Komponen Angin Zonal dan Meridional sebagai Prekursor Penentu Awal Musim serta Pengaruh ENSO Terhadap Variasinya

Authors

DOI:

https://doi.org/10.26418/pf.v10i3.59057

Abstract

Kondisi iklim disuatu wilayah sangat dipengaruhi sirkulasi angin. Pemebentukan cuaca dan iklim di wilayah Indonesia dipengaruhi oleh sirkulasi Hadley dan Walker selain itu sirkulasi monsun juga mempengaruhi variasi musiman di Indonesia. Komponen angin tersebut juga dipengaruhi oleh aktivitas ENSO (El Niño-Southern Oscillation) di Samudera Pasifik utamanya zonal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sirkulasi angin zonal dan angin meridional serta pengaruh ENSO terhadap variabilitas curah hujan dan awal musim di Malang. Penelitian ini menggunakan data angin zonal dan meridional ketinggian 10 meter luaran model ECMWF (European Centre for Medium-Range Weather Forecasts) dengan resolusi spasial 0.125 °x0.125 ° periode 1989-2016, curah hujan bulanan Stasiun Klimatologi Jawa Timur periode yang sama, dan indeks Nino 3.4 yang diunduh melalui situs NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration). Hasil penelitian menujukkan bahwa angin zonal baratan dan meridional negatif mendominasi pada periode musim hujan November sampai dengan April. Pada musim kemarau Mei sampai dengan Oktober, angin timuran dan meridional positif lebih kuat. Perubahan arah angin diikuti perubahan musim dengan lagtime 3 dasarian. Aktifnya ENSO mampu mengubah arah angin meridional dan menguatkan angin baratan di wilayah penelitian. ENSO juga menyebabkan curah hujan lebih fluktuatif.

Author Biography

Presli Panusunan Simanjuntak, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika

Stasiun Klimatologi Bangka Belitung

References

Kato, S. dkk. 1998. Dinamika Atmosfer. Bandung: Penerbit ITB.

Aldrian, E., L.D. Gates, dan F.H.Widodo (2007). Seasonal Variability of Indonesian Rainfall in ECHAM4 Simulations and in the Reanalyses: The Role of ENSO. Theoretical and Applied Climatology, 87. 41–59.

Ropelewski, C.F. dan Halpert, M.S. (1989). Precipitation patterns associated with high index phase of Southern Oscillation. Journal Climate, 2, 268-284.

Allan, R., Lindesay, J. dan Parker, D. 1996. El Niño-Southern Oscillation and Climatic Variability. CSIRO Publishing: Victoria.

Power, S., Casey, T., Folland, C., Colman, A. dan Mehta, V. (1999a). Inter-decadal modulation of the impact of ENSO on Australia. Climate Dynamics, 15, 234-319.

Aldrian, E. 2008. Meteorologi Laut Indonesia. Jakarta: Badan Meteorologi dan Geofisika.

Trenberth, K.E. (1997). The Definition El Nino. Bulletin of the American Meteorological Society, 78(12), 2771-2777.

Trenberth, K.E., dan D.Sea. (1987). On the Evolution of the Shouthern Oscillation. Mon. Weather Rev., 112, 326-332.

Harrison, D.E., Larkin, N.K. (1998). El Nino-Southern Oscillation Sea Surface Temperature and Wind Anomalies, 1946-1993. Reviews of Geophysics, 36, 3, 1998, 353-399.

Hamada, J.I., 1995. “Climatological Study on Rainfall Variation in Indonesiaâ€. Master Thesis, Kyoto University.

Ramage, C.S. 1971. Monsoon Meteorology. Academic Press: New York.

Tjasyono, B.H.K., 2004, Klimatologi, Penerbit ITB: Bandung.

McBride. 2002. “Kapan Hujan Turun? Dampak Osilasi Selatan dan El-Niño di Indonesia?â€.

Yananto, A. dan Sibarani, R. M. (2016). Analisis Kejadian El Nino dan Pengaruhnya terhadap Intensitas Curah Hujan di Wilayah Jabodetabek (Studi Kasus: Periode Puncak Musim Hujan Tahun 2015/2016). Jurnal Sains dan Teknologi Modifikasi Cuaca, 17(2), 65-73.

Downloads

Published

2023-02-26

Issue

Section

Articles