas, Pontianak: Stain Pontianak Press.
Pridaningsih, D. R., 2017, Duduk Sama Rendah, Berdiri Sama Tinggi: Nilai-Nilai Budaya Nelayan & Petambak Di Sambas, Kalimantan Barat, Sabda: Jurnal Kajian Kebudayaan, 3(2). Doi: 10.14710/Sabda.V3i2.13259.
Ria Irawan, 2022, Pergeseran Nilai Tradisi Saprahan Di Desa Lela Kecamatan Teluk Keramat Kabupaten Sambas. Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan, Universitas Tanjungpura Pontianak.
Sanapiah Faisal, 2010, Penelitian Kualitatif Dasar-Dasar Dan Aplikasi, Ya3, Malang.
Seorojo Wignjodipuro,1995, Pengantar Dan Asas-Asas Hukum Adat, Cet.XIV, Gunung Agung, Jakarta.
Soekanto, Soerjano. 2006. Sosiologi Suatu Pengantar.Jakarta: Raja Grafindo. Persada.
Soekanto.2002. Teori Peranan. Jakarta. Bumi Aksara.
Soepomo, 2003, Bab-Bab Tentang Hukum Adat, Pradnya Paramita, Jakarta.
Soerojo Wignjodipoero, 1998 Pengantar Dan Asas-Asas Hukum Adat, Cv. H.Massagung, Jakarta.
Suwaji Bastomi,1992,Seni Dan Budaya Jawa, IKIP Semarang Press, Semarang.
Suwardi Ms, 2008.Dari Melayu Ke Indonesia: Peranan Kebudayaan Melayu Dalam Memperkokoh Identitas Dan Jati Diri Bangsa, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Syahrin, A. A. & Nurida, T. D. (2018). Eksistensi Bahasa Melayu Sambas Dalam Budaya Makan Besaprah Masyarakat Melayu Sambas. Seminar Internasional Riksa Bahasa (Pp. 367-376).
Wahab, W., Erwin, E., & Purwanti, N. (2020). Budaya Saprahan Melayu Sambas: Asal Usul, Prosesi, Properti dan Pendidikan Akhlak. Arfannur, 1(1), 75-86.
Wignjodipoero, Soerojo, 1994, Pengantar dan Asas-asas Hukum Adat. Jakarta: Gunung. Agung.
Wilfridus Josephus Sabaji Poerwandarminta, 1999, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta.
Yunus, R, 2013, Transformasi Nilai-Nilai Budaya Lokal Sebagai Upaya Pembangunan Karakter Bangsa. Jurnal Penelitian Pendidikan, 13(1), 67-79
Zainudin Ali, 2010, Pelaksanaan Hukum Waris Di Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta.
Zuldafrial, 2012, Penelitian Kualitatif, Yuma Pustaka, Surakarta.
Peraturan Perundang-Undangan
Pedoman Penulisan Skripsi Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura.
Peraturan menteri dalam negeri nomor 52 tahun 2007 tentang Pedoman Pelestarian Dan Pengembangan Adat Istiadat Dan Nilai Sosial Budaya Masyarakat.