POPULASI DAN KEANEKARAGAMAN BAKTERI PELARUT FOSFAT PADA BEBERAPA PENGGUNAAN LAHAN DI KECAMATAN SEBAWI KABUPATEN SAMBAS
DOI:
https://doi.org/10.26418/jspe.v13i2.75185Keywords:
Fosfor, Indeks Kelarutan Fosfat, Lahan Jeruk, Lahan Jeruk Siam Tumpangsari Padi, Lahan PadiAbstract
Identifikasi bakteri pelarut fosfat (BPF) diperlukan untuk mengetahui jumlah, keanekaragaman dan kemampuannya melarutkan fosfat pada suatu lahan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan populasi dan keanekaragaman bakteri pelarut fosfat pada tiga tipe penggunaan lahan yang berbeda dan mengkaji kemampuan bakteri dalam melarutkan fosfat menggunakan media pikovskaya. Penelitian dilakukan di Desa Rantau Panjang Kecamatan Sebawi Kabupaten Sambas. Lokasi penelitian merupakan lahan jeruk siam, lahan padi dan lahan jeruk siam tumpangsari padi.Jumlah titik sampel sebanyak 5 titik dari hasil komposit sub-titik untuk setiap lokasi penelitian dengan pengambilan sampel dilakukan dengan sistem diagonal, sehingga dari 3 lokasi penelitian terdapat 15 sampel tanah. Hasil hasil penelitian parameter kimia yaitu nilai pH tanah diketiga lahan tidak jauh berbeda nilainya dengan berkriteria masam ketiganya, untuk P-tersedia tertinggi berada pada lahan jeruk siam dan terendah berada pada lahan jeruk siam tumpangsari padi, sedangan hasil P-total tertinggi berada pada lahan padi dan terendah berada pada lahan jeruk siam tumpangsari padi. Hasil penelitian untuk parameter populasi bakteri pelarut fosfat tertinggi berada pada lahan jeruk siam dan populasi terendah berada pada lahan jeruk siam tumpangsari padi dengan jenis bakteri yang didapatkan yakni Spl, Sp2, Sp3, Sp4, Sp5, Sp6, Sp8, pada lahan padi, Spl, Sp2, Sp3, Sp4, Sp7, Sp8 pada lahan jeruk siam dan Spl, Sp2, Sp3, Sp4, Sp7, Sp8 pada lahan jeruk siam tumpangsari padi. Kemampuan bakteri dalam melarutkan fosfat pada ketiga lahan semua isolat memiliki nilai yang berbeda-beda yang berdasarkan nilai kriteria IKF ( Indeks Kelarutan Fosfat) tergolong dalam kriteria sedang dan tinggi. Jenis BPF yang memiliki kemampuan membentuk zona bening paling tinggi yaitu Sp8 yang dijumpai pada lahan jeruk siam tumpangsari padi.References
Damanik, M.M.B., B.A. Hasibuan., Fauzi, Sarifuddin dan H. Hanum, 2011. Kesuburan Tanah dan Pemupukan USU Press. Medan.
Dwidjoseputro, D. 1989. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Djambatan. Surabaya.
Hardjowigeno, S. 2015. Ilmu Tanah. Akademika Pressindo. Jakarta.
Hidayat, N., Padaga M.C, dan Suhartini S. 2006. Mikrobiologi. Industri Jogjakarta, Penerbit Andi..
Marlina, M. 1997. Keragaman Bakteri Pelarut Fosfat pada Tanah Dilahan Hutan Primer, Hutan Sekunder, Pertanaman Kopi dan Lahan Kritis di Sumber Jaya Lampung Barat. Skripsi. Universitas Lampung. Bandar Lampung.
Niswati, A., Yusnaini, S., & Arif, M. A. S. 2008. Populasi mikroba pelarut fosfat dan P-tersedia pada rizosfir beberapa umur dan jarak dari pusat perakaran jagung (Zea mays L.). Journal of Tropical Soils
Nursanti, I. 2017. Pengaruh Bakteri Pelarut Fospat terhadap Ketersediaan Fospat dan Pertumbuhan Tanaman. Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi.
Pusat Penelitian Tanah. 1983. Kriteria Penilaian Data Sifat Analisis Kimia Tanah, Bogor: Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian.
Purwaningsih, S., 2003, Isolasi, Populasi dan Karakterisasi Bakteri Pelarut Fosfat pada Tanah dari Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, Sulawesi Utara, Biologi.
Santosa, E. 2007. Mikroba pelarut fosfat. Metode Analisis Biologi Tanah. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian. Bogor.
Suliasih dan Rahmat, 2007. Aktivitas Fosfatase dan Pelarutan Kalsium Fosfat oleh Beberapa Bakteri Pelarut Fosfat, Biodiversitas.
Sutejo, M. 2002. Pupuk dan Cara Pemupukan. Rineka Cipta. Jakarta.
Waluyo, L., 2008. Teknik Metode Dasar Mikrobiologi, Universitas Muhamadiyah Malang Press, Malang.