RESPON PERTUMBUHAN DAN HASIL BAWANG MERAH TERHADAP PEMBERIAN ARANG SEKAM PADI DAN PUPUK KCl PADA TANAH ALUVIAL
DOI:
https://doi.org/10.26418/jspe.v14i4.91752Keywords:
aluvial, arang sekam padi, bawang merah, kclAbstract
Pemanfaatan tanah aluvial sebagai media tanam bawang merah dihadapkan pada berbagai kendala yaitu sifat fisik, sifat kimia dan sifat biologis yang tidak mendukung pertumbuhan bawang merah. Penggunaan arang sekam padi diharapkan dapat memperbaiki kendala pada tanah aluvial seperti memperbaiki kondisi tanah keras dan pejal menjadi gembur, sehingga perkembangan akar tanaman menjadi optimal dan pemberian pupuk kalium untuk melengkapi kebutuhan unsur hara pada tanah aluvial. Penelitian ini bertujuan Untuk mendapatkan dosis arang sekam padi dan pupuk kalium yang memberikan pertumbuhan dan hasil bawang merah terbaik pada tanah aluvial. Penelitian dilaksanakan di Desa Kapur, Mekar Sari, Komplek Feby Land no 49. Penelitian ini dilaksanakan sejak 8 Febuari 2024 sampai 20 April 2024. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial yang digunakan sebanyak dua faktor, faktorial pertama Arang Sekam Padi (a) yang terdiri dari 3 taraf yaitu : a1 10 ton/ha setara dengan 50 g/polybag, a2 20 ton/ha setara dengan 100 g/polibag, a3 30 ton/ha setara dengan 150 g/polibag pupuk kalium (k) yang terdiri dari 3 taraf yaitu k1 KCl 200 kg/ha setara dengan 1 g/polibag, k2 KCl 300 kg/ha setara dengan 1,5 g/polibag, k3 KCl 400 kg/ha setara dengan 2 g/polibag setiap kombinasi dilakukan 3 ulangan. Variabel yang diamati pada penelitian ini adalah tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah umbi, berat segar tanaman, berat kering angin umbi. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa dosis arang sekam padi 30 ton/ha dan pupuk KCl 300 kg/ha menghasilkan berat kering angin umbi yang tertinggi. Dosis efektif terhadap pertumbuhan dan tinggi tanaman adalah 10 ton/ha arang sekam padi.
References
Anonim. 2011. Budidaya Cabai Rawit.Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.(Diakses18 Agustus 2012)
BPS. 2020. Provinsi Kalimantan Barat Dalam Angka. Pontianak: Badan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Barat.
BPS. 2023. Provinsi Kalimantan Barat Dalam Angka. Pontianak: Badan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Barat.
Bahri, J. 2012. Kajian Pertumbuhan dan Hasil Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) dengan Penambahan Arang Sekam dan Pemupukan Kalium. Skripsi. Universitas Muhammadiyah Purwokerto.
Gunadi, N. 2009. Kalium Sulfat Dan Kalium Klorida Sebagai Sumber Pupuk Kalium Pada Tanaman Bawang Merah. Jurnal Jortikultura, 19(2), 174-185
Ismunadji, 1989. Kalium : Kebutuhan dan Penggunaannya Dalam Pertanian Modern. Balai Penelitian Tanaman Pangan Bogor.
Kalwia H.Y Uke. Hendry Barus, Ichwan S. Madauna. 2015. Pengaruh Ukuran Umbi dan Dosis Kalium Terhadap Pertumbuhan da Hasil Produksi Bawang Merah (Allium ascalonicum L). Varietas Lembah Palu. Agrotekbis 3 (6): 655-661
Nazaruddin. 1999. Budidaya dan pengaturan panen sayuran dataran rendah. Penebar Swadaya.
Radjagukguk, B. dan Jutono 1983. Alternatif-Alternatif Pelaksanaan Program Pengapuran Lahan-Lahan Mineral Masam Indonesia. Prosiding Seminar. Yogyakarta: Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada.
Rani, S dan Fenti. 2001. Pengaruh Pemberian KCl dan Berbagai Pupuk Organik Terhadap Pembungaan dan Hasil Tanaman Bawang Merah. Jurnal Hortikultura
Sunaryono, H. dan P. Soedomo. 2010. Agribisnis Bawang Merah. Bandung. Sinar Baru Algensindo.
Sutarya, R. dan G. Grubben. 1995. Pedoman bertanam sayuran dataran rendah. Lembang: Gadjah Mada University Press. Prosea Indonesia – Balai Penel. Hortikultura.
Wuryaningsih, S., T. Sutater dan Sutono. 1997. Pengaruh dosis dan frekuensi pemberian pupuk kalium dan persentase air tersedia terhadaptanaman melati. J.Hort. Vol. 7 (3) :781-787.
Zamaniah, N, L.,Handayani, T., dan Saraswati, R. 2018. Pengaruh Hujan Ekstrem Terhadap Produktivitas Bawang Merah Di Kabupaten Probolinggo Jawa Timur. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Geografi FKIP UMP.