Analisis Kekritisan Hutan Mangrove Di Kabupaten Mempawah Menggunakan Sistem Informasi Geografis Tahun 2024

Authors

  • Piksy Cheverly Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura
  • Herlina Darwati Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura
  • Siti Puji Lestariningsih Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura

Abstract

Mangrove forests have diverse ecological values and functions for the environment and ecosystem, but climate change and human activities can have an impact on mangrove forests. Mangrove forests in Mempawah Regency show critical conditions in several subdistricts due to timber harvesting by the community. This study aims to analyze the land area and distribution of mangrove forest criticality in Mempawah Regency, particularly in the subdistricts of East Mempawah, Lower Mempawah, and Sungai Kunyit. The methods used in this study were scoring and weighting of three parameters, namely land use type, vegetation density, and soil resistance to abrasion, using Planet Scope and Landsat 8 imagery with the assistance of a geographic information system. The analysis results show two categories of mangrove criticality levels, namely a critical level of 932.82 ha (28.44%) and a non-critical level of 2347 ha (71.56%). Criticality occurs due to land conversion by the community into plantations and ponds, as well as natural events that cause abrasion in coastal areas. Efforts to rehabilitate damaged mangrove areas can be carried out through sustainable mangrove maintenance and education for communities around mangroves on the importance of mangrove forests and the impact of damage on the environment around mangroves. Keywords: Landsat 8, Planet Scope, mangrove, criticality level. Abstrak Hutan mangrove memiliki nilai dan fungsi ekologis yang beragam bagi lingkungan dan ekosistem, namun adanya perubahan iklim dan aktivitas manusia dapat memberikan dampak bagi hutan mangrove. Hutan mangrove di Kabupaten Mempawah memperlihatkan kekritisan di beberapa kecamatan yang disebabkan oleh adanya pengambilan kayu oleh masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis luasan lahan dan sebaran tingkat kekritisan hutan mangrove di Kabupaten Mempawah khususnya di Kecamatan Mempawah Timur, Mempawah Hilir dan Sungai Kunyit. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah skoring dan pembobotan pada tiga parameter diantaranya jenis penggunaan lahan, kerapatan vegetasi dan ketahanan tanah terhadap abrasi, menggunakan citra Planet Scope dan Citra Landsat 8 dengan bantuan sistem informasi geografis. Hasil analisis menunjukan dua kategori tingkat kekritisan mangrove yaitu tingkat kritis sebesar 932,82 ha (28,44%) dan tidak kritis sebesar 2347 (71,56%). Kekritisan terjadi karena adanya alih fungsi lahan oleh masyarakat menjadi perkebunan dan tambak serta peristiwa alam yang menyebabkan adanya abrasi pada wilayah pesisir. Upaya rehabilitasi lahan mangrove yang rusak dapat dilakukan dengan pemeliharaan mangrove secara berkelanjutan dan edukasi pada masyarakat sekitar mangrove mengenai pentingnya keberadaan hutan mangrove serta dampak kerusakan pada lingkungan sekitar mangrove. Kata kunci: landsat 8, planet scope, mangrove, tingkat kekritisan.

Downloads

Published

2025-08-09