PENGARUH JARAK KE SALURAN DRAINASE TERHADAP KEDALAMAN MUKA AIR TANAH GAMBUT DI DESA KUALA DUA KABUPATEN KUBU RAYA
DOI:
https://doi.org/10.26418/jspe.v15i2.98785Keywords:
Kelapa Sawit, muka air tanah, Pengaruh jarak, Semak BelukarAbstract
Indonesia memiliki salah satu kawasan gambut terluas di dunia, yaitu sekitar 47% dari total gambut tropis global, sehingga menjadikan Indonesia sebagai negara dengan lahan gambut terluas di Asia Tenggara (Herman, 2016). Kelapa sawit merupakan komoditas perkebunan utama dengan nilai ekonomi yang tinggi; namun, budidayanya di lahan gambut dapat mengubah kondisi hidrologi. Sebaliknya, semak belukar merupakan vegetasi alami yang berperan dalam menjaga keseimbangan ekosistem serta dapat dijadikan acuan dalam penelitian lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kedalaman muka air tanah gambut pada berbagai jarak dari saluran drainase di lahan kelapa sawit dan semak belukar di Desa Kuala Dua, Kabupaten Kubu Raya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada lahan kelapa sawit, jarak terhadap saluran drainase secara konsisten memengaruhi muka air tanah setiap minggunya. Pada lahan semak belukar, pengaruh tersebut hanya terlihat pada minggu pertama hingga ketiga, sementara pada minggu keempat hingga kedelapan tidak ditemukan pengaruh yang signifikan. Secara keseluruhan, kedalaman muka air tanah pada kedua tipe lahan tergolong sedang, sedangkan kedalaman muka air saluran drainase pada keduanya tergolong dalam.References
Agus, F., & Subiksa, I. G. M. (2008). Lahan gambut: Potensi untuk pertanian dan aspek lingkungan. Bogor: Balai Penelitian Tanah dan World Agroforestry Centre (ICRAF).
Arifin, M. 2010. Kajian Sifat Fisik Tanah dan Berbagai Penggunaan Lahan dalam Hubungannya dengan Pendugaan Erosi Tanah. Jurnal Pertanian Mapeta UPN: Jawa Timur.
Asdak, C. 2007. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
H. Herman, “Upaya konservasi dan rehabilitasi lahan gambut melalui pengembangan industri perkebunan sagu,†Prosiding Seminar Nasional Lahan Basah, 2016.
Hadi, A., et al. (2012). Drainage and water management in peatland cultivation. Mitigation and Adaptation Strategies for Global Change, 17(5), 403–420.
Khalil, M., et al. (2023). Peatland management and hydrological impacts in tropical ecosystems. Wetlands Ecology and Management, 31, 123–138.
Krisnohadi A. 2011. Analisis Pengembangan Lahan Gambut untuk Tanaman Kelapa Sawit di Kabupaten Kubu Raya. Jurnal Teknologi Perkebunan dan Lahan Tropika. (1):1-7.
Noor, M. 2001. Pertanian Lahan Gambut: Potensi dan Kendala. Kanisius. Yogyakarta.
Page, S.E., Rieley, J.O., & Banks, C.J. (2011). Global and regional importance of the tropical peatland carbon pool. Global Change Biology, 17(2), 798–818.
Radjagukguk, B. 200. Perubahan Sifat-sifat Fisik dan Kimia Tanah Gambut Akibat Reklamasi Lahan Gambut untuk Pertanian. Dalam: Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan. Vol 2 No. 1 Yogyakarta.
Rieley, J.O and B. Setiadi. 1997. Role of tropical peat lands in global carbon balance: Preliminary findings from the high peats of Central Kalimantan. Indonesia.
Sabiham, S. 2000. Kadar Air Kritis Gambut Kalimantan Tengah dalam Kaitannya dengan Kejadian Kering Tidak Balik. Jurnal Tanah Tropis. 11: 21-30.
Soil Survey Staff. 2010. Keys to Soil Taxonomy. Eleventh Edition. United States Departement of Agriculture. Natural Resources Conservation Service. Washington, DC.
Subagyo, H., Suharta, N., & Siswanto, A.B. (2004). Tanah-tanah Pertanian di Indonesia. In A. Adimihardja et al. (Eds.), Sumberdaya Lahan Indonesia dan Pengelolaannya. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat, Bogor.
Suripin. 2004. Sistem Drainase Perkotaan yang Berkelanjutan. ANDI Offset Yogyakarta.
Szajdak, L., Szatylowicz, J. 2010. Impact pf Drainage on Hydrophobicity of Fen PeatMoorsh Soils. Mires Peat, 6:158–174.