ANALISIS FAKTOR FISIK DAERAH TERTINGGAL KABUPATEN LANDAK

Authors

  • Nana Novita Pratiwi Universitas Tanjungpura, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.26418/lantang.v9i1.49851

Keywords:

Daerah Tertinggal, Fasilitas, Fisik Alam, Utilitas, Transportasi

Abstract

Daerah Tertinggal di Indonesia sebanyak 122 Kabupaten, salah satunya adalah Kabupaten Landak. Ketertinggalan daerah memberikan pengaruh pada pertumbuhan ekonomi wilayah, dimana pertumbuhan ekonomi Kabupaten Landak tahun 2014-2019 adalah sebesar 5,51% atau berada dibawah pertumbuhan regional Kalimantan Barat. Salah satu penyebab ketertinggalan yang dominan di Kabupaten Landak adalah aspek fisik. Untuk menanggulangi dan mempercepat pembangunan daerah tertinggal, perlu dilakukan kajian faktor yang mempengaruhi ketertinggalan. Oleh karena itu tujuan penelitian ini adalah mengetahui faktor fisik daerah tertinggal Kabupaten Landak. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis faktor melalui dsitribusi frekuensi.

Hasil analisis menyimpulkan bahwa terdapat empat faktor fisik yang mempengaruhi ketertinggalan daerah Kabupaten Landak, yaitu kondisi fasilitas, kondisi fisik alam, kondisi utlilitas dan kondisi transportasi. Faktor kondisi fasilitas terdiri dari rendahnya sarana pendidikan, rendahnya saran kesehatan dan rendahnya sarana perekonomian. Ketiga sub faktor tersebut berpengaruh tinggi terhadap ketertinggalan daerah. Untuk faktor kondisi fisik alam terdiri dari daerah rawan bencana dan daerah bergelombang-terjal yang berpengaruh tinggi serta tanah tidak subur dan terbatasnya lahan yang berpengaruh sedang. Pada faktor kondisi utilitas terdiri dari kurangnya pelayanan air bersih dan kurangnya pelayanan listrik telekomunikasi yang berpengaruh tinggi serta rendahnya media informasi yang berpengaruh sedang. Sementara faktor kondisi transportasi terdiri dari rendahnya aksesibilitas dan tidak teraksesnya angkutan publik, dimana keduanya tergolong berpengaruh tinggi.


ANALYSIS OF PHYSICAL FACTORS IN DISADVANTAGED AREAS OF LANDAK REGENCY

 

Disadvantaged regions in Indonesia have as many as 122 districts, one of which is the Landak District. Regional underdevelopment influences regional economic growth, where the economic growth of Landak Regency in 2014-2019 is 5.51% or is below the regional growth of West Kalimantan. One of the causes of lagging in the Landak Regency is the physical aspect. To overcome and accelerate the development of underdeveloped areas, it is necessary to study the factors that influence underdevelopment. Therefore, the purpose of this study was to determine the physical factors of underdeveloped areas in Landak Regency. The analysis technique used is factor analysis through frequency distribution.

The analysis results conclude that four factors affect the backwardness of the Landak Regency area, namely the condition of facilities, natural physical conditions, utility conditions, and transportation conditions. Factors in the situation of facilities consist of inadequate educational facilities, low health advice, and low economic facilities, where the three sub-factors have a high impact on regional underdevelopment. The natural physical condition factor consists of disaster-prone areas and steep-undulating areas classified as having high influence and infertile land and limited land classified as having moderate effect. The utility condition factors consist of the lack of clean water services and the lack of telecommunication electricity services included in the classification of high influence. The low level of information media is classified as having moderate influence. Meanwhile, the factors of transportation conditions consist of low accessibility and inaccessibility of public transportation, both of which are classified as having a high influence.

References

Abdillah, M. H., & Aldi, M. (2020). Aplikasi Limbah Padat Karet Remah Pada Tanah Podsolik Merah Kuning Terhadap Ketersediaan Hara Makro dan Perbaikan Sifat Fisika Tanah. EnviroScienteae, 16(2), 264–275.

Anindyntha, F. A., Boedirochminarni, A., & Hadi, S. (2018). Analisis Faktor Yang Mempengaruhi Ipm Pada Daerah Tertinggal Di Pulau Papua Tahun 2013-2017. Seminar Nasional Dan Call For Paper III, Vol 1, 143–155.

Bappeda. (2018). Rencana Aksi Daerah Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (RAD-PPDT). Bappeda Provinsi Kalimantan Barat.

Bappenas. (2019). Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024. In Kementrian Perencanaan Pembangunan Nasional. Bappenas. https://doi.org/10.1017/CBO9781107415324.004

Biro Komunikasi dan Informasi Publik. (2021). Transportasi Sebagai Pendukung Sasaran Pembangunan Nasional. Kementrian Perhubungan Republik Indonesia. http://dephub.go.id/post/read/transportasi-sebagai-pendukung-sasaran-pembangunan-nasional. (Diakses Pada Tanggal 1 Oktober 2021).

Damayanti, A. P., Hardiana, A., Rahayu, P., Teknik, F., Maret, U. S., Teknik, F., Maret, U. S., Teknik, F., Maret, U. S., Permukiman, P., & Pesisir, W. (2019). Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Permukiman di Wilayah Pesisir Kabupaten Purworejo. Jurnal Pembangunan Wilayah Dan Perencanaan Partisipatif, 14(2), 154–172.

Djuwendah, E., Hapsari, H., Renaldy, E., & Saidah, Z. (2013). Strategi Pengembangan Daerah Tertinggal Di Kabupaten Garut. Sosiohumaniora, 15(2), 211–221. https://doi.org/10.24198/sosiohumaniora.v15i2.5744

Garis, R. R. (2017). Analisis implementasi empat program prioritas kementerian desa pembangunan daerah tertinggal dan transmigrasi di kabupaten Ciamis: (Studi kasus pada lima desa di kabupaten Ciamis). MODERAT (Modern Dan Demokratis), 3(2), 108–130.

Ghozali, I. (2005). Aplikasi Analisis Multivariate dengan SPSS. Semarang: UNDIP.

Handoko, W., Marwah, S., & Ardhanariswari, R. (2012). Pembentukan Model Pemberdayaan Perempuan Nelayan di Daerah Tertinggal. Masyarakat, Kebudayaan, Dan Politik, 25(3), 195–201.

Kemendes. (2019). Rancangan Rencana Strategis Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi 2020-2024. Kementrian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi. https://www.kemendesa.go.id/berita/assets/files/RANCANGAN_RENSTRA_2020-2024.pdf (Diakses Pada Tnggal 20 November 2020)

Majida, F., & Handayani, K. D. M. E. (2019). Tipologi Ketertinggalan Wilayah pada Kabupaten Sampang. Jurnal Penataan Ruang, 14(1), 24–31. https://doi.org/10.12962/j2716179x.v14i1.7150

Masniadi, R., & Suman, A. (2012). Analisis Komoditas Unggulan Pertanian Untuk Pengembangan Ekonomi Daerah Tertinggal Di Kabupaten Sumbawa Barat. Jurnal Ekonomika Bisnis, 03(01), 51–64. https://doi.org/10.22219/jekobisnis.v3i1.2228

Muhtar. (2011). Masyarakat Desa Tertinggal: Kebutuhan, Permasalahan, Aset, dan Konsep Pemberdayaannya. Jurnal Penelitian Dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial, 16(01), 17–34. http://puslit.kemsos.go.id

Mulyani, A., Ritung, S., & Las, I. (2016). Potensi dan Ketersediaan Sumberdaya Lahan untuk Mendukung Ketahanan Pangan. Jurnal Penelitian Dan Pengembangan Pertanian, 30(2), 73–80. https://doi.org/10.21082/jp3.v30n2.2011.p73-80

Nalendra, A. R. A., Rosalinah, Y., Priadi, A., Subroto, I., Rahayuningsih, R., Lestari, R., Kusamandari, S., Yuliasari, R., Astuti, D., Latumahina, J., Purnomo, M. W., & Zede, V. A. (2021). Statistika Seri Dasar Dengan SPSS. Bandung; CV. Media Sains Indonesia.

Nugroho, A. (2018). Analisis Faktor Eksploratori Layanan @syariahmandiri. Jurnal Ekonomi, 23(3), 376–388. https://doi.org/10.24912/je.v23i3.419

Putra, E. P., Purnamadewi, Y. L., & Sahara. (2015). Dampak Program Bantuan Sosial Terhadap Pertumbuhan Ekonomi dan Kemiskinan Kabupaten Tertinggal di Indonesia. Jurnal Ekonomi Pembangunan, 17(3), 161–171.

Samli, A. (2012). Analisis Pengembangan Kota Berdasarkan Kondisi Fisik Wilayah Kota Masohi Ibukota Kabupaten Maluku Tengah. Plano Madani, I(1), 74–85.

Sari, R. (2014). Dampak Kebijakan Desentralisasi Fiskal pada Daerah Tertinggal di Indonesia. Jurnal Ekonomi Dan Kebijakan Publik, 5(1), 79–99.

Setya Krismawati, N. E. (2014). Analisis Prioritas Penanganan Ruas Jalan Strategis Untuk Pengembangan Wilayah di Kabupaten Demak. Jurnal Wilayah Dan Lingkungan, 2(2), 99. https://doi.org/10.14710/jwl.2.2.99-112

Soewondo, P., Johar, M., Pujisubekti, R., Halimah, H., & Irawati, D. O. (2019). Kondisi Kesehatan Masyarakat yang Bermukim di Daerah Tertinggal : Kasus dari Bengkulu, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Timur. Media Penelitian Dan Pengembangan Kesehatan, 29(4), 285–296. https://doi.org/10.22435/mpk.v29i4.945

Sturges, H. A. (1926). The Choice of a Class Interval. Journal of the American Statistical Association, 21(153), 65–66. https://doi.org/https://doi.org/10.1080/01621459.1926.10502161

Sugiyono. (2017). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif Dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Supianto, S., Urep, S. A., & Putra, W. (2017). Pengembangan Sektor Ekonomi Daerah Tertinggal di Provinsi Kalimantan Barat. Jurnal Ekonomi Bisnis Dan Kewirausahaan, 6(3), 251–281. https://doi.org/10.26418/jebik.v6i3.23264

Syahza, A., & Suarman. (2012). Model Pengembangan Daerah Tertinggal dalam Upaya Percepatan Pembangunan Ekonomi Pedesaan. Ekuitas: Jurnal Ekonomi Dan Keuangan, 18(3), 365–386.

Tondobala, L. (2011). Pemahaman Tentang Kawasan Rawan Bencana dan Tinjauan Terhadap Kebijakan dan Peraturan Terkait. Jurnal Sabua, 3(1), 58–63.

Trinanda, R. A., & Santoso, E. B. (2013). Penentuan Faktor-Faktor yang Kabupaten Pamekasan. Jurnal Teknik ITS, 2(2), 149–152.

Wahyuningtyas, A., & Pratomo, R. A. (2015). Identifikasi Potensi Multi-Bencana Di Kabupaten Landak Kalimantan Barat. Geoplanning: Journal of Geomatics and Planning, 2(1), 10–21. https://doi.org/10.14710/geoplanning.2.1.10-21

Downloads

Published

2022-04-25

Issue

Section

Articles