RESPON PERTUMBUHAN DAN HASIL CABAI RAWIT TERHADAP PEMBERIAN RED MUD DAN PUPUK NPK PADA TANAH GAMBUT
DOI:
https://doi.org/10.26418/jspe.v13i1.63705Keywords:
Cabai Rawit, Gambut, NPK, Red MudAbstract
Cabai rawit merupakan tanaman hortikultura yang buahnya dimanfaatkan untuk keperluan aneka pangan. Produksi cabai rawit di Kalimantan Barat masih di bawah produksi nasional dengan produktivitas rata-rata Indonesia 6,59 ton/ha, oleh karena itu, produksi cabai di Kalimantan Barat perlu ditingkatkan agar dapat memenuhi kebutuhan pasar. Usaha untuk meningkatkan produktivitas cabai dapat dilakukan dengan melalui intensifikasi pada lahan yang potensial, salah satunya pada lahan gambut dengan memperbaiki kualitas tanah/lahan dengan pemberian red mud serta pemupukan NPK. Penelitian ini bertujuan untuk mendapat dosis interaksi terbaik dari pemberian red mud dan pupuk NPK terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman cabai rawit pada tanah gambut. Metode rancangan penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan dua faktor perlakuan yang diulang sebanyak 3 kali dan setiap ulangan terdiri dari 4 sampel tanaman. Faktor pertama adalah pemberian red mud yang terdiri dari 3 taraf yaitu: a1 = red mud dosis 16 ton/ha, a2 = red mud dosis 18 ton/ha, a3 = red mud dosis 20, dan faktor kedua adalah pemberian pupuk NPK dengan 3 taraf perlakuan yaitu: b1 = pupuk NPK 200 Kg/ha, b2 = pupuk NPK 250 Kg/ha dan b3 =pupuk NPK 300 Kg/ha. Pelaksanaan penelitian meliputi: persiapan tempat penelitian, penyiapan media, semai dan persemaian, persiapan media tanam, penanaman, pemupukan NPK, pemeliharaan tanaman dan pemanenan. Variabel yang diamati pada penelitian ini adalah sebagai berikut: Tinggi Tanaman (cm), Volume Akar (cm3), Berat Kering Tanaman (g), Jumlah Buah Per Tanaman (buah) dan Berat Buah Per Tanaman (g). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat interaksi antar red mud dan pupuk NPK, perlakuan faktor tunggal red mud dengan dosis 20 ton/ha dan pupuk NPK 300 kg/ha merupakan dosis terbaik untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil cabai rawit pada tanah gambut.
References
Alex, S. 2014. Usaha Tani Cabai, Kiat Jitu Bertanam Cabai di Segala Musim. Yogyakarta: Penerbit Pustaka Baru Press.
BPPP. 2016. Pengendalian Penyakit Antraknose pada Tanaman Cabai. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (BPPP) Indonesia.
BPS. 2021. Kalimanatan Barat dalam Angka. Pontianak: Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Barat.
Cahyono, B. 2003. Cabai Rawit. Teknik Budidaya dan Analisis Usana Tani. Kanisius: Yogyakarta.
Febrianti, D. K. 2016. Sintesis Alumina dari Red Mud Bintan dengan Variasi Rasio Hâ‚‚O: CTAB. Skripsi. Semarang: Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.
Harjadi, S.S. 2002. Pengantar Agronomi. Jakarta: Gramedia.
Iskandar, R. 2022. Pengaruh Kombinasi Biochar Tempurung Kelapa dan Pupuk NPK Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Cabai Merah Pada Tanah Gambut. Skripsi. Pontianak. Kalimantan Barat: Program Studi Agroteknologi, Universitas Tanjungpura.
Limbong, B, L. 2004. Redspon Pertumbuhan dan Produksi Tomat Terhadap Pemberian Pupuk Organik Kascing. Jurnal Online Agroteknologi. Universitas Brawijaya. 2(4)
Prasetyo, A. 2017. Pemanfaatan Kitosan untuk Pengendalian Penyakit Antraknosa (Colletricum sp.) pada Cabai (Capsicum annuum L.). Skripsi. Bogor: Fakultas Pertanian, Insitut Pertanian Bogor.
Pratama, A. 2021. Peranan Ameliorant Red Mud dan Pupuk Kandang Sapi Terhadap Ketersediaan Hara dan Pertumbuhan Tanaman Jagung Pada Lahan Pasca Tambang Bauksit Kabupaten Sanggau. Skripsi. Universitas Tanjungpura, Fakultas Pertanian, Program Studi Ilmu Tanah.
Weidenhoef. A, C. 2006. Plant Nutrion. New York: Chelsea House.