PENGARUH INOKULASI RHIZOBIUM DAN PUPUK FOSFAT TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL KEDELAI EDAMAME PADA TANAH ALUVIAL
DOI:
https://doi.org/10.26418/jspe.v12i4.63145Keywords:
Kata Kunci, Edamame, Inokulasi Rhizobium, Pupuk Fosfat, Tanah AluvialAbstract
merupakan salah satu tanaman pangan yang banyak dibudidayakan oleh petani diIndonesia. Edamame bisa dimanfaatkan sebagai makanan sela atau cemilan, makanan pembuka, dan berbagai olahan lainnya. Tanah Aluvial sebagai media tumbuh tanaman edamame mempunyai beberapa kendala seperti pH rendah, struktur tanah menggumpal, mudah tergenang, penyediaan air dan udara yang buruk, dan kurangnya kandungan unsur hara serta bahan organik pada tanah. Selain faktor tanah ketersediaan unsur hara seperti N merupakan unsur paling penting dalam pertumbuhan edamame. Namun ketersediaan N didaerah tropis seperti indonesia tergolong rendah maka perlu dilakukan inokulasi Rhizobum yang berperan dalam menambat N diudara sehingga diharapkan dapat memenuhi kebutuhan N pada tanaman kedelai dan pemberiaan pupuk Fosfat sebagai penunjang simbiosis antara rhizobium dan tanaman kedelai edamame. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mendapatkan interaksi dosis Rhizobium dan pupuk fosfat yang memberikan pertumbuhan dan hasil edamame terbaik pada tanah Aluvial. Penelitian dilakukan selama kurang lebih 3 bulan yang dimulai sejak 15 Agustus 2022 sampai dengan 22 oktober 2022. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial yang terdiri dari 2 faktor perlakuan. Faktor inokulasi rhizobium 3 taraf, dan faktor pupuk Fosfat 3 taraf. Perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Perlakuan yang dimaksud adalah faktor pertama r0= 0 g/kg benih, r1= 4 g/kg benih, r2= 8 g/kg benih, faktor kedua p1= 150 kg/ha pupuk Fosfat setara dengan 28,8 g/petak, p2= 200 kg/ha pupuk Fosfat setara dengan 38,4 g/petak, p3= 250 kg/ha pupuk Fosfat setara dengan 48 g/petak. Variabel pengamatan meliputi tinggi tanaman, berat kering tanaman, jumlah bintil akar efektif, jumlah bintil keseluruhan, jumlah polong pertanaman, berat polong pertanaman, dan berat polong perpetak. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan, didapatkan kesimpulan bahwa (1) pengaruh tunggal inokulasi rhizobium dosis 4g/kg benih memberikan pengaruh yang nyata terhadap hampir seluruh variabel pengamatan kecuali pada parameter tinggi tanaman (2) pengaruh tunggal pemberian pupuk fosfat memberikan pengaruh yang tidak nyata terhadap semua variabel pengamatan dan tidak menunjukan adanya interaksi antara perlakuan rhizobium dan posfat terhadap semua variabel pengamatan.
References
Adisarwanto. 2014. Kedelai Tropika Produktivitas 3 ton/ha, Jakarta : Penebar Swadaya.
Ardjasa, W.S., Moersidi, S., dan Joko, S. 2000. Peranan Mikroba Penambat N dan Pelarut P dari pupuk hayati E-2001 dalam Peningkatan Efektifitas Pupuk dan Produktifitas Padi Sawah Sistem Tabella dan TOT pada Sawah Irigasi. Dalam Prosiding Pemanfaatan Teknologi Pertanian Spesifik Lokasi Ekoregional Sumatra-Jawa. Bandar Lampung 22-23 Maret 2000.
Badan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Barat. 2019. Kalimantan Barat Dalam Angka. Pontianak : Badan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Barat.
Gardner, F. P., Pearce, R. B dan Mitchell, R. L. 1991 Fisiologi Tanaman Budaya. Jakarta: UI Press.
Hanafiah, K. A. 2012. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Hidayat, nur dkk. 2006. Mikrobiologi Industri. C.V Andi Offset : Yogyakarta.
Jumin, H.B. 1992. Ekologi Tanaman; Suatu Pendekatan Fisiologi. Jakarta: Rajawali Press.
Pambudi, S. 2013. Budidaya Dan Khasiat Kedelai Edamame. Yogyakarta: Pustaka Baru Press
Rao, N. S. S., 1994. Mikroorganisme Tanah Dan Pertumbuhan Tanaman. Jakarta: UI Press.
Sanchez, P.A. 1992. Sifat dan Pengelolaan Tanah Tropika. Jilid 1. ITB. Bandung.
Tenaya, I Made Narka 2015.Pengaruh Interaksi dan Nilai Interaksi Pada Percobaan Faktorial. Jurnal Agrotop, 5(1):9-20. Fakultas Pertanian Universitas Udayana. Bali
Triadiati, Nisa R, dan Yoan R. 2013. Respon Pertumbunan Tanaman Kedelai terhadap Bradyrhizobium japonicum Toleran Masam dan Pemberian Pupuk di Tanah Masam. Jurnal Agronomi Indonesia. 4(1): 24-31.