PENGARUH JARAK TANAM DAN N,P,K TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN PADI PADA LAHAN PASANG SURUT
DOI:
https://doi.org/10.26418/jspe.v3i1.4564Abstract
Pengaruh Jarak Tanam Dan N, P, K Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Padi Pada Lahan Pasang Surut
Rinni Zulwidianty (1) Kiswan Muhammad dan Nurjani (2)
Mahasiswa Fakultas Pertanian dan (1) Staf Pengajar Fakultas Pertanian(2)
Universitas Tanjungpura Pontianak
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jarak tanam dan pemberian pupuk N,P,K terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman padi pada lahan pasang surut. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen lapangan dengan pola Rancangan Acak Kelompok Faktorial (RAKF), yang terdiri dari 2 faktor, yaitu kombinasi dari 3 tingkat jarak tanam j1= jarak tanam 10 x 20 cm, j2 = jarak tanam 20 x 20 cm dan j3 = jarak tanam 30 x 20 cm, dan 5 tingkat dosis pemupukan p1 = 50gr Urea + 75gr SP-36 + 33gr KCl, p2 = 62,5gr Urea + 75 gr SP-36 + 33gr KCl, p3 = 75gr Urea + 75gr SP-36 + 33gr KCl, p4 = 87,5gr Urea + 75gr SP-36 + 33gr KCl, dan p5 = 100gr Urea + 75gr SP-36 + 33gr KCl. Dimana 5 tingkat dosis pemupukan itu masing-masing diulang sebanyak 3 kali. Serta 5 tanaman sebagai sampel. Sehingga terdapat 45 petak perlakuan. Variabel yang diamati pada penelitian adalah tinggi tanaman, jumlah anakan maksimum, jumlah anakan produktif, jumlah gabah per malai, persentase gabah isi per malai, bobot 1000 butir gabah, dan hasil gabah kering per petak. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa perlakuan Jarak Tanam berpengaruh nyata terhadap variabel Jumlah anakan Produktif, Jumlah Gabah per Malai dan Persentase Gabah Isi per Malai. Sedangkan perlakuan N, P, K berpengaruh nyata terhadap variabel Persentase Gabah Isi per Malai. Untuk Interaksi antara kedua perlakuan berpengaruh tidak nyata terhadap semua variabel pengamatan. Perlakuan J3 memberikan rerata tertinggi pada variabel jumlah anakan produktif yaitu 10,16 batang, jumlah gabah per malai yaitu 116,22 butir, dan persentase gabah isi per malai yaitu 85,22 %, serta perlakuan P2 memberikan rerata tertinggi pada variabel persentase gabah isi per malai yaitu 85,44 %.
Kata Kunci : Jarak Tanam, N, P, K, Varietas Inpara 3 dan Lahan Pasang Surut
The Effect of Plant Rangeand N, P, K Fertilizer On Growth and Yield of Rice in Tidal Field
Rinni Zulwidianty(1)Kiswan Muhammad and Nurjani(2)
Agriculture Faculty Student(1) and Lecturer(2)
Pontianak Tanjungpura University
ABSTRACT
This study aimed to determine the effect of range and N , P , K fertilizer on growth and yield of rice in tidal fiels. Used method is field experiment with pattern Randomized Factorial Group Design (RFGD), which consists of two factors , combinationconsist of 3 levels j1 range = range of 10 x 20 cm , j2 = range of 20 x 20 cm and j3 = range of 30 x 20 cm , and 5 dose levels of Urea fertilizer p1 = 50gr Urea + 75gr SP-36 + 33gr KCl , p2 = 62.5gr Urea + 75gr SP-36 + 33gr KCl , p3 = 75gr Urea + 75gr SP-36 + 33gr KCl , p4 = 87.5gr Urea + 75gr SP-36 + 33gr KCl, and p5 = 100gr Urea + 75gr SP-36 + 33gr KCl . Where 5 dose levels of each fertilizer was repeated 3 times with 5 plants samples. So there are 45 plots treatment. Observed variable were plant height, maximum number of tillers, number of productive tillers, number of grains per panicle, percentage of filled grains per panicle, 1000 grain weight of grain, and dry grain yield per plot. Research results showed that the treatment significantly affected Planting Distancevariable Total Productive tillers , number and percentage of Grain per MalaiMalai Rice Contents per . While the treatment of N , P , K significantly affect the contents of a variable percentage of Grain per Malai . For the interaction effect between the two treatments did not significantly affect all variables observations. J3 treatment gave the highest rates on the variable number of productive tillers 10.16 stems, number of grains per panicle is 116.22 points, and the percentage of filled grain per panicle is 85.22 %, and the treatment of p2 provides the highest rates on variable percentage of filled grain per panicle are 85.44 % .
Keywords : Plant Range, N , P , K, Inpara Variety 3, and Tidal Fiels
PENDAHULUAN
Padi (Oryza sativa L.) merupakan bahan makanan pokok bagi sebagian besar penduduk Indonesia. Meskipun padi dapat digantikan oleh makanan lainnya, namun padi memiliki nilai tersendiri bagi orang yang biasa makan nasi dan tidak dapat dengan mudah digantikan oleh bahan makanan yang lain. Padi adalah salah satu bahan makanan yang mengandung gizi dan penguat yang cukup bagi tubuh manusia, sebab didalamnya terkandung bahan yang mudah diubah menjadi energi. Oleh karena itu padi disebut juga makanan energi. Produksi padi di Kalimantan Barat pada tahun 2009 sebesar 1.007.896 ton dari lahan seluas 294.227 ha, dengan rata-rata produksi per hektar adalah 3,418 ton, ternyata masih rendah jika dibandingkan dengan rata-rata nasional yang mencapai 4,999 ton/ha, sedangkan produksi padi di Kalimantan Barat pada tahun 2010 sebesar 882.822 dari lahan seluas 267.055 ha, dengan rata-rata produksi per hektar adalah 3,465 ton, sedangkan produksi padi nasional dengan rata-rata 5,014 (BPS Kalbar, 2011). Rendahnya produktivitas di Kalimantan Barat tersebut disebabkan oleh kurangnya pemeliharaan secara intensif, cara pemupukan yang kurang tepat pada suatu jenis tanaman padi dilahan, terutama dilahan pasang surut, sehingga perlu adanya peningkatan produktivitas tanaman padi. Upaya untuk meningkatkan produktivitas tanaman padi yaitu dengan cara ekstenfikasi dan intensifikasi. Peningkatan produktivitas padi dengan cara Ekstensifikasi yaitu dengan pemanfaatan lahan marginal seperti lahan pasang surut yang ada di Kalimantan Barat, dan cara intensifikasi yaitu dengan penggunaan benih unggul, pemupukan yang seimbang dan cara budidaya yang benar.
Adapun usaha dalam mengatasi hal tersebut yaitu diperlukan varietas padi yang toleran terhadap kondisi iklim yang ekstrim tersebut. Inovasi teknologi Varietas Unggul Baru (VUB) untuk mengantisipasi perubahan iklim tersebut seperti menggunakan padi varietas Inpara-3 karena padi varietas ini sangat toleran terhadap rendaman pada fase vegetatif, serta dapat tumbuh dengan baik khususnya pada sawah pasang surut dengan hasil produksi yang tinggi. Dalam upaya meningkatkan hasil padi di lahan pasang surut pada tanah alluvial maka dilakukan penelitian penggunaan jarak tanam dan N, P, K yang diharapkan dapat meningkatkan hasil produksi tanaman padi pada lahan pasang surut.
METODE PENELITIAN
Penelitian dilaksanakan di Desa Sei. Kakap Kecamatan Sei. Kakap Kabupaten Kubu Raya pada tanah alluvial dengan pH 4,87 di lahan pasang surut tipe C dengan ketinggian tempat 0-1 m dpl. Penelitian berlangsung selama 4 bulan dimulai dari persemaian pada tanggal 30 Desember 2012 hingga panen pada tanggal 12 April 2013.
Bahan dan alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih padi, pupuk, pestisida, herbisida, perlengkapan bercocok tanam seperti traktor singkal, cangkul, sabit, parang, garu, meteran, tali raffia, tugal, timbangan, alat semprot, alat tulis, mulsa yang digunakan untuk pagar, dan perlengkapan dokumentasi yang berhubungan dengan penelitian.
Penelitian ini menggunakan percobaan Rancangan Acak Kelompok Faktorial (RAKF) yang terdiri dari dua faktor. Perlakuan yang dimaksud adalah jarak tanam yang diberi dengan simbol (J) dengan 3 taraf perlakauan yaitu : 10cm x 20cm (J1), 20cm x 20cm (J2) dan 30cm x 20 cm (J3), sedangkan pemberian pupuk (N, P, K) diberi simbol (P) dengan 5 taraf perlakuan yaitu : 50gr urea+75gr SP36+33gr KCl (P1), 62,5gr urea+75gr SP36+33gr KCl (P2), 75gr urea+75gr SP36+33gr KCl (P3), 87,5gr urea+75gr SP36+33gr KCl (P4), dan 100gr urea+75gr SP36+33gr KCl (P5), dengan masing-masing perlakuan terdiri dari 3 ulangan, setiap ulangan diambil 5 sampel tanaman.
Pelaksanaan penelitian seperti : persiapan lahan, persemaian, penanaman, pemupukan, pemeliharaan tanaman (penyulaman, penyiangan gulma, dan pengendalian hama penyakit), serta pemungutan hasil atau panen. Variabel yang diamati adalah tinggi tanaman (cm), jumlah anakan maksimum (batang), jumlah anakan produktif (batang), jumlah gabah per malai (butir), persentase gabah isi per malai (%), berat 1000 butir gabah (g), dan berat gabah kering per petak (kg).
HASIL DAN PEMBAHASAN
- Tinggi Tanaman (cm)
Berdasarkan hasil analisis keragaman pengaruh jarak tanam dan N, P, K diketahui berpengaruh tidak nyata terhadap tinggi tanaman.
- Jumlah Anakan Maksimum (batang)
Berdasarkan hasil analisis keragaman pengaruh jarak tanam dan N, P, K diketahui berpengaruh tidak nyata terhadap jumlah anakan maksimum.
- Jumlah Anakan Produktif (batang)
Berdasarkan hasil analisis keragaman pengaruh jarak tanam berpengaruh nyata terhadap jumlah anakan produktif, sehingga dilanjutkan uji BNJ 5% yang dapat dilihat pada tabel 5 sebagai berikut:
Tabel 5. Uji BNJ 5% Pengaruh Jarak Tanam Terhadap Jumlah Anakan Produktif
Perlakuan
Rerata
J1
J2
7,45 b
8,7 ab
J3
10, 16 a
BNJ 5 % = 1,78
Sumber : Hasil Analisis Data Penelitian 2013
Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama dalam satu kolom berbeda tidak nyata pada taraf uji BNJ 5%
Berdasarkan hasil uji BNJ pada tabel 5 menunjukkan bahwa jumlah anakan produktif yang ditanam pada jarak tanam 30cm x 20cm (J3) berbeda nyata terhadap jumlah anakan produktif yang ditanam pada jarak tanam 10cm x 20cm (J1), sedangkan berbeda tidak nyata terhadap jumlah anakan produktif yang ditanam pada jarak tanam 20cm x 20cm (J2). hal ini dapat dipahami bahwa pada perlakuan jarak tanam rapat, jumlah daun secara komunitas lebih banyak dibandingkan dengan jarak tanam lebar sehingga luas fotosintesis lebih tinggi. Jarak tanam berpengaruh terhadap kerapatan tanaman. Pada kerapatan tanaman yang tinggi terdapat persaingan tanaman untuk mendapatkan cahaya. (Wuryaningsih,1995).
Pada jarak tanam yang rapat (10 cm x 20 cm) tanaman yang dipupuk dengan takaran rendah sampai sedang tidak menunjukkan peningkatan jumlah anakan produktif yang nyata, namun apabila dipupuk dengan takaran yang tinggi akan meningkatkan jumlah anakan secara nyata. Bila jarak tanam yang digunkan lebih lebar (30 cm x 20 cm) penambahan takaran pupuk meningkatkan jumlah anakan produktif pada tanaman. Hal ini disebabkan dengan peningkatan takaran pupuk berarti meningkatkan ketersediaan unsur hara bagi tanaman dengan tersedianya unsur hara yang cukup maka pertumbuhan dan perkembangan tanaman tidak akan terhambat. Dijelaskan oleh Hardjowigeno dan Rayes (2005), yang mengatakan bahwa perlu diperhatikan ketersediaan unsur N dan P agar unsur yang diserap tanaman terdapat dalam keadaan seimbang. Hal ini diketahui bahwa fungsi unsur P adalah untuk memacu pertumbuhan generatif tanaman. Terbentuknya anakan produktif yaitu berasal dari anakan yang terbentuk pada masa vegetatif sebelumnya. Anakan yang terbentuk pada fase vegetatif tidak semuanya yang menghasilkan malai, artinya terdapat satu atau lebih anakan yang telah terbentuk dan tidak berproduksi.
- Jumlah Gabah per Malai (butir)
Berdasarkan hasil analisis keragaman pengaruh jarak tanam berpengaruh nyata terhadap jumlah gabah per malai, sehingga dilanjutkan uji BNJ 5% yang dapat dilihat pada tabel 7 sebagai berikut:
Tabel 7. Uji BNJ 5% Pengaruh Jarak Tanam Terhadap Jumlah Gabah per Malai
Perlakuan
Rerata
J1
J2
102,01 b
111,74 a
J3
116,22 a
BNJ 5 % = 8,66
Sumber : Hasil Analisis Data Penelitian 2013
Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama dalam satu kolom berbeda tidak nyata pada taraf uji BNJ 5%
Berdasarkan hasil uji BNJ pada tabel 7 menunjukkan bahwa jumlah gabah per malai yang ditanam pada jarak tanam 30cm x 20cm (J3) dan 20cm x 20cm (J2) berbeda nyata terhadap jumlah gabah per malai yang ditanam pada jarak tanam 10cm x 20cm (J1), hal ini disebabkan karena pada jarak tanam lebar itu memiliki ruang gerak untuk menyebar serta masuk lebih dalam ke permukaan tanah sehingga tanaman dapat mengambil air dan unsur hara lebih banyak, tidak mengalami persaingan dalam penyerapan cahaya matahari untuk proses fotosintesis sehingga jumlah gabah yang dihasilkan lebih banyak.
Pembentukan jumlah gabah per malai erat kaitannya dengan faktor lingkungan karena bila faktor lingkungan sesuai maka jumlah malai dan gabah akan optimal. Salah satu faktor lingkungan yang sangat berpengaruh terhadap jumlah gabah per malai adalah sinar matahari. Sinar matahari pada pembentukan malai berhubungan erat dengan proses fotosintesis. Laju fotosintesis sangat ditentukan oleh sinar matahari yang sampai ke permukaan daun. Daya tangkap varietas unggul yang tinggi menyebabkan laju fotosintesis tinggi pula akibatnya varietas unggul memerlukan unsur hara yang banyak untuk memenuhi kebutuhan hara padi bila di dalam tanah tidak mencukupi. Hal ini ditegaskan oleh Fagi dan Las (1989) yang menyatakan bahwa semakin banyak hasil fotosintesis tanaman maka jumlah bunga yang berkembang menjadi buah atau biji dalam suatu malai juga akan semakin banyak. Oleh karena itu, jika fotosintesis berjalan dengan baik maka bunga yang terbentuk dalam satu malai juga akan semakin banyak.
- Persentase Gabah Isi per Malai (%)
Berdasarkan hasil analisis keragaman pengaruh jarak tanam dan N, P, K berpengaruh nyata terhadap persentase gabah isi per malai, sehingga dilanjutkan uji BNJ 5% yang dapat dilihat pada tabel 9 sebagai berikut:
Tabel 9. Uji BNJ Interaksi Pengaruh Jarak Tanam dan N, P, K Terhadap Persentase Gabah Isi per Malai
Jarak Tanam
Rerata
J1
80 b
J2
83,87 ab
J3
85,22 a
BNJ 5% = 4,13
N, P, K
Rerata
p1
76 b
P2
84,88 a
P3
85,44 a
P4
83,77 a
P5
84,55 a
BNJ 5% = 6,28
Sumber : Data Hasil Pengamatan 2013.
Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama berbeda tidak nyata pada uji BNJ 5%
Berdasarkan tabel 9 didapatkan bahwa perlakuan jarak tanam 30cm x 20cm (J3) berbeda nyata terhadap perlakuan jarak tanam 10cm x 20cm (J1), namun berbeda tidak nyata terhadap perlakuan jarak tanam 20cm x 20cm (J2). Perlakuan pupuk menunjukkan bahwa perlakuan P5, P4, P3 dan P2 berbeda nyata terhadap perlakuan P1. Sedangkan antara perlakuan P5, P4, P3 dan P2 berbeda tidak nyata. Jumlah gabah yang dihasilkan dari suatu malai yang terdapat pada suatu rumpun belum seluruhnya menggambarkan banyaknya hasil yang akan diperoleh. Hal ini disebabkan oleh adanya gabah yang tidak bernas atau hampa dalam suatu malai. Banyaknya gabah yang tidak bernas akan sangat menentukan terhadap persentase gabah bernas atau gabah isi. Dari data rerata persentase gabah isi per malai menunjukkan bahwa 87,05 % merupakan gabah yang bernas, sedangkan sisanya sebesar 12,95 % adalah gabah hampa. Hal ini menunjukkan bahwa hasil penelitian memperoleh gabah bernas cukup banyak.
Tingginya persentase gabah bernas disebabkan oleh baiknya pertumbuhan vegetatif tanaman dan tersedianya unsur hara P yang dapat mempengaruhi pengisian biji karena unsur P sangat dibutuhkan tanaman dan berperan vital dalam pembentukan buah dan biji. Banyaknya unsur hara yang diserap oleh tanaman padi juga berpengaruh positif terhadap persentase gabah isi terutama penyerapan unsur N, P, dan K. Unsur N berpengaruh dalam proses fotosintesis untuk pembentukan biji atau gabah.
Hal ini didasarkan pada pendapat Lakitan (1995) yang mengatakan bahwa sebagian besar gabah bernas atau gabah isi berasal dari asimilat yang dihasilkan setelah pembungaan. Unsur P pada tanaman padi berguna untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan akar, sedangkan unsur K dapat membantu dalam pembentukan karbohidrat dan meningkatkan besar gabah isi (Lingga, 1990).
- Berat 1000 butir Gabah
Berdasarkan hasil analisis keragaman pengaruh jarak tanam dan N, P, K diketahui berpengaruh tidak nyata terhadap berat 1000 butir gabah.
- Gabah Kering per Petak
Berdasarkan hasil analisis keragaman pengaruh jarak tanam dan N, P, K diketahui berpengaruh tidak nyata terhadap gabah kering per petak.
Rangkuman Hasil Penelitian
Rangkuman Uji (BNJ) dan rerata hasil pengamatan pengaruh jarak tanam dan N, P, K terhadap pertumbuhan dan hasil padi varietas Inpara 3 dapat dilihat pada tabel 12 dan 13 berikut ini:
Tabel 12. Rekapitulasi Uji BNJ Pengaruh Jarak Tanam Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Padi Varietas Inpara 3 pada Lahan Pasang Surut
Perlakuan
Tinggi Tanaman Minggu ke-8(cm)
Jumlah Anakan Maksimum Minggu ke-8(batang)
Jumlah Anakan Produktif (batang)*
Jumlah Gabah perMalai (butir)*
Persentase Gabah Isi perMalai (%)*
Berat 1000 butir Gabah (gr)
Gabah Kering perPetak (kg)
J1
59
24,8
7,45 b
102,01 b
80 b
23,24
3
J2
57,86
24,96
8,7 ab
111,74 a
83,87 ab
24,48
2,7
J3
57,61
25,24
10,16 a
116,22 a
85,22 a
24,03
3
BNJ 5% = 1,78
BNJ 5% = 8,66
BNJ 5% = 4,13
Sumber : Data Hasil Pengamatan 2013.
Keterangan : * = berpengaruh nyata
Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama berbeda tidak nyata pada uji BNJ 5%
Tabel 13. Rekapitulasi Uji BNJ Pengaruh N, P, K Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Padi Varietas Inpara 3 pada Lahan Pasang Surut
Perlakuan
Tinggi Tanaman Minggu ke-8(cm)
Jumlah Anakan Maksimum Minggu ke-8(batang)
Jumlah Anakan Produktif (batang)
Jumlah Gabah perMalai (butir)
Persentase Gabah Isi perMalai (%)*
Berat 1000 butir Gabah (gr)
Gabah Kering perPetak (kg)
P1
63,03
23,93
8,31
110,31
76 b
23,52
2,75
P2
60,33
25,71
9,02
105,34
85,44 a
24,49
2,75
P3
55,10
25,95
8,64
109,71
84,88 a
23,94
2,8
P4
56,02
25,31
9,13
108,19
83,77 a
24,22
2,73
P5
56,32
24,08
8,75
116,39
84,55 a
23,42
2,65
BNJ 5% = 6,28
Sumber : Data Hasil Pengamatan 2013.
Keterangan : * = berpengaruh nyata
Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama berbeda tidak nyata pada uji BNJ 5%
Berdasarkan hasil analisis keragaman terhadap semua variabel pengamatan diketahui bahwa perlakuan Jarak Tanam berpengaruh nyata terhadap variable Jumlah Anakan Produktif, Jumlah Gabah per Malai dan Persentase Gabah Isi per Malai. Hasil analisis keragaman perlakuan N, P, K berpengaruh nyata terhadap Persentase Gabah Isi per Malai. Sedangkan Interaksi diantara kedua perlakuan berpengaruh tidak nyata terhadap semua variabel pengamatan.
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat diambil kesimpulan bahwa perlakuan jarak tanam 30cm x 20cm (J3) memberikan rerata tertinggi pada variabel Jumlah Anakan Produktif, Jumlah Gabah per Malai dan Persentase Gabah Isi per Petak. Sedangkan perlakuan N, P, K 62,5gr urea + 75gr sp-36 + 33gr kcl (P2) memberikan rerata tertinggi pada variabel Persentase Gabah Isi per Malai. Untuk Interaksi diantara kedua perlakuan berpengaruh tidak nyata terhadap semua variabel pengamatan.
- B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian, penulis dapat menyarankan yaitu untuk mendapatkan hasil produksi padi yang optimal, dianjurkan untuk mempertimbangkan penggunaan lahan pasang surut sebagi lahan penelitian karena pada lahan pasang surut untuk budidaya tanaman padi memiliki masalah, yaitu airnya. Areal penanaman padi akan tergenang jika musim penghujan dan kering pada musim kemarau.
DAFTAR PUSTAKA
Badan Pusat Statistik. 2011. Kalimantan Barat Dalam Angka 2010, Badan Pusat Statistik Kalimantan Barat: Pontianak.
Fagi, A. dan I. Las, 1989, Lingkungan Tumbuh Tanaman Padi, Dalam Padi Buku I. Balai Penelitian Tanaman Pangan, Bogor.
Hardjowigeno, S. dan L. Rayes. 2005.Tanah Sawah Karakteristik Kondisi Dan Permasalahan Tanah Sawah Di Indonesia. Bayu Media: Malang.
Lakitan, B, 1995, Fisiologi Tanaman Tropik, Andi Offset: Yogyakarta.
Lingga, P., 1990, Petunjuk Penggunaan Pupuk Swadaya: Jakarta.
Wuryaningsih, S. 1995. Pengaruh Jarak Tanam Dan Dosis N Terhadap Pertumbuhan Dan Produksi Bunga Mawar Kultivar Cherry Brendy. J. Hort. 5 (2) ; 76-80