DISPARITAS PUTUSAN HAKIM TERHADAP PERKARA PENCURIAN PASAL 363 KUHP OLEH ANAK (STUDI KASUS PENGADILAN NEGERI PONTIANAK)

Authors

  • GIOFANNI DIAN NOVIKA - A01112019

Abstract

Kejahatan  merupakan  suatu  fenomena  yang  tidak  dapat  dihindarkan  dan  akan  selalu  berkembang  seiring  dengan  berjalannya  waktu.  Pelaku  kejahatan selalu identik dengan orang dewasa, tetapi karena kejahatan itu selalu  berkembang maka kejahatan itu bisa dilakukan oleh siapa saja tidak terkecuali  bagi anak-anak. Anak yang masih labil jiwanya seringkali terpengaruh dengan  ajakan  temannya  terhadap  hal-hal  yang  berbau  negatif  hingga  sampai  melakukan  kejahatan  dalam  hal  ini  pencurian  karena  tergoda  dengan  iming-imingan  sesuatu  yang  dapat  memenuhi  kebutuhan  sesaatnya  bersama  teman-temannya yang rata-rata lingkungan pergaulannya adalah orang dewasa.  Pencurian  Pasal  363  KUHP  adalah  pencurian  dalam  pemberatan  merupakan  jenis  pencurian  dengan  cara-cara  tertentu  sehingga  bersifat  lebih  berat  dan  diancam  dengan  hukuman  yang  maksimumnya  lebih  tinggi,  yaitu  lebih dari hukuman penjara lima tahun atau lebih dari pidana yang diancamkan  dalam Pasal 363 KUHP. Dengan unsur-unsur yang memberatkan didalam Pasal  363  KUHP  sebagai  berikut:  1)  pencurian  ternak  2)  pencurian  pada  waktu  kebakaran, letusan,  banjir,  gempa  bumi,  gunung  meletus,  kapal  karam,  kapal  terdampar,  kecelakaan  kereta  api,  huru-hara,  pemberontakan  atau  bahaya  perang 3) pencurian di waktu malam didaalam sebuah rumah atau pekarangan  tertutup yang ada rumahnya 4) pencurian yang dilakukan oleh dua orang atau  lebih dengan bersekutu 5) pencurian dengan jalan membongkar, merusak, dan  sebagainya.  Sebelum  sidang  dimulai  hakim  akan  meminta  hasil  Litmas  sebagai  bahan  untuk  hakim  dalam  mempelajari  data-data  yang  berhubungan  dengan  anak  yang  melakukan  tindak  pidana  tersebut.  Dari  hasil  litmas  hakim  dapat  menyimpulkan putusan yang tepat dijatuhkan kepada anak karena didalam hasil  Litmas  terdapat  keterangan  tentang  latar  belakang  serta  motif  anak  dalam  melakukan  pencurian.  Hal  inilah  yang  menjadi  dasar  pertimbangan  hakim  dalam menjatuhkan putusan.  Seringkali  putusan  yang  dijatuhkan  oleh  hakim  berbeda  terhadap  perkara yang sama sekalipun  yang  disebut  dengan  disparitas, walaupun Pasal  yang didakwakan oleh Jaksa Penuntut Umum sama. Dengan adanya Undang-Undang  Nomor  48  Tahun  2009  tentang  kekuasaan  kehakiman  yang  memberikan  kebebasan  hakim  dalam  menjatuhkan  putusan  tanpa  adanya  campur  tangan  dari  pihak  lain  yang  mencoba  mempengaruhi  hasil  putusan  tersebut  sehingga  putusan  yang  dihasilkan  lebih  bersifat  objektif  daripada  subjektif yang mempunyai kepentingan lain dari penjatuhan putusan tersebut.

Kata  kunci  :  Anak,  Pencurian  Pasal  363  KUHP,  Litmas  Anak,  Disparitas  Putusan Hakim

Downloads

Published

2016-09-02