Kearifan Lokal Masyarakat dalam Mengelola Areal Bekas Ladang Berpindah di Desa Engkadu Kecamatan Ngabang Kabupaten Landak

Authors

  • Deni Purwandi Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura
  • Iswan Dewantara Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura
  • Togar Fernando Manurung Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura

Abstract

The management of the former shifting cultivation area is an activity that cannot be separated from the people of Engkadu Village in meeting their necessities of life and has been carried out for generations; the community still maintains local wisdom or ways that have been passed down from generation to generation until now. The research aims to examine the forms of local community wisdom in managing the former shifting cultivation areas and to analyze the relationship with the level of knowledge, cosmopolitanism, and income. Data collection used a survey method with interview techniques assisted by a questionnaire. The results showed that the community managed the area of former swidden cultivation with valuable plants such as plantation crops, fruit trees, and perennials, as well as other plants that grow to form a mixed garden. The management results are consumed by themselves and sold. The form of management is carried out by cooperation (reciprocal). Local wisdom tends to be positive because the community strongly agrees with local wisdom in managing the former shifting cultivation area. Descriptive analysis (chi-square) between local wisdom and knowledge level, cosmopolitan level, and income level has a significant relationship.

Keywords: local wisdom, community, moving fields

Abstrak

Pengelolaan areal bekas ladang berpindah merupakan kegiatan yang tidak bisa lepas dari masyarakat Desa Engkadu dalam memenuhi kebutuhan hidup dan telah dilakukan secara turun-temurun, masyarakat masih mempertahankan kearifan lokal atau cara-cara yang diwariskan dari generasi ke generasi hingga sekarang. Tujuan penelitian untuk Mengkaji bentuk-bentuk kearifan lokal masyarakat dalam mengelola areal bekas ladang berpindah dan menganalisis hubungan dengan tingkat pengetahuan, kosmopolitan, dan pendapatan. Pengumpulan data menggunakan metode survey dengan teknik wawancara yang dibantu menggunakan kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat mengelola areal bekas ladang berpindah dengan tanaman yang bermanfaat seperti tanaman perkebunan, pohon buah, dan pohon keras, serta tumbuhan lain yang tumbuh sehingga membentuk kebun campuran. Hasil pengelolaan dikonsumsi sendiri dan dijual. Bentuk pengelolaan dilakukan dengan cara bergotong-royong (berbalas ari). kearifan lokal cenderung positif karena masyarakat sangat menyetujui kearifan lokal dalam mengelola areal bekas ladang berpindah. Analisis deskriptif (chi square) antara kearifan lokal dengan tingkat pengetahuan, tingkat kosmopolitan, tingkat pendapatan terdapat hubungan yang signifikan.

Kata kunci : kearifan lokal, masyarakat, ladang berpindah

Downloads

Published

2022-03-08