PERJANJIAN PINJAM-MEMINJAM UANG ANTARA PETANI JERUK TERHADAP PENGUMPUL DENGAN JAMINAN HASIL PANEN JERUK DI KECAMATAN JAWAI KABUPATEN SAMBAS

Authors

  • ASMUJI - A01108022

Abstract

Perjanjian  pinjam  meminjam  merupakan  salah  satu perjanjian  yang  di  atur  dalam  Kitab  Undang-Undang Hukum Perdata sebagaimana yang di atur dalam pasal 1754 yaitu:  Pinjam-meminjam  ialah  perjanjian  dengan  mana pihak yang satu memberikan kepada pihak yang lain suatu jumlah  tertentu  barang-barang  yang  menghabis  karena pemakaian, dengan syarat bahwa pihak yang belakangan ini akan mengembalikan sejumlah yang sama dari macam dan keadaan yang sama pula.     Perjanjian  pinjam  meminjam  uang  antara  petani jeruk (peminjam) dengan pengumpul (pemberi pinjaman) di Kecamatan  Jawai  dilakukan  secara  lisan  dengan  jaminan hasil panen jeruk dan masing-masing memperoleh hak dan kewajiban  secara  timbal  balik.  Suatu  perjanjian  dianggap sah  apabila  telah  memenuhi  syarat-syarat  sebagimana  di atur dalam pasal 1320 KUH Perdata, yaitu: sepakat mereka yang  mengikatkan  diri,  kecakapan  untuk  membuat  suatu perikatan, suatu hal tertentu, suatu sebab yang halal. Kegiatan seperti ini telah sering kita jumpai di mana petani  menjual  hasil  panennya  kepada  pengumpul,  adanya kegiatan  seperti  yang  dilakukan  antara  petani  dengan pengumpul,  maka  terjadilah  suatu  perjanjian  pinjam meminjam  uang  dengan  jaminan  hasil  panen  jeruk  antara petani jeruk dengan pengumpul. Pada  dasarnya  undang-undang  memberi  kebebasan kepada para pihak untuk membuat perjanjian sebagaimana yang  tercantum  dalam  Kitab  Undang-Undang  Hukum Perdata  atau  yang  lebih  dikenal  dengan  asas  kebebasan berkontrak. Di dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata dalam  pasal  1338,  yaitu:  semua  perjanjian  yang  di  buat secara  sah  berlaku  sebagai  undang-undang  bagi  mereka yang  membuatnya.  Suatu  perjanjian  tidak  dapat  ditarik kembali  selain  dengan  sepakat  kedua  belah  pihak,  atau karena  alasan-alasan  yang oleh undang-undang dinyatakan cukup  untuk  itu.  Suatu  perjanjian  harus  dilaksanakan dengan itikad baik.   Dalam penelitian ini metode yang di gunakan adalah metode  empiris  dengan  pendekatan  deskriptif  analisis. Dalam  pelaksanaan  perjanjian,  petani  jeruk  telah melaksanakan  kewajiban  sebagaimana  yang  disepakati sebelumnya.

Sehubungan  dengan  perjanjian  pinjam-meminjam uang dengan jaminan hasil panen jeruk di Kecamatan Jawai, dalam  pelaksanaannya  terjadi  wanprestasi  yang  dilakukan oleh  peminjam  (petani  jeruk)  terhadap  pemberi  pinjaman (pengumpul) karena hasil panen jeruk  yang menurun serta hasil panen jeruk yang dibelikan ke pupuk.     Akibat hukum yang di ambil oleh pengumpul jeruk kepada  petani  jeruk  yang  wanprestasi  adalah  memberikan teguran  dan  melakukan  penagihan,  akibatnya  petani  jeruk tidak dapat melakukan pinjaman berikutnya.   Dalam hal terjadinya perselisihan atau masalah yang timbul  dalam  pelaksanaan  perjanjian  di  selesaikan  dengan cara  musyawarah  dan  kekeluargaan  demi  menjaga hubungan baik yang telah terjadi selama ini.  Kata  Kunci:  Wanprestasi  Perjanjian  Pinjam  Meminjam Uang Dengan Jaminan Jeruk

Downloads

Published

2014-01-22