Pengaruh Pupuk Hayati dan Pupuk KCl terhadap Pertumbuhan dan Hasil Bawang Merah Pada Tanah Podsolik Merah Kuning
DOI:
https://doi.org/10.26418/jspe.v12i4.70452Keywords:
bawang merah, pupuk hayati, pupuk KCl, tanah Podsolik Merah KuningAbstract
Bawang merah (Allium Ascalonicum L.) adalah jenis tanaman sayuran yang banyak digemari oleh masyarakat Indonesia. Tanah Podsolik Merah Kuning memiliki beberapa permasalahan. Pupuk yang dapat digunakan yaitu Pupuk Hayati (bioboost) dan Pupuk KCl. Pupuk hayati adalah larutan konsentrat yang mengandung sel-sel beberapa jenis mikroorganisme hidup. Pupuk KCl adalah pupuk kimia yang mengandung unsur hara kalium 60% yang diperlukan tanaman bawang merah setelah unsur nitrogen dalam proses metabolisme tanaman Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui interaksi pemberian pupuk hayati dan pupuk KCl terhadap pertumbuhan dan hasil bawang merah pada tanah Podsolik Merah Kuning Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini dalam bentuk Rancangan Petak Terbagi (RPT) yang terdiri dari Petak Utama dan Anak Petak. Faktor pertama yaitu pupuk hayati (P) sebagai petak utama yang terdiri dari 3 taraf perlakuan yaitu p1 = 5 cc/L, p2 = 10 cc/L, p3 = 15 cc/L dan faktor kedua yaitu pupuk KCl (K) sebagai anak petak yang terdiri dari 3 taraf perlakuan yaitu k1 = 150 kg/ha, k2 = 200 kg/ha, dan k3 = 250 kg/ha. Setiap perlakuan terdiri dari 4 ulangan dan setiap ulangan terdiri dari 4 tanaman sampel. Sehingga jumlah keseluruhan terdapat 144 tanaman Bawang Merah. Variabel pengamatan meliputi: tinggi tanaman 8 MST (cm), jumlah daun 8 MST (helai), jumlah anakan (batang), jumlah umbi perumpun (umbi), berat segar umbi (g), dan berat kering angin umbi (g). Adapun variabel penunjang, yakni suhu ( °C), kelembaban udara (%), dan curah hujan (mm). Berdasarkan hasil penelitian bawang merah pada tanah Podsolik Merah Kuning menunjukan bahwa pemberian Pupuk Hayati 10 cc/liter + Pupuk KCl 150 kg/hektar dan 200 kg/hektar merupakan dosis yang efektif terhadap jumlah umbi perumpun, dan berat basah umbi.
References
Azmi, U., Z. Fuady dan Marlina. 2017. Respon Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Tomat (Lycopersicum esculentum Mill) Akibat Pemberian Pupuk Organik dan Anorganik. Jurnal Agrotropika Hayati, 4(4): 1-13.
Badan Pusat Statistik Jakarta Pusat. 2021. Statistik Indonesia 2021. Jakarta Pusat : Badan Pusat Statistik.
Badan Pusat Statistik. 2021. Provinsi Kalimantan Barat dalam angka 2021. Pontianak: Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Barat
Handayanto, Eko, Muddarisna, Nurul, dan Fiqri, Amrullah. 2017. Pengelolaan Kesuburan Tanah. Malang: Universitas Brawijaya Press.
Husna, Nurul. 2014. Pengelolaan Bahan Organik Di Tanah Sulfat Masam. Prosiding Seminar Nasional Lahan Subptimal 152 : 1-7
Lakitan, B. 2007. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta : PenerbitRaja Grafindo Persada.
Nugraha S, Resa S A dan Yulianingsih. 2012. Inovasi Teknologi Instore Drying Untuk Mempertahan Mutu Dan Nilai Tambah Bawang Merah. Bogor . Prosiding Seminar Nasional Teknologi Pascapanen. Balai Besar Penelitian Dan Pengembangan Pascapanen Pertanian.
Nugrahini, Tutik. 2013. Respon Tanaman Bawang Merah (Allium ascolonicum L.) Varietas Tuk Tuk Terhadap Pengaturan Jarak Tanam dan Konsentrasi Pupuk Organik Cair NASA. Jurnal Fakultas Pertanian Universitas Widya Gama Mahakam : 36(1):60–65.
Rosmarkam, A. Dan N. W. Yuwono. 2002. Ilmu Kesuburan Tanah. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Sutedjo , M. M. 2008. Pupuk dan cara penggunaan. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta
Suwahyono, U., 2011, Petunjuk Praktis Penggunaan Pupuk Organik Secara Efektif dan Efisien. Jakarta : Penebar Swadaya.
Wijaya, K.A. 2008. Nutrisi Tanaman Sebagai Penentu Kualitas Hasil dan Resistensi Alami Tanaman. Jakarta : Penerbit Prestasi Pustaka.
Vessey JK. 2003. PGRP as biofertilizer. Plant and soil. Hal: 255:571-586