UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI SUPERNATAN ISOLAT BAKTERI RNC 36 DENGAN SUHU YANG BERBEDA TERHADAP Xanthomonas oryzae
DOI:
https://doi.org/10.26418/jspe.v13i3.78892Keywords:
Agen Biokontrol, Bakteri Patogen, Bakteri Rhizosfer, Inkubasi Suhu, SupernatanAbstract
Xanthomonas oryzae menyebabkan penyakit hawar daun bakteri dan bercak daun bakteri pada padi (Oryza sativa) yang menghambat produksi tanaman pokok ini di sebagian besar Asia dan sebagian Afrika. Penyakit ini dapat menginfeksi tanaman padi pada semua fase pertumbuhan, mulai dari persemaian sampai menjelang panen. Upaya pengendalian hawar daun bakteri di dunia terkendala oleh kemampuan patogen untuk membentuk strain baru yang lebih virulen sehingga teknologi pencarian varietas yang tahan dan penggunaan bakterisida menjadi kurang efektif untuk mengendalikan penyakit hawar daun bakteri. Oleh karena itu, penggunaan agen biokontrol yang tepat dapat menjadi solusi alternatif untuk mengendalikan penyakit hawar daun bakteri. Penemuan bakteri rhizosfer berupa bakteri RNc 36 diharapkan mampu menjadi agen biokontrol yang dapat menghambat pertumbuhan X.oryzae secara in vitro. Perlakuan pada penelitian adalah perbedaan suhu yang pada yaitu dari kultur bakteri RNc 36 yang diinkubasi suhu ruang (28 °C- 32 °C), suhu 30 °C dan suhu 40 °C, penelitian dilaksanakan dengan 9 ulangan. Namun hasil penelitian menunjukkan, supernatan yang diperoleh lalu kemudian diujikan dalam uji daya hambat sama sekali tidak menunjukkan adanya zona hambat atau zona bening. Berdasarkan penelitian ini, perlu dikembangkan metode penelitian yang lebih canggih untuk dapat menggali informasi tentang kemampuan supernatan yang berasal dari bakteri RNc 36 yang sebenarnya sebagai antibakteri.References
Dewi, I.W. 2010. Karakteristik sensoris, nilai gizi dan aktivitas antioksidan tempe kacang gude (Cajanu cajan (L.) Millsp.) dan tempe kacang tunggak (Vigna unguiculata (L.) Walp.) dengan berbagai variasi waktu fermentasi. Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta. Skripsi.
Drew, S.W. dan Arnold L.D., 1977. Effect of Primary Metabolites On Secondary Metabolism. Jurnal Annual Reviews Microbiol.s 31: 343-356
Katzung, Betram G. (2010). Farmakologi Dasar dan Klinik. Edisi 10. Jakarta:EGC
Larasaty, S., Mukarlina, & Kurniatuhadi, R. (2021). Uji Antagonis Pseudomonas flourescens spp. Terhadap Isolat Bakteri Xanthomonas (SL3) Dari Daun Padi Bergejala Hawar di Kabupaten Kubu Raya. Bioslogos, 11(1), 13-18.
Puwaningsih, D., & Wulandari, D. (2021). Uji Aktivitas Antibakteri Hasil Fermentasi Bakteri Endofit Umbi Talas (Colocasia esculanta L) terhadap Bakteri Pseudomonas aeruginosa. Sains dan Kesehatan, 3(5), 750-759.
Ratkowsky, D. A., Olley, J., McMeekin, T. A., & Ball, A. (1982). Relationship Between Temperatures and Growth Rate of Bacterial Cultures. Bacteriology, 149(1), 1-5.
Toy, T. S., Lampus, B. S., & Hutagalung, B. S. (2015). Uji Daya Hambat Ekstrak Rumput Laut Gracilaria sp Terhadap Pertumbuhan Bakteri Staphylococcus aureus. e-GiGi, 5(1), 153-159.
Zen, N. A., Queljoe, E. d., & Marina Singkoh. (2015). Uji Bioaktivitas Ekstrak Padina australis dari Pesisir Pantai Molas Sulawesi Utara Terhadap Bakteri Staphylococcus epidermidis. Pesisir dan Laut Tropis, 2(1), 34-40.