KLASIFIKASI AREA RAWAN LONGSOR MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) DI KECAMATAN SAMALANTAN KABUPATEN BENGKAYANG

Authors

  • Oscar Fradiksa Sanjaya Soil Science Department, Faculty of Agriculture, Tanjungpura University
  • Ari Krisnohadi Soil Science Department, Faculty of Agriculture, Tanjungpura University
  • Rini Hazriani Soil Science Department, Faculty of Agriculture, Tanjungpura University

DOI:

https://doi.org/10.26418/jspe.v14i2.57322

Keywords:

Longsor, Klasifikasi, Pemetaan, SIG, Samalantan

Abstract

Tanah longsor merupakan bencana alam berupa pergerakan massa tanah dalam jumlah besar dalam waktu yang singkat, berpotensi menyebabkan kerusakan bahkan   menimbulkan korban jiwa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memetakan penyebaran kawasan rawan bencana  tanah longsor di Kecamatan Samalantan serta menentukan faktor yang berpengaruh besar terhadap potensi longsor, sekaligus memetakan sebaran tingkat kerawanan longsor di area penelitian. Penelitian dilakukuan dengan pembobotan terhadap faktor penyebab tanah longsor yaitu curah hujan, kemiringan lereng, penggunaan lahan, dan erodibilitas tanah. Hasil penelitian diperoleh lima kelas kerawanan longsor di Kecamatan Samalantan yaitu : tidak rawan dengan luas 5.737,35 Ha (23,62%), agak rawan dengan luas 9.485,16 Ha (39,64%), cukup rawan dengan luas 6.327,56 Ha (26,3%), rawan dengan luas 2.345,18 Ha (9,75%), dan sangat rawan dengan luas 164,83 Ha (0,69%). Faktor utama penyebab meningkatnya tingkat kerawanan longsor yaitu penggunaan lahan dan kemiringan lereng.

References

Arsyad, Sitanala. 1989. Konservasi Tanah dan Air. Bogor : IPB.

Arsyad, S. 2000. Konservasi Tanah dan Air, Edisi Kedua. Bogor: IPB.

Arsyad, S. 2006. Konservasi Tanah dan Air. IPB Press. Bogor.

Asdak, C. 1995. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

[BBSDLP] Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian. 2009. Identifikasi dan Karakterisasi Lahan Rawan longsor dan Rawan Erosi di Dataran Tinggi untuk Mendukung Keberlanjutan Pengelolaan Sumberdaya Lahan Pertanian. Laporan Tengah Tahun, DIPA 2009. Bogor: Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian.

[BPS] Badan Pusat Statistik. 2018. Kecamatan Samalantan Dalam Angka Tahun 2018. Bengkayang : Badan Pusat Statistik.

Jaya, I. N. S. 2002. Aplikasi Sistem Informasi Geografis untuk Kehutanan. Laboratorium Inventarisasi Sumberdaya Hutan, Fakultas Kehutanan IPB. Bogor.

Junaedi, A. 2008. Konsistensi dan Inkonsistensi Pemanfaatan Ruang dan Implikasinya Terhadap Pelaksanaan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Sumedang. Tesis. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor

Karnawati, D. 2001. Bencana Alam Gerakan Tanah Indonesia Tahun 2000 (Evaluasi dan Rekomendasi). Jurusan Teknik Geologi. Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

Kusratmoko, dkk. 2002. Aplikasi Sistem Informasi Geografis untuk Penentuan Wilayah Prioritas Penanganan Bahaya Erosi. Jakarta: Jurusan Geografi dan Pusat Penelitian Geografi Terapan Fakultas MIPA Universitas Indonesia.

Lillesand T.M dan R.W. Kiefer. 1997. Penginderaan Jauh dan Interpretasi Citra. Diterjemahkan : Dulbahri, Prapto Suharsono, Hartono, Suharyadi. Gajah Mada University Press. Yogyakarta

Litbang Departemen Pertanian. 2006. Pedoman Umum Budidaya Pertanian di Lahan Pegunungan.http://litbang.deptan.go.id/regulasi/one/12/file/BAB-II.pdf (15 Jan 2019)

Munibah, K. 2008. Model Penggunaan Lahan Berkelanjutan di DAS Cidanau, Kabupaten Serang, Provinsi Banten. Disertasi. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor

Mustafril. 2003. Analisis Stabilitas Lereng Untuk Konservasi Tanah dan Air di Kecamatan Banjarwangi Kabupaten Garut. Tesis. Program Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor.

Purnamasari. D. C. 2007. Aplikasi Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis dalam Evaluasi Daerah Rawan Longsor di Kabupaten Banjarnegara (Studi Kasus di Gunung Pawinihan dan Sekitarnya, Desa Sijeruk, Kecamatan Banjarmangu, Kabupaten Banjarnegara). Skripsi. Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata. Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor

Purwantara, S dan Nursa’ban, M. 2012. Pengukuran Tingkat Bahaya Bencana Erosi di Kecamatan Kokap. Geomedia 10 (1): 111-128.

Prahasta, E. 2001. Konsep-konsep Dasar SIG. Informatika. Bandung.

Sitorus, Santun. R. P. 2006. Pengembangan Lahan Berpenutupan Tetap Sebagai Kontrol Terhadap Faktor Resiko Erosi dan Bencana Longsor. Direktorat Jenderal Penataan Ruang Departemen Pekerjaan Umum. Jakarta.

Soepraptohardjo, M. 1961. Jenis-jenis Tanah di Indonesia. Lembaga Penelitian Tanah. Bogor.

Sudrajat, A. 2007. Menunggu Longsor. http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/112007/16/0901.htm (15 Jan 2019).

Suripin. 2002. Pelestarian Sumberdaya Tanah dan Air. Yogyakarta : Andi.

Suryolelono, K. B. 2005. Bencana Alam Tanah Longsor Perspektif Ilmu Geoteknik. Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Fakultas Teknik UGM. UGM Press. 96.

Wischmeier WH, Smith DD. 1978.Predicting rainfall erosion losses a guide to conservation planning. New York (US): Department of agriculture, agriculture Handbook. No. 537.

Downloads

Published

2025-02-13

Issue

Section

Articles