PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN GAMBAS AKIBAT PEMBERIAN PUPUK KANDANG BEBEK PADA TANAH GAMBUT
DOI:
https://doi.org/10.26418/jspe.v13i1.70254Keywords:
Gambas, Tanah Gambut, Pupuk kandang BebekAbstract
Tanaman Gambas (Luffa acutangula L.) merupakan tanaman sayuran merambat dengan alat pemegang berbentuk pilin, batang panjang dan kuat, dapat mencapai puluhan meter. Daerah asal gambas dari india, tanaman ini telah beradaptasi lama di daerah Asia Tenggara termaksuk Indonesia. Buah berkasiat untuk membersihkan darah, selain berguna untuk obat, kulit buah yang telah kering baik sekali untuk penggosok tempat cucian. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk budidayakan tanaman gambas adalah dengan cara memberikan pupuk kandang bebek. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan dan hasil tanaman gambas ditanah gambut. Penelitian ini dilakukan didalam polybag dengan menggunakan pola Faktorial Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 5 perlakuan pupuk kandang bebek dengan 5 ulangan. Setiap satuan unit percobaan terdiri dari 3 sampel tanaman, sehingga total keseluruhan diperoleh 75 tanaman. Perlakuan yang dimaksud adalah b1 = 10 ton/ha pupuk kotoran bebek setara dengan 160 g / polybag b2 = 15 ton/ha pupuk kotoran bebek setara dengan 240 g / polybag b3 = 20 ton/ha pupuk kotoran bebek setara dengan 320 g / polybag b4= 25 ton/ha pupuk kotoran bebek setara dengan 400 g / polybag b5= 30 ton/ha pupuk kotoran bebek setara dengan 480 g / polybag. Variabel yang diamati dalam penelitian ini adalah volume akar (cm ³), berat kering tanaman (g), jumlah buah pertanaman (buah), berat buah pertanaman (g),berat buah perbuah (g), panjang buah (cm), diameter buah (cm). Dari hasil penelitian yang telah dilakukan maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pemberian pupuk kandang bebek dosis 10 ton/ha setara dengan 160 g/polybag dapat pertumbuhan dan hasil gamas pada tanah Gambut.
Kata Kunci : Gambas, Tanah Gambut, Pupuk kandang Bebek
References
Badan Pusat Statistik. 2017. Pertanian Tanaman Sayuran dan Buah–Buahan. Kalimantan Barat, Pontianak.
Basa, Imtias, 1992, Bahan Organik Untuk Stabilitas Produksi Tanaman Pangan Pada Lahan Kering Podsolik, Dalam Hasil Penelitian Pertanian Bogor, Vol.2, Badan Penelitian Dan Pengembangan Pertanian, Bogor.
Cahyono. 2007. Tanaman Holtikultura. Jakarta: Penebar Swadaya
Direktorat budidaya tanaman buah. 2019. Hortikultura. Medan: Perpustakaan STPP Medan.
Duljapar, K dan R.N Setyowati. 2000. Petunjuk Bertanam Labu Sistem Turus. Jakarta: Penebar Swadaya.
Edi, S dan Julistia, B. 2010. Budidaya Tanaman Sayuran. Jambi: Balai Pengkajian Teknologi Pertanian.
Fadilah, 2013. Pupuk dan Pemupukan.Yogyakarta: Penebar Swadaya.
Hakim, N., Nyakpa, M.Y., Lubis, A.M., Nugroho, S.G., Diha, M.A., Hong,. G.B.,Bailey, H.H. 1986. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Lampung: Universitas Lampung.
Hardjowigeno. 1997. Klasifikasi Tanah. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.
Harjadi, S. S. 1991. Pengantar Agronomi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Rukmana, R. 2016. Usaha Tani Gambas. Yogyakarta: Kanisius
Sarief, S.E. 1986. Ilmu Tanah Pertanian. Bandung: Pustaka Buana.
Sunarjono, H. 2000. Bertanam 30 Jenis Sayur. Jakarta: Penebar Swadaya.