TINJAUAN YURIDIS AKIBAT HUKUM PENGANGKATAN ANAK YANG AKTA KELAHIRANNYA MENCANTUMKAN NAMA ORANG TUA ANGKAT DILIHAT DARI ASPEK HUKUM ISLAM

Authors

  • PANDU SUSILO - A1012131218

Abstract

Pengangkatan  anak  (tabanni)  dalam  masyarakat  Indonesia  mempunyai  bebereapa  tujuan  antara  lain  untuk  meneruskan  keturunan  jika dalam suatu perkawinan tidak memperoleh keturunan. Pengangkatan  anak yang dilarang dalam ajaran Islam adalah pengangkatan anak yang  mengarah kepada putusnya hubungan hukum antara anak angkat dengan  orang  tua  kandung  termasuk  dalam  hal  panggilan  nasab.  Namun,  jika  pengangkatan anak didasarkan pada rasa belas kasihan dan saling bantu  membantu  bukanlah  sesuatu  yang  dilarang  bahkan  dianjurkan  dalam  agama  Islam.  Persoalan  tabanni  (pengangkatan  anak)  yang  dilakukan  oleh  masyarakat  pada  umumnya  adalah  dengan  cara  menghilangkan  status atau hubungan anak angkat dengan orang tua kandungnya, artinya  dengan  sengaja  tidak  memberitahukan  bahwa  sebenarnya  mereka  mengangkat anak tersbut dan tidak dilahirkan dari Rahim sendiri. Hal ini  tidak  sesuai  dengan  ketentuan  hukum  Islam  yang  tidak  mengenal  pengangkatan  anak  dalam  arti  menjadi  anak  kandung  secara  mutlak.  Adapun  judul  dari  penelitian  ini  adalah  "TINJAUAN  YURIDIS  AKIBAT  HUKUM  PENGANGKATAN  ANAK  YANG  AKTA  KELAHIRANNYA  MENCANTUMKAN  NAMA  ORANG  TUA  ANGKAT  DILIHAT  DARI  ASPEK  HUKUM  ISLAM"  dan  permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah Bagaimana  Akibat  Hukum  Pengangkatan  Anak  yang  Akta  Kelahirannya  Mencantumkan  Nama  Orang  Tua  Angkat  Dilihat  Dari  Aspek  Hukum  Islam.  Teori  yang  digunakan  penulis  menggunakan  data  kualitatif.  Penelitian  kualitatif  adalah  penelitian  tentang  riset  yang  bersifat  deskriptif  dan  cenderung  menggunakan  analisis  Proses  dan  makna  (perspektif  subjek)  lebih  ditonjolkan  dalam  penelitian  kualitatif,  sedangkan  metode  yang  digunakan  dalam  penelitian  ini  yaitu  yuridis  normatif.  Dalam  metode  penelitian  yuridis  normatif  tersebut  akan  menelaah  secara  mendalam  terhadap  peraturan  perundang-undangan,  yurisprudensi dan pendapat ahli hukum. Teknik pengumpulan data dalam  skripsi ini dilakukan secara studi kepustakaan dan wawancara.  Pengangkatan anak dengan memutuskan hubungan darah (nasab)  diharamkan  dalam  hukum  Islam,  yang  diperbolehkan  adalah  pengangkatan  anak  dalam  pengertian  pemeliharaan,  pengasuhan  tanpa  memutuskan  hubungan  antara  anak  dan  orang  tua  kandungnya,  sedangkan  pengangkatan  anak  dalam  Undang-undang  Republik  Indonesia Nomor 35 Tahun 2014 perubahan dari Undang-undang Nomor  23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak merupakan pengalihan hak  anak dari orang tua kandung kepada orang tua  angkat dengan prinsip  demi kepentingan terbaik bagi anak. Prosedur pengangkatan anak dapat  dilakukan  ke  Pengadilan  Agama  dan  Pengadilan  Negeri  (bagi  nom  Muslim), dan akibat hukum pengangkatan anak umumnya timbul dengan  adanya penetapan pengadilan dengan tidak memutuskan nasib anak angkat  dengan  orang  tua  kandungnya,  yang  beralih  adalah  hak  perwaliannya.  Perbuatan orang tua angkat yang mengubah status anak angkatnya menjadi  anak  kandung  berdasarkan  akta  kelahiran,  merupakan  perbuatan  melawan/melanggar hukum/tindak pidana, seperti yang diatur pada Pasal 93,  Undang-undang  Nomor  23  Tahun  2006  tentang  Administrasi  Kependudukan. Seharusnya orang tua angkat tidak mengubah status anak  angkatnya menjadi anak kandung berdasarkan akta kelahiran dengan alasan,  tujuan  atau  motivasi  apapun,  serta  orang  tua  angkat  berkewajiban  memberitahukan kepada anak angkatnya mengenai asal-usul dan orang tua  kandungnya, Karena itu merupakan tanggung jawab dari orang tua angkat,  tentu pada saat anak angkat tersebut telah dewasa.

 

Kata Kunci:  Pengangkatan  anak,  perlindungan  anak,  akta  kelahirannya

Published

2017-03-03