PENGARUH PUPUK KANDANG KOTORAN BURUNG PUYUH TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL SAWI PUTIH PADA TANAH ALUVIAL
DOI:
https://doi.org/10.26418/jspe.v3i3.6802Abstract
EFFECT OF QUAIL MANURE ON GROWTH AND YIELD
OF WHITE MUSTARD ON ALUVIAL SOIL
ABSTRACT
Utin Minarni 1), Nurjani 2) and Akhmad Mulyadi Sirojul 2)
1)Student of Agriculture Faculty, Tanjungpura University
2) Lecturer of Agriculture Faculty, Tanjungpura University
White mustard is one kind of vegetables favourite best by consumers and it have high nutrient content. This study aims to determine the dose of quail manure on growth and yield of white mustard on aluvial soil. The research carried out in the experimental farm of the faculty of agriculture Universitas Tanjungpura Pontianak. The study took place from September "“ October 2013. The method used was a completely randomized experimental design (CRD) with 1 factor, consisting of 6 treatments, 4 replications, each replication consisted of 3 samples of plants,so total of plant is 72 plants. Level treatment of quail manure that given was k0(without the quail manure), k1(200 g/polibek Pupuk Kandang Kotoran Burung Puyuh), k2(400 g/polibek Pupuk Kandang Kotoran Burung Puyuh), k3(600 g/polibek Pupuk Kandang Kotoran Burung Puyuh), k4(800 g/polibek Pupuk Kandang Kotoran Burung Puyuh), K5(1000 g/polibek Pupuk Kandang Kotoran Burung Puyuh). With the observation variables, namely plant height (cm), number of leaves (blade), leaf area (cm2), plant fresh weight (g), and root volume (cm3). Quail Manure have no real effect on the obser vation of variables plant height, leaf number, leaf area and root volume. The giving of quail manure significant to fresh weight of plant.
Keywords : Aluvial, Quail manure, White mustard
Pengaruh Pupuk Kandang Kotoran Burung Puyuh Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Sawi Putih Pada Tanah Aluvial
ABSTRAK
Utin Minarni1)Nurjani 2) dan Akhmad Mulyadi Sirojul 2)
1)Mahasiswa Fakultas Pertanian, Universitas Tanjungpura
2)Dosen Fakultas Pertanian, Universitas Tanjungpura
Sawi putih merupakan salah satu jenis sayuran yang digemari konsumen dan mempunyai kandungan gizi yang cukup tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan dosis Pupuk Kandang Kotoran Burung Puyuh yang terbaik terhadap pertumbuhan dan hasil Sawi putih pada tanah aluvial. Penelitian ini dilaksanakan dilingkungan kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura Pontianak. Penelitian berlangsung pada September "“ Oktober 2013. Metode Penelitian yang digunakan adalah Percobaan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 1 Faktor, terdiri dari 6 perlakuan yang diulang sebanyak 4 kali dan setiap perlakuan terdiri dari 3 sampel tanaman, jumlahnya tanaman seluruhnya berjumlah 72 tanaman. Dengan komposisi pemberian dosis Pupuk Kandang Kotoran Burung Puyuh sebagai berikut k0(0 g/polibek Puyuh Kandang Kotoran Burung Puyuh), k1(200 g /polibek Pupuk Kandang Kotoran Burung Puyuh), k2(400 g /polibek Pupuk Kandang Kotoran Burung Puyuh), k3(600 g /polibek Pupuk Kandang Kotoran Burung Puyuh), k4(800 g/polibek Pupuk Kandang Kotoran Burung Puyuh) dan k5(1000 g/polibek Pupuk Kandang Kotoran Burung Puyuh). Dengan variabel pengamatan yaitu tinggi tanaman (cm), jumlah daun (helai), luas daun (cm2), berat segar bagian tanaman (g) dan volume akar (cm3). Pemberian Pupuk Kandang Kotoran Burung Puyuh berpengaruh tidak nyata terhadap variabel pengamatan tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun dan volume akar. Sementara pemberian pupuk kandang kotoran burung puyuh berpengaruh nyata terhadap variabel pengamatan berat segar bagian tanaman.
Kata kunci : Aluvial, Pupuk Kandang Kotoran Burung Puyuh, Sawi Putih
PENDAHULUAN
Sawi putih (Brassica juncea) sebagai tanaman horikultura merupakan salah satu jenis sayuran yang banyak diminati dan disenangi masyarakat. Sawi ini sangat digemari oleh orang karena rasanya enak, daunnya lemas dan halus. Sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk serta kesadaran masyarakat akan pentingnya mengkonsumsi sayuran maka permintaan akan sayuran yang bernilai gizi tinggi dan permintaan akan jenis komoditi sayuran yang beraneka ragam semakin meningkatkan. Berdasarkan hal tersebut hendaknya dapat ditanggapi secara positif sebagai peluang untuk mengembangkan budidaya Sawi putih, dimana selain memiliki harga jual yang cukup tinggi, Sawi putih berumur singkat, dapat dipanen dalam waktu yang cepat sehingga dapat meningkatkan motivasi petani untuk mengembangkan usaha taninya.
Pemanfaatan tanah aluvial untuk media tanam Sawi putih dihadapkan pada sejumlah kendala, yaitu tingkat kemasaman tanah tinggi, struktur tanah yang kurang baik, dan kandungan bahan organik rendah. Upaya yang dapat dilakukan untuk memperbaiki kondisi tanah aluvial diantaranya adalah dengan pengapuran, pengolahan tanah yang baik, dan penambahan bahan organik. Pengapuran bertujuan untuk mengurangi kemasaman tanah, hingga diperoleh nilai pH tanah yang diperlukan oleh tanaman Sawi putih. Pengolahan tanah bertujuan untuk memperbaiki sifat fisik tanah. Penambahan bahan organik bertujuan untuk menambah kandungan bahan organik yang rendah pada tanah aluvial.
Pupuk kandang kotoran burung puyuh merupakan kotoran yang berasal dari ternak burung puyuh yaitu berupa kotoran padat yang telah bercampur dengan urine dan sisa- sisa makan dikandang. Menurut Hermanudin (2002), pupuk kandang kotoran burung puyuh tergolong panas, hal ini terbukti dengan adanya hawa panas saat tumpukkan pupuk kandangnya siap dimatangkan. Selain timbulnya panas. Pupuk kandang kotoran burung puyuh ini baunya lebih menyengat dibandingkan dengan pupuk kandang kotoran ayam atau unggas lainnya. Bau yang menyengat tersebut dipengaruhi oleh kadar protein yang terkandung dalam makan cukup tinggi. Sawi putih menghendaki kondisi tanah yang subur dan gembur, pH 5,8.
Berdasarkan kenyataan ini, pemberian pupuk kandang kotoran burung puyuh harus diperhatikan dosis pemberiannya agar tercapai efisiensi pemupukan. Pemberian pupuk kandang kotoran burung puyuh dengan dosis yang terlalu rendah kurang berperan dalam perbaikan sifat fisik, kimia, dan biologi tanah aluvial. Jadi, pada dosis berapa pemberian pupuk kandang kotoran burung puyuh yang efektif dapat mempengaruhi pertumbuhan dan hasil sawi putih?
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan di kebun Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura, Pontianak selama 2 bulan mulai bulan September sampai bulan Oktober 2013. Bahan yang digunakan diantaranya polibek berukuran 40cm x 40cm, gelas plastik bekas air minum untuk tempat penyemaian benih, benih sawi putih, pupuk dasar, pupuk kandang kotoran burung puyuh, kapur dolomit. Alat yang digunakan adalah arit, cangkul, ember, ayakan tanah, meteran, termometer, handspayer, higrometer, leaf area meter, alat tulis menulis, alat dokumentasi, timbangan elektrik dan tabung ukur.
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), pola sederhana yang terdiri dari 1 faktor perlakuan, yaitu perlakuan pemberian pupuk kandang kotoran burung puyuh yang terdiri dari 6 perlakuan yang diulang sebanyak 4 kali dan setiap perlakuan terdiri dari 3 sampel tanaman, jumlah tanaman seluruhnya adalah 72 tanaman. Adapun perlakuan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah k0 = 0 g/polibek pupuk kandang kotoran burung puyuh
k1 = 200 g/ polibek pupuk kandang kotoran burung puyuh
k2 = 400 g/polibek pupuk kandang kotoran burung puyuh
k3 = 600 g/polibek pupuk kandang kotoran burung puyuh
k4 = 800 g/polibek pupuk kandang kotoran burung puyuh
k5 = 1000 g/polibek pupuk kandang kotoran burung puyuh
PELAKSANAAN PENELITIAN
Pelaksanaan penelitian diawali dengan membersihkan areal dari gulma dan sampah. Kemudian tanah dicangkul dengan kedalaman 0 "“ 20 cm, kemudian tanah diangkat dengan menggunakan ember, diamparkan untuk proses pengeringan kemudian tanah yang sudah dikeringkan lalu diayak. Polibek yang digunakan sebagai media penanaman sawi putih ukuran polibek 40 x 40 cm dan dilubangi dengan diameter 1,5 cm dan jarak tanam 20 x30 cm. Pemberian pupuk kandang kotoran burung puyuh ditaburkan ke dalam polibek kemudian dicampur secara merata pada lapisan olah tanah dengan jumlah sesuai dengan perlakuan, setelah itu dilakukan pengapuran dan pemberian pupuk NPK dengan cara mencampurkan tanah olahan hingga merata, kemudian dilakukan inkubasi selama 2 minggu sebelum tanaman dipindahkan.
Penanaman dilakukan pada umur semai 24 hari, kondisi fisik bibit sawi putih memiliki rata- rata 4-5 helai daun, dengan tinggi rata "“ rata 4 "“ 5 cm. Selama penelitian dilakukan pemeliharaan tanaman antara lain: penyiraman, penyulaman, penyiangan gulma dan pengendalian hama dan penyakit. Panen dilakukan pada saat tanaman berumur 35 hari setelah tanam. Pemanenan dilakukan dengan cara mencabut tanam beserta akarnya dari media tanam secara hati "“ hati agar akarnya tidak putus, serta daun dan batang tidak sobek dan patah.
HASIL DAN PEMBAHASAN
- 1. Tinggi tanaman (cm)
Gambar 2. Tinggi Tanaman Sawi Putih Akhir Penelitian
- 2. Jumlah Daun ( helai )
Gambar 3. Jumlah Daun Tanaman Sawi Putih Tiap Perlakuan (helai)
Perlakuan pupuk kandang kotoran burung puyuh pada tanah aluvial meningkatkan jumlah daun tanaman sawi putih. Dosis pupuk kandang kotoran burung puyuh 800 g/polibek adalah dosis jumlah daun tertinggi pada penelitian ini yaitu 6,2475 helai.
- 3. Luas Daun (cm2)
Gambar 4. Analisis Luas Daun Pada Berbagai Perlakuan Pemberian Pupuk Kandang Kotoran Burung Puyuh (cm2)
Pemberian pupuk kandang kotoran burung puyuh pada tanah aluvial meningkatkan nilai luas daun sebagaimana terlihat pada Gambar 4. Perlakuan pada dosis 800 g/polibek adalah nilai luas daun tertinggi pada penelitian ini yaitu 1047,5 cm2. Luas daun terendah yaitu pada dosis tanpa pemberian pupuk kandang kotoran burung puyuh yaitu 442,5 cm2.
- 4. Berat Segar Per Tanaman (g)
Untuk mengetahui taraf perlakuan yang memberikan perbedaan terhadap berat segar per tanaman maka dilakukan Uji BNJ yang hasilnya dapat dilihat pada tabel 6.
Tabel 6. Uji BNJ Pengaruh Pupuk Kandang Kotoran Burung Puyuh Terhadap Berat Segar Per Tanaman (g)
Perlakuan Pupuk Kandang Kotoran Burung Puyuh (g/polibek)
Berat Segar Per Tanaman
(g)
(k0) 0 g/polibek
156,44 a
(k1) 200 g/polibek
274,85 ab
(k5) 1000 g/polibek
297,77 ab
(k3) 600 g/polibek
305,95 ab
(k2) 400 g/polibek
341,63 ab
(k4) 800 g/polibek
463,78 b
BNJ = 5% = 101,01
Ket : Angka yang diikuti dengan huruf yang sama menunjukkan perlakuan tersebut berbeda tidak nyata pada Uji BNJ 5%
Hasil Uji BNJ perlakuan Pupuk Kandang Kotoran Burung Puyuh terhadap berat segar per tanaman terlihat bahwa perlakuan pada dosis tanpa pupuk kandang kotoran burung puyuh berbeda tidak nyata terhadap perlakuan 200 g/polibek, 1000 g/polibek , 600 g/polibek dan 400 g/polibek, tetapi berbeda nyata dengan perlakuan 800 g/polibek.
Gambar 5. Berat Segar Per Tanaman Pada Berbagai Perlakuan Pemberian Pupuk Kandang Kotoran Burung Puyuh (g)
Pemberian pupuk kandang kotoran burung puyuh pada tanah aluvial meningkatkan nilai bobot segar per tanaman sebagaimana terlihat pada Gambar 5. Perlakuan pada dosis 800 g/polibek adalah nilai berat segar tertinggi pada penelitian ini yaitu 463,78 g. Berat segar terendah yaitu pada dosis tanpa pemberian pupuk kandang kotoran burung puyuh yaitu 156,44 g.
- 5. Volume Akar ( cm3 )
Gambar 6. Rerata Volume Akar pada Berbagai Perlakuan Pemberian Pupuk
Kandang Kotoran Burung Puyuh (cm3)
Pembahasan
Berdasarkan hasil analisis keragaman pada tabel 2,3,4 dan tabel 7 menunjukkan bahwa pemberian pupuk kandang kotoran burung puyuh pada tanah aluvial berpengaruh tidak nyata pada variabel pengamatan tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun dan volume akar. Perlakuan pupuk kandang kotoran burung puyuh pada tanah aluvial pada penelitian ini berbeda nyata terhadap variabel pengamatan berat segar per tanaman sawi putih. Berpengaruh tidak nyatanya Perlakuan pupuk kandang kotoran burung puyuh terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, dan volume akar diduga disebabkan karena pupuk kandang kotoran burung puyuh yang diberikan ke dalam tanaman dosisnya belum dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman secara optimal, sehingga pengaruh dari masing "“ masing perlakuan masih belum terlihat jelas. Sementara berbeda nyata perlakuan pupuk kandang kotoran burung puyuh terhadap berat segar per tanaman diduga pupuk kandang kotoran burung puyuh yang di berikan ke dalam tanaman dosisnya dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman secara optimal. Menurut Sarief (1986), yang menyatakan bahwa untuk mendapatkan pertumbuhan yang baik, tanaman harus mempunyai akar dan sistem perakaran yang luas serta untuk memperoleh unsur hara dan air sesuai dengan kebutuhan pertumbuhan. Menurut Buckman (1982), kekurangan unsur N dan P dapat mempengaruhi pertumbuhan akar, unsur P yang terdapat pada bahan organik tidak begitu mudah dan cepat tersedia seperti unsur N. Unsur hara dalam bentuk yang tersedia lebih cepat terserap tanaman untuk digunakan dalam proses metabolisme sehingga akan memberikan respon terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Selain faktor hara yang diberikan, pertumbuhan tanaman sawi putih juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan lainnya seperti pH tanah, suhu udara, kelembaban udara, dan curah hujan. Suhu udara optimal untuk pertumbuhan sawi putih antara 19 °C - 21 °C. Rerata suhu udara selama penelitian berkisar antara 26,25 °C "“ 30,75 °C. Kelembaban udara relatif untuk pertumbuhan sawi putih adalah 80% - 90%. Rerata kelembaban udara selama penelitian 85,74%. Kondisi suhu udara dan kelembaban udara ini sesuai dengan syarat tumbuh tanaman sawi putih.
PENUTUP
- A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat disimpulkan sebagai berikut :
- Pemberian pupuk kandang kotoran burung puyuh dengan dosis 800 g/polibek (k4) dapat dikatakan sebagai dosis terbaik karena memberikan rerata tertinggi terhadap variabel pengamatan berat segar per tanaman.
- Pemberian pupuk kandang kotoran burung puyuh terhadap pertumbuhan dan hasil sawi putih pada tanah aluvial, menunjukan berbeda nyata terhadap variabel berat segar per tanaman, tetapi berpengaruh tidak nyata terhadap variabel pengamatan tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun dan volume akar.
- Pemberian pupuk kandang kotoran burung puyuh pada dosis 600 g/polibek (k3) memberikan hasil yang berbeda tidak nyata dengan dosis yang lebih tinggi (1000 g/polibek) sehingga apabila dilihat dari segi efisiensi dosis 800 g/polibek dapat dijadikan sebagai dosis acuan.
- B. Saran
- Berdasarkan hasil penelitian, pemberian pupuk kandang kotoran burung puyuh yang efektif dapat mempengaruhi pertumbuhan dan hasil sawi putih pada dosis 800 g/polibek.
- Pemanfaatan pupuk kandang kotoran burung pada dosis 800 g/polibek perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk jenis tanaman yang sama pada jenis tanah yang berbeda ataupun untuk jenis tanaman dan tanah yang berbeda. Selain itupula diperlukan adanya penelitian lanjutan di lapangan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh terhadap tanaman yang dibudidayakan.
DAFTAR PUSTAKA
Buckman, H.O, dan N. C. Brady. 1982. Ilmu Tanah. Terjemahan Soegiman, Bharata Karya Aksara, Jakarta.
Hermanudin. 2002. Pengaruh Limbah Crumb Rubber dan Kotoran Burung puyuh Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Cabai Pada Tanah Aluvial. Skripsi Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura: Pontianak. Tidak dipublikasikan.
Sarief, E. S. 1986. Kesuburan Tanah dan Pemupukan Pertanian. Universitas Panjadjaran Bandung.