PERANCANGAN KAWASAN AGROWISATA BERBASIS HORTIKULTURA DI KECAMATAN PONTIANAK UTARA

Authors

DOI:

https://doi.org/10.26418/jmars.v13i1.82910

Keywords:

Agrotourism, Horticulture, North Pontianak District

Abstract

North Pontianak District is a region in the Equator City that serves as a significant agricultural production area, with a primary focus on horticultural commodities, particularly vegetables. However, this potential has not yet been optimally utilized in efforts to empower the area and its local communities. There is a pressing need for a relevant land-use function to enhance the development of local agricultural products. The objective of designing a Horticulture-Based Agri-tourism Area in North Pontianak District is to serve as a strategic approach for empowering the area by establishing it as a center for agricultural business and managing horticultural land potential, thus contributing to the development of agricultural tourism destinations. In addition to food production, agricultural land can be integrated into a recreational and educational space to attract tourist visits. The design method applied is the five-step design process according to Snyder & Catanese, which includes initiation, preparation, proposal submission, action, and evaluation. The outcome of this design is the creation of an agri-tourism area that integrates agricultural, recreational, and educational elements, focusing on the empowerment of local communities and the optimization of agricultural land potential.

Author Biography

John Calvin, Universitas Tanjungpura

Department of Architecture

References

PERANCANGAN KAWASAN AGROWISATA BERBASIS HORTIKULTURA DI KECAMATAN PONTIANAK UTARA

John Calvin1, Affrilyno2, Yudi Purnomo3

Mahasiswa, Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Tanjungpura.

D1031201025@student.untan.ac.id

Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Tanjungpura

Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Tanjungpura

Naskah diajukan pada: 25 Juli 2024 Naskah revisi akhir diterima pada: 9 Maret 2025

Abstrak

Kecamatan Pontianak Utara merupakan kawasan yang difungsikan sebagai penghasil produk pertanian di Kota Khatulistiwa. Komoditas yang menjadi konsentrasi utama adalah produk hortikultura berbentuk sayur-sayuran. Namun, potensi tersebut masih belum dimanfaatkan secara optimal dalam upaya pemberdayaan kawasan dan masyarakat. Perlunya adanya fungsi kawasan yang relevan untuk meningkatkan upaya pengembangan potensi pada produk pertanian lokal. Tujuan Perancangan Kawasan Agrowisata Berbasis Hortikultura di Kecamatan Pontianak Utara dimaksudkan sebagai strategi untuk menyediakan wadah pemberdayaan terhadap fungsi kawasan sebagai sentra bisnis pertanian dan pengelolaan potensi lahan hortikultura dalam upaya pengembangan destinasi wisata terkait dunia pertanian. Selain bidang produksi pangan, lahan pertanian juga dapat dipadukan sebagai kawasan rekreasi dan edukasi untuk menarik minat kunjungan dari para wisatawan. Metode perancangan yang digunakan adalah proses perancangan 5 (lima) langkah menurut Snyder & Catanese, terdiri dari permulaan, persiapan, pengajuan usul, tindakan dan evaluasi. Hasil dari perancangan ini adalah menciptakan desain kawasan agrowisata yang mengintegrasikan berbagai elemen pertanian, rekreasi, dan edukasi dalam sebuah kawasan pertanian dengan mengutamakan pemberdayaan masyarakat setempat dan potensi lahan pertanian.

Kata-kata Kunci: Agrowisata, Hortikultura, Kecamatan Pontianak Utara

Abstract

North Pontianak District is a region in the Equator City that serves as a significant agricultural production area, with a primary focus on horticultural commodities, particularly vegetables. However, this potential has not yet been optimally utilized in efforts to empower the area and its local communities. There is a pressing need for a relevant land-use function to enhance the development of local agricultural products. The objective of designing a Horticulture-Based Agri-tourism Area in North Pontianak District is to serve as a strategic approach for empowering the area by establishing it as a center for agricultural business and managing horticultural land potential, thus contributing to the development of agricultural tourism destinations. In addition to food production, agricultural land can be integrated into a recreational and educational space to attract tourist visits. The design method applied is the five-step design process according to Snyder & Catanese, which includes initiation, preparation, proposal submission, action, and evaluation. The outcome of this design is the creation of an agri-tourism area that integrates agricultural, recreational, and educational elements, focusing on the empowerment of local communities and the optimization of agricultural land potential.

Keywords: Agrotourism, Horticulture, North Pontianak District

Pendahuluan

Indonesia terkenal sebagai negara agraris dengan potensi sumber daya alam yang melimpah, termasuk kekayaan hayati di bidang pertanian. Keanekaragaman hayati (biodiversity) darat Indonesia merupakan yang terbesar kedua di dunia setelah negara Brasil (Wahyono S & Shalahuddin L, 2011). Pengembangan terhadap potensi lahan pertanian merupakan hal yang perlu dipertimbangkan secara kontekstual. Melalui sumber daya alam yang tersedia secara melimpah, lahan pertanian memiliki kapasitas untuk menjadi pilar utama dalam mendukung pertumbuhan ekonomi dan memenuhi kebutuhan pangan secara berkelanjutan. Agrowisata merupakan salah satu bentuk peluang untuk pengembangan lahan pertanian sebagai magnet wisata serta melibatkan penduduk lokal dalam proses perencanaan hingga aksi pengelolaan kawasan agrowisata (Andini, 2013).

Kecamatan Pontianak Utara sangat berpeluang mendapatkan dukungan untuk pengembangan kawasan agrowisata berdasarkan kebijakan rencana dan anjuran pemerintah. Sejak tahun 2014, Peraturan Daerah No. 6 Tahun 2014 tentang RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah) Kota Pontianak telah menetapkan salah satu wilayah administrasi di Kecamatan Pontianak Utara yang difokuskan pada tumpuan sektor industri dan sektor pertanian kota, agroindustri dan kegiatan pergudangan untuk mendukung kegiatan industri-perdagangan dalam konteks kawasan bisnis pertanian. Kecamatan Pontianak Utara memiliki potensi pertanian yang luar biasa sebagai penyuplai produk hortikultura. Peluang terhadap upaya pengembangan kawasan pertanian masih belum dimanfaatkan secara optimal dari indikasi berkurangnya tingkat kesejahteraan para petani lokal. Modal pendapatan masyarakat setempat secara umum hanya berasal dari penjualan hasil panen. Industri dalam sektor pertanian dinilai perlu menjadi perhatian khusus. Kontribusi awal dapat berasal dari inisiatif, salah satunya peran dari bidang ilmu arsitektur kawasan. Perancangan kawasan dalam ilmu arsitektur dapat menjadi solusi yang sebagaimana mestinya dapat merespons berbagai isu permasalahan dan potensi yang berkaitan dengan pengembangan pertanian. Ilmu arsitektur menjadi penting dalam penyediaan ruang spasial yang mendukung fungsi agrowisata berbasis hortikultura.

Tujuan perancangan ini adalah menciptakan rancangan Kawasan Agrowisata Berbasis Hortikultura di Kecamatan Pontianak Utara yang dapat mewadahi konteks fungsi kawasan sebagai sentra bisnis pertanian dan potensi lahan hortikultura dalam upaya pengembangan destinasi wisata pertanian. Dengan kata lain, bertujuan untuk menciptakan ruang yang mengintegrasikan kegiatan produksi pertanian dengan aktivitas rekreasi dan edukasi, sehingga dapat menarik minat kunjungan wisatawan sekaligus memberikan nilai pemberdayaan kepada masyarakat lokal.

Kajian Pustaka

Agrowisata adalah salah satu bentuk wisata yang mengandalkan sektor pertanian atau di mana wisatawan dapat mempelajari kehidupan di suatu wilayah pertanian (Akpinar et al., 2005). Pengunjung kawasan agrowisata dapat berhubungan langsung dengan para petani dan mendukung peningkatan produk-produk pertanian secara tidak langsung. Pembangunan agrowisata akan menawarkan kesempatan bagi petani lokal untuk meningkatkan sumber pendapatan mereka dan meningkatkan kualitas kesejahteraan hidup yang berkelanjutan (Lobo et al., 1999).

Menurut Janick (1972), kata hortikultura (horticulture) berasal dari bahasa latin yaitu “hortus†yang berarti kebun dan “colere†yang berarti budidaya atau menumbuhkan, terutama mikroorganisme pada suatu medium buatan. Tanaman hortikultura terbagi ke dalam beberapa kelompok jenis produk yang lebih spesifik untuk mempermudah identifikasi pada unsur pengelompokannya. Prabawa (2014) membagi kelompok hortikultura menjadi beberapa klasifikasi, antara lain:

Olericulture yaitu sub-keilmuan hortikultura yang mempelajari budidaya tanaman sayuran.

Pomology yaitu sub-keilmuan hortikultura yang mempelajari budidaya tanaman buah-buahan.

Floriculture yaitu sub-keilmuan hortikultura yang mempelajari pengembangan tanaman bunga.

Biopharma yaitu sub-keilmuan hortikultura yang mempelajari pengembangan tanaman obat.

Landscape horticulture & ornamental gardening yaitu sub-keilmuan hortikultura yang mempelajari terutama pemanfaatan hortikultura tanaman hias dalam penataan lingkungan.

Apiary yaitu bagian dari hortikultura yang mempelajari budidaya lebah madu.

Berdasarkan Peraturan Menteri Pariwisata Nomor 3 Tahun 2018 tentang Petunjuk Operasional Pengelolaan Dana Alokasi Khusus Fisik Bidang Pariwisata, adapun standar-standar dalam perancangan daya tarik wisata sebagai upaya peningkatan kualitas fasilitas, mencakup beberapa elemen sebagai berikut:

Pembangunan pusat informasi wisata/TIC (Tourism Information Center)

Pembuatan ruang ganti dan/atau toilet

Pembuatan pergola/gazebo

Pemasangan lampu taman

Pembuatan pagar pembatas

Pembangunan kios cenderamata

Pembangunan plaza / pusat jajanan kuliner

Pembangunan tempat ibadah

Pembangunan menara pandang (viewing deck)

Pembangunan gapura identitas

Pembuatan broadwalk

Pembuatan jalur pejalan kaki

Pembuatan tempat parkir

Pembuatan rambu-rambu petunjuk arah.

Metode

Jenis metode perancangan yang digunakan dalam Perancangan Kawasan Agrowisata Berbasis Hortikultura di Kecamatan Pontianak Utara mengacu pada Gambar 1 yaitu metode proses perancangan 5 langkah dalam buku “Pengantar Arsitektur†karya dari (Snyder & Catanese, 1984). Berikut ini adalah beberapa tahapan yang digunakan sebagai acuan, yaitu:

Permulaan: penelusuran literatur awal yang menjadi landasan untuk mengidentifikasi potensi dan permasalahan perancangan dari sumber informasi seperti fenomena, trend, dan berita.

Persiapan: pengumpulan data yang terdiri dari data primer (observasi, dokumentasi, wawancara, dan pengukuran), data sekunder, dan studi kasus.

Pengajuan usul: bentuk hasil analisis dan konsep yang diterapkan dalam Perancangan Kawasan Agrowisata Berbasis Hortikultura di Kecamatan Pontianak Utara. Tahapan analisis terdiri dari analisis fungsi dan tema perancangan, analisis internal (pelaku, pola aktivitas, kebutuhan ruang, hubungan ruang, organisasi ruang, persyaratan ruang, dan besaran ruang), analisis eksternal (tata massa, peletakan, zonasi, orientasi, sirkulasi, dan vegetasi), analisis struktur, dan analisis utilitas (sistem jaringan air, sistem jaringan listrik, sistem tata udara, sistem kebakaran-evakuasi, dan sistem persampahan). Tahapan konsep terdiri dari konsep fungsi dan tema perancangan, konsep internal (tata ruang dalam), konsep eksternal (tata ruang luar, tata massa, peletakan, zonasi, orientasi, sirkulasi, dan vegetasi), konsep struktur, dan konsep utilitas (sistem jaringan air, sistem jaringan listrik, sistem tata udara, sistem kebakaran-evakuasi, dan sistem persampahan).

Tindakan: tahapan desain yang menghasilkan produk-produk pra perancangan (situasi, siteplan, denah, tampak, potongan, suasana eksterior, dan suasana interior).

Evaluasi: tahapan penilaian terhadap produk rancangan yang telah terealisasikan. Namun, dalam kasus Perancangan Kawasan Agrowisata Berbasis Hortikultura di Kecamatan Pontianak Utara tidak diperlukan evaluasi karena luaran akhir yang dihasilkan sebatas produk pra perancangan.

Gambar 1 Perancangan 5 Langkah Menurut Snyder & Catanese (1984)

Sumber: Analisis Penulis, 2024

Hasil dan Pembahasan

Berangkat dari acuan potensi dan masalah yang ada di Kecamatan Pontianak Utara, Kota Pontianak. Perancangan Kawasan Agrowisata Berbasis Hortikultura bertujuan untuk mewadahi fungsi kawasan sebagai sentra bisnis pertanian terkait lahan hortikultura dalam upaya pengembangan destinasi wisata pertanian di Kecamatan Pontianak Utara yang rekreatif dan edukatif. Lokasi perancangan yang dipilih berada pada Kelurahan Siantan Hilir dapat dilihat pada Gambar 2. Terdapat 2 jalur akses sirkulasi menuju kawasan perancangan, yaitu Jl. Budi Utomo dengan GSB 25 meter dari garis as dan Jl. Sungai Selamat dengan GSB 8,5 meter.

Gambar 2 Lokasi Perancangan Kawasan Agrowisata Berbasis

Hortikultura di Kecamatan Pontianak Utara

Sumber: Google Earth 2024, dimodifikasi oleh penulis

Kawasan perancangan memiliki total keseluruhan luas lahan sekitar 5,34 Ha yang terdiri dari lahan kosong, lahan pertanian sayur-sayuran, perkebunan buah, dan pemukiman masyarakat setempat. Terdapat jalur Anak Sungai Selamat yang melintas di sekitar lokasi perancangan. Standar aturan pada kawasan lokasi perancangan memiliki luas KDB maksimal 70% dan KDH minimal 30%. Kondisi eksisting tanah memiliki kemiringan lereng 0-8% dengan tekstur lunak dari campuran tanah aluvial dan tanah organosol (gambut) yang cocok untuk lahan produktivitas pertanian.

Berdasarkan Rencana Detail Tata Ruang Kota Pontianak Tahun 2021-2041 mengacu pada Gambar 3 sebagian besar fungsi tata ruang wilayah di Kecamatan Pontianak Utara, tepatnya di Kelurahan Siantan Hilir direncanakan sebagai zona pertanian yang difokuskan pada produk vegetasi hortikultura dengan tipe sayur-sayuran, buah-buahan, obat-obatan, dan tanaman hias (kode P-2 berwarna hijau pucat). Adapun persebaran zona hortikultura memiliki posisi yang berdekatan dengan lokasi perancangan Kawasan Agrowisata Berbasis Hortikultura di Kecamatan Pontianak Utara.

Gambar 3 Rencana Pengembangan Kawasan Hortikultura di Kelurahan Siantan Hilir

Sumber: RDTR Kota Pontianak 2021-2041, dimodifikasi oleh penulis

Hubungan ruang dalam Perancangan Kawasan Agrowisata Berbasis Hortikultura di Kecamatan Pontianak Utara mengacu pada keterikatan relasi antara masing-masing fungsi ruang. Pada cakupan makro mengacu pada Gambar 4 (a) terdapat hubungan antara bangunan dan area non-bangunan. Ruang makro 01, 02, 03, dan 04 dijadikan sebagai area sirkulasi untuk kendaraan pribadi/umum. Ruang makro 05, 06, dan 07 berfungsi sebagai bangunan penerimaan untuk fungsi pusat informasi yang dilengkapi kantor pengelola, cafe-resto, dan hotel. Sementara itu, ruang makro 08, 09, 10, dan 11 dirancang sebagai titik konsentrasi pengunjung dalam fungsi agrowisata. Sementara itu, hubungan ruang mikro mengacu pada Gambar 4 (b) berfokus pada bangunan gedung penerimaan yang berisi kantor pengelola, pusat informasi, cafe-resto, dan hotel. Terdapat pembagian untuk sifat ruang yang terdiri dari zona publik (warna biru), zona semi-publik (warna hijau), zona semi-privat (warna jingga), zona privat (warna merah), dan zona servis (warna merah muda) pada masing-masing lantai bangunan. Lantai 1 digunakan sebagai area pusat informasi, fasilitas umum, cafe-resto, dan kantor pengelola. Lantai 2 digunakan sebagai area kantor pengelola, cafe-resto, dan hotel. Lantai 3 digunakan sebagai area kantor pengelola, cafe-resto, dan hotel.

Gambar 4 Hubungan Ruang (a) Makro, (b) Mikro

Sumber: Analisis Penulis, 2024

Konsep Tema dan Fungsi Perancangan

Mengusung tema inovatif yang menggabungkan 2 elemen utama, yakni agrowisata lokal berbasis hortikultura dan gaya arsitektur utopia. Berdasarkan hal tersebut, tempat kawasan Perancangan Agrowisata Berbasis Hortikultura di Kecamatan Pontianak Utara diberi nama PLANTOPIA yang berasal dari kata “plant†yang berarti tanaman dan “utopia†yang berarti dunia khayalan. Tema arsitektur utopia merupakan bentuk kontradiksi dalam perspektif konkret yang memiliki kesinambungan dengan fungsi perancangan. Utopia merupakan imajinasi khayalan terhadap esensi keadaan di mana semuanya dianggap sangat sempurna dan ideal (Güneri, 2019). Sedangkan, nilai-nilai fungsi agrowisata dalam lokasi perancangan bertumpu pada potensi sektor tanaman pangan (hortikultura). Tagline Rekreasi & Edukasi Berbasis Agro bermaksud menyediakan pengalaman wisata yang mengandalkan sektor pertanian lokal. Fasilitas wisata dirancang untuk menyediakan ruang atraksi dan aktivitas yang dapat dinikmati pengunjung dalam cakupan lingkungan agrowisata. Berikut mengacu pada Gambar 5 adalah penerapan tema utopia dalam Perancangan Kawasan Agrowisata Berbasis Hortikultura di Kecamatan Pontianak Utara, yaitu:

Sistem ekonomi tersentralisasi dengan penggunaan ekosistem token wisata diterapkan dengan tujuan untuk memanajemen segala bentuk aktivitas transaksi di dalam lokasi perancangan.

Pengembangan nilai komersial produk agro dengan disediakannya ruang pameran agro dapat mendorong nilai jual produk petani menjadi lebih tinggi melalui sistem pelelangan. Sedangkan, dengan adanya lapak/kios lokal dapat membantu upaya penjualan dagangan produk agro petani menjadi lebih efisien dan mudah dikenal.

Analogi pada bentuk organik dari beberapa detail ataupun gubahan rancangan yang memiliki nilai nuansa tentang suasana agrowisata berbasis hortikultura. Contohnya adalah bentuk tangkai bibit sayuran, jari-jari tulang daun, dan stomata daun pada objek rancangan.

Desain ekstrem yang sinergi dengan tema utopia seperti dengan adanya wahana biang lala menciptakan persepsi idealisme terhadap dunia khayalan tentang agrowisata, membuat pengunjung dapat melihat desain sebagai elemen yang dapat dinikmati secara rasional.

Pemanfaatan limbah organik sebagai nutrisi bagi keberlangsungan tanaman hortikultura pada lokasi perancangan. Limbah jenis dapur dari fasilitas cafe-resto/kuliner, limbah hasil panen produk vegetasi hortikultura, dan limbah sanitasi dari toilet dapat difungsikan sebagai bahan dasar pembuatan pupuk yang bermanfaat bagi unsur hara produktivitas pertanian.

Area retensi air hujan berbentuk sumur resapan, kolam resapan, dan bak penampungan diletakkan pada masing-masing titik lokasi perancangan. Selain berfungsi untuk menampung air hujan, keberadaan seperti bak penampungan dapat dialih fungsikan sebagai fasilitas wisata yang dapat dinikmati oleh pengunjung. Contohnya penerapan kolam terapi ikan dan wahana bebek engkol.

Penginapan yang tersedia untuk pengunjung jangka panjang terdiri dari beberapa opsi bagi pengunjung, yaitu kamar hotel, bumi perkemahan, dan cottage. Sasaran pengunjung untuk tempat wisata ini adalah pengunjung domestik dan pengunjung mancanegara. Banyaknya jenis penginapan yang tersedia memberikan beragam opsi bagi pengunjung untuk menikmati kegiatan agrowisata dalam jangka waktu panjang.

Greenhouse didefinisikan sebagai bangunan untuk standar budidaya tanaman, yang memiliki bentangan struktur atap dan dinding yang bersifat tembus cahaya (Nelson, 1978). Adapun teknologi pertanian yang digunakan dalam greenhouse adalah sistem aquaponik, yakni wujud kombinasi sistem akuakultur (budidaya ikan) dan hidroponik (budidaya tanaman/sayuran tanpa media tanah) yang saling menguntungkan. Memelihara ikan dalam sebuah wadah pada umumnya akan menghasilkan air yang terkontaminasi dengan amonia yang jika terlalu pekat bisa meracuni kondisi ikan, tetapi ketika dikombinasikan dengan hidroponik, jumlah amonia dalam air limbah perikanan tersebut diubah menjadi kandungan nitrit dan nitrat oleh mikroba yang ada dalam media tanam hidroponik, kemudian diserap oleh tanaman sebagai nutrisi tambahan. Tanaman akan tumbuh subur, sementara sisa air menjadi lebih aman bagi ikan karena vegetasi dan medianya berfungsi sebagai filter (Nugraheni & Sigit, 2013).

Taman kuliner yang menyediakan pengalaman atraksi dan aktivitas memetik, membeli, memasak, dan menikmati produk agro yang dihasilkan pada lokasi perancangan. Pengunjung diberikan penawaran aktivitas yang interaktif untuk memetik sendiri produk hortikultura, membawanya untuk dibeli sebagai oleh-oleh ataupun diolah sebagai produk sajian kuliner siap santap untuk dihidangkan secara langsung melalui layanan dapur UMKM lokal.

Fasilitas transportasi yang beragam disediakan untuk memberikan pilihan cara bagi pengunjung dalam menelusuri setiap segmen agrowisata pada lokasi perancangan. Beberapa di antaranya adalah rute mobil minigolf, wahana kereta gantung, wahana bebek engkol, dan jalur pedestrian (susur agro) yang dapat dinikmati.

Outbound arena dirancang bagi pengunjung dalam menikmati sarana permainan yang mengandalkan kemampuan fisik. Adapun sarana yang disediakan adalah area perang lumpur, flying fox, spider net, ayunan, dan titian.

Gambar 5 Konsep Tema dan Fungsi Perancangan

Sumber: Analisis Penulis, 2024

Konsep Tata Massa

Prosedur penataan massa kawasan secara kontekstual memperhatikan pertimbangan-pertimbangan komponen fisik tapak dan lingkungan yang berkaitan dengan Perancangan Kawasan Agrowisata Berbasis Hortikultura di Kecamatan Pontianak Utara. Mengacu pada Gambar 6 diagram tata massa menguraikan ide transformasi massa kawasan secara bertahap. Tahapan pertama adalah penempatan sumbu garis as pada area tapak untuk memberikan gambaran tentang orientasi penempatan pola massa. Tahapan kedua adalah penambahan garis interseksi untuk mengklasifikasikan zonasi ruang makro pada kawasan. Tahapan ketiga adalah penambahan segmen untuk mengelompokkan sistem zonasi ruang makro berdasarkan kebutuhan fungsi perancangan. Tahapan keempat adalah penambahan massa gubahan utama untuk area parkir, gedung penerimaan, dan greenhouse yang merupakan bangunan induk pada kawasan perancangan. Tahapan kelima adalah penambahan massa gubahan pendukung seperti area susur agro, fasilitas wahana, fasilitas umum, dan cottage pada kawasan perancangan. Tahapan keenam adalah finalisasi kawasan dengan adanya penambahan detail-detail yang telah disesuaikan terhadap konsep agrowisata secara holistik.

Gambar 6 Konsep Tata Massa

Sumber: Analisis Penulis, 2024

Konsep Vegetasi Hortikultura

Pemilihan dan penempatan vegetasi mengacu pada Gambar 7 merupakan elemen penting dalam Perancangan Kawasan Agrowisata Berbasis Hortikultura di Kecamatan Pontianak Utara. Berdasarkan hasil analisis vegetasi, jenis vegetasi sayur-sayuran yang digunakan pada lokasi perancangan terdiri dari sawi keriting, sawi, hijau, sawi caisim, dan kangkung. Jenis vegetasi buah-buahan yang digunakan adalah pisang, pepaya, kelapa, tomat, cabai rawit, jeruk, dan jambu air. Sementara itu, terdapat penggunaan vegetasi yang didatangkan dari luar untuk fungsi vegetasi hias dan vegetasi pohon peneduh. Vegetasi hias yang digunakan terdiri dari palem kuning, daun hanjuang, boxwood, dan bunga telang. Sedangkan vegetasi pohon peneduh yang digunakan adalah pinus.

Gambar 7 Konsep Vegetasi

Sumber: Analisis Penulis, 2024

Pra Perancangan

Siteplan mengacu pada Gambar 8 (a) merupakan gambar yang bertujuan untuk menunjukkan hasil perancangan tapak berupa visual tampilan tampak atas. Akses masuk ke dalam siteplan hanya dapat dilewati pada Jl. Budi Utomo, dengan rute entrance dan exit kawasan yang berada pada satu gerbang yang sama dengan perbedaan arah orientasi kendaraan. Jalur masuk setidaknya dapat dilalui oleh 2 mobil dan 2 motor secara bersamaan. Sepanjang rute pengunjung dapat menikmati suasana pepohonan peneduh yang juga berfungsi sebagai tanaman pengarah untuk mencapai area parkir. Menuju area masuk pengunjung akan diarahkan menuju titik konsentrasi publik pada pusat informasi untuk memperoleh berbagai informasi tentang kawasan wisata. Beberapa di antaranya adalah fasilitas rekreasi wahana, kuliner, penginapan agro, acara pameran, dan edukasi agro. Dalam menikmati aktivitas agrowisata pengunjung dapat memanfaatkan sarana transportasi wisata yang disediakan seperti mobil minigolf, wahana kereta gantung, wahana bebek engkol, dan jalur pejalan kaki. Siteplan diklasifikasikan menjadi beberapa segmen yang saling berkaitan dalam Kawasan Agrowisata Berbasis Hortikultura di Kecamatan Pontianak Utara. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:

Segmen A mengacu pada Gambar 8 (b) terdiri dari: bangunan X2, bangunan X3, bangunan X4, bangunan X5, taman gerbang, akses masuk, akses keluar, jalur kendaraan pengunjung, taman bundaran, dan jalur darurat.

Segmen B mengacu pada Gambar 8 (c) terdiri dari: bangunan X1, jalur mobil minigolf, area susur agro, dan toilet / ruang ganti umum.

Segmen C mengacu pada Gambar 8 (d) terdiri dari: susur agro, cottage, menara pandang, outbound arena, wahana bebek engkol, dan toilet / ruang ganti umum.

Segmen D mengacu pada Gambar 8 (e) terdiri dari: susur agro, cottage, menara pandang, bumi perkemahan, wahana bianglala, kolam terapi, dan toilet / ruang ganti umum.

Terdapat setidaknya 6 fungsi bangunan induk pada siteplan Kawasan Agrowisata Berbasis Hortikultura di Kecamatan Pontianak Utara, yaitu:

X1: Bangunan 01 terdiri dari: taman kuliner, greenhouse

X2: Bangunan 02 terdiri dari: pusat informasi, kantor staf, hotel, cafe-resto

X3: Bangunan 03 terdiri dari: area komersial, area aquaponik hortikultura

X4: Bangunan 04 terdiri dari: parkiran kendaraan (motor, mobil, bis wisata)

X5: Bangunan 05 terdiri dari: parkiran kendaraan (mobil)

X6: Bangunan 06 terdiri dari: gerbang, pos jaga

Gambar 8 Gambar Pra Perancangan (a) Siteplan, (b) Detail Segmen A,

(c) Detail Segmen B, (d) Detail Segmen C, (e) Detail Segmen D

Sumber: Analisis Penulis, 2024

Tampak mengacu pada Gambar 9 (a) dan potongan mengacu pada Gambar 9 (b) merupakan gambar yang menunjukkan tampilan kawasan atau bangunan dari sisi depan, belakang, kanan, dan kiri. Secara keseluruhan, konsep pada penampakan visual kawasan menerapkan gaya arsitektur utopia yang dikombinasikan dengan fungsi agrowisata. Ruang Terbuka Hijau (RTH) dengan vegetasi pepohonan, lahan pertanian, sistem irigasi, dan perkebunan menjadi ciri khas yang mewakili kesan agrowisata pada lokasi perancangan. Fasilitas pendukung seperti wahana, menara pandang, penginapan, jalur pejalan kaki, area komersial, taman kuliner, pusat informasi, cafe-resto dan kantor pengelola berperan penting dalam memenuhi kebutuhan aktivitas pengunjung di lokasi perancangan.

Gambar 9 Pra Perancangan (a) Tampak, (b) Potongan

Sumber: Analisis Penulis, 2024

Suasana pada Gambar 10 menunjukkan keseluruhan visual rancangan kawasan agrowisata terhadap kondisi eksisting lingkungan sekitar. Terdapat sirkulasi akses masuk dan keluar kawasan yang langsung terhubung dengan Jl. Budi Utomo di depan kawasan.

Gambar 10 Suasana Kawasan Agrowisata Berbasis

Hortikultura di Kecamatan Pontianak Utara

Sumber: Analisis Penulis, 2024

Kesimpulan

Perancangan Kawasan Agrowisata Berbasis Hortikultura di Kecamatan Pontianak Utara merupakan bentuk respons yang mengacu pada eksistensi potensi lahan pertanian. Kawasan Agrowisata Berbasis Hortikultura dirancang sebagai tempat wisata bertema utopia yang merujuk pada konsep rekreasi dan edukasi berbasis hortikultura. Tujuan Perancangan Kawasan Agrowisata Berbasis Hortikultura di Kecamatan Pontianak Utara dimaksudkan sebagai strategi untuk menyediakan wadah pemberdayaan terhadap fungsi kawasan sebagai sentra bisnis pertanian dan pengelolaan potensi lahan hortikultura dalam pengembangan destinasi wisata pertanian. Melalui ide perancangan ini, diharapkan dapat memberikan gambaran desain kawasan agrowisata yang mengintegrasikan berbagai elemen pertanian, rekreasi, dan edukasi dalam sebuah kawasan pertanian dengan mengutamakan pemberdayaan masyarakat setempat dan potensi lahan pertanian.

Daftar Acuan

Akpinar, N., Talay, İ., Ceylan, C., & Gündüz, S. (2005). Rural Women and Agrotourism in the Context of Sustainable Rural Development: A Case Study From Turkey. (Vol. 6). Springer.

Andini, N. (2013). Pengorganisasian Komunitas dalam Pengembangan Agrowisata di Desa Wisata Studi Kasus: Desa Wisata Kembangarum, Kabupaten Sleman. In Kabupaten Sleman Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota (Vol. 24, Issue 3).

Güneri, G. D. (2019). Reading Architectural Utopia(nism)s: A Proposal. Metu Journal of the Faculty of Architecture.

James C. Snyder, & Anthony J. Catanese. (1984). Pengantar Arsitektur (S. Amril, Ed.). . Jakarta: Erlangga

Janick, J. (1972). Horticultural Science. San Francisco: W. H. Freeman and Co.

Kementerian Pariwisata Republik Indonesia. (2018). Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Nomor 3 Tahun 2018 tentang Petunjuk Operasional Pengelolaan Dana Alokasi Khusus Fisik Bidang Pariwisata. Jakarta: Kementerian Pariwisata Republik Indonesia.

Lobo, R. E., Goldman, G. E., Jolly, D. A., Wallace, B. D., Schrader, W. L., & Parker, S. A. (1999). Agritourism Benefits Agriculture in San Diego County (6th ed., Vol. 53). California: California Agriculture.

Nelson, P. (1978). Greenhouse : Operation and Management. California: Reston Publishing Company, Inc.

Nugraheni, W., & Sigit, S. (2013). Urban Farming: Gaya Bertani Spesifik Kota (1st ed.). Yogyakarta: Andi.

Pemerintah Kota Pontianak. (2014). Peraturan Daerah Kota Pontianak Nomor 6 Tahun 2014 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kota Pontianak Tahun 2015-2019. Pontianak: Pemerintah Kota Pontianak.

Pemerintah Kota Pontianak. (2021). Peraturan Walikota Kota Pontianak Nomor 30 Tahun 2021 tentang Rencana Detail Tata Ruang Kota Pontianak Tahun 2021-2041. Pontianak: Pemerintah Kota Pontianak.

Prabawa, V. S. P. (2014). Landasan Konseptual Perencanaan dan Perancangan Pusat Hortikultura di Sleman. Yogyakarta: Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

Wahyono S, & Shalahuddin L. (2011). Direktori Penelitian Asing di Indonesia. Jakarta: Sekretariat Perizinan Peneliti Asing, Kementerian Riset dan Teknologi Republik Indonesia.

Downloads

Published

2025-03-09

Issue

Section

Design Articles (Student)