TERITORIALITAS/SEGMENTARITAS KAMPUNG BETING KOTA PONTIANAK

Authors

  • Deki Tasima Institut Teknologi Bandung
  • Agus Suharjono Ekomadyo Institut Teknologi Bandung

DOI:

https://doi.org/10.26418/lantang.v10i2.63181

Keywords:

Kampung Beting, Kota Pontianak, Teritorialitas, Segmentaritas, Ruang Sosial

Abstract

Dalam arsitektur, sungai dapat membentuk suatu teritori dengan keberadaan permukiman di tepi sungai. Indonesia memiliki banyak sungai, termasuk Kota Pontianak yang memiliki Sungai Kapuas dengan Kampung Beting sebagai salah satu Kawasan permukiman bersejarah di tepi sungai tersebut. Sungai dan parit membentuk ruang-ruang sosial serta teritorialitas kampung, seperti menjadi penghubung antar kampung yang berdekatan, serta menjadi pembatas wilayah dari masing-masing Rukun Warga. Maka dari itu, tujuan dari penelitian ini ingin memperlihatkan proses teritorialisasi/ segmentaritas yang ada di Kampung Beting karena keberadaan sungai dan parit serta elemen arsitektur pendukungnya, termasuk bagaimana dampaknya terhadap kondisi sosial warga. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan "teritorialitas dan segmentaritas" yang dilakukan melalui observasi langsung di lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya gertak dapat memperkuat teritorialitas di Kampung Beting. Sedangkan deteritorialisasi terjadi ketika material gertak yang semulanya kayu diganti menjadi beton bertulang berbentuk relatif datar. Kondisi tersebut malah menghalangi sirkulasi para pengguna sampan yang melewati parit. Para pengguna sampan lalu menyiasati dengan memilih waktu air surut agar bisa melalui area bawah jembatan penghubung antar gertak, meski mengurangi intensitas lalu lintas, namun ini bisa disebut sebagai upaya reteritorialisasi di Kampung Beting. Diharapkan temuan ini bisa membuat rujukan bagaimana sebaiknya desain elemen arsitektur yang mempertimbangkan teritorialitas suatu tempat sebagai ruang sosial.


TERRITORIALITY/SEGMENTARITY OF BETING VILLAGE  PONTIANAK CITY

 

In architecture, rivers can form a territory with the presence of settlements on the banks of rivers. Indonesia has many rivers, including Pontianak City which has the Kapuas River with Beting Village as one of the historical residential areas on the banks of this river. Rivers and ditches form social spaces and village territoriality, such as being a liaison between adjacent villages, as well as being a regional barrier of each Neighborhood Unit. Therefore, the purpose of this study is to show the process of territorialization / segmentarity that exists in Beting Village due to the existence of rivers and ditches and supporting architectural elements, including how they impact the social conditions of residents. This research uses qualitative descriptive method with "territoriality and segmentarity" approach conducted through direct observation in the field. The results showed that the presence of gertak can strengthen territoriality in Beting Village. While deterritorialization occurs when gertak material that was originally wood is replaced into flat-shaped reinforced concrete. This condition even hinders the circulation of canoe users who pass through the ditches. Canoe users then get around by choosing a low tide time so that they can pass through the area under the bridge connecting the bluff, although it reduces traffic intensity, this can be called a reterritorialization effort in Beting Village. It is hoped that these findings can make a reference to how to design architectural elements that consider the territoriality of a place as a social space.

Author Biographies

Deki Tasima, Institut Teknologi Bandung

Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan

Agus Suharjono Ekomadyo, Institut Teknologi Bandung

Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan

References

Abdillah, Z. (2014). Dakwah di sarang kriminalitas: studi kasus di kampung beting kota pontianak kalimantan barat. The Annual International Conference on Islamic Studies, 14.

Angkasa, Z. (1998). Teritorialitas pada Kawasan Permukiman Rakit di Muara Sungai Ogan Palembang. Universitas Gadjah Mada.

De Landa, M. (2006). A New Philosophy of Society. Continuum.

Deleuze, G., & Guattari, F. (1987). A Thousand Plateaus. Athlone.

Dovey, K. (2009). Becoming Places (1st Edition). Taylor & Francis e-Library.

Dovey, K. (2013). Deleuze and Architecture. Edinburgh: University of Edinburgh Press.

Ekomadyo, A.S., Santri, T., Riyadi, A (2017). Reassembling Traditionality and Creativity? A Study of Creative Community Movement in Cihapit Market Bandung. International Conference of Architectural Education in Asia (Eduarchsia), https://doi.org/10.1051/shsconf/20184107006

Ekomadyo, A.S., Nurfadillah, A., Kartamihardja, A., Cungwin, A.J. (2018). Becoming Heritage: A Place-Making Study of Old Neighbourhood Marketplace in Bandung. The 4th PlanoCosmo International Conference, Transforming Beyond Borders: Starting the New Urban Agenda. IOP Conf. Series: Earth and Environmental Science 158 (2018) 012012 doi :10.1088/1755-1315/158/1/012012

Ekomadyo, A.S., Martokusumo, W., dan Ardiani, N.A. (2019). Field of Creative-Cities Movement and Cultural Sustainability: Learning from Place-Making in Kampung Kreatif Dago Pojok and Kopi Pasar Los Tjihapit in Bandung. The 2019 International Conference on Built Environment and Eco-Design (ICBEED 2019). 103, pp 11-17. https://doi.org/10.4028/www.scientific.net/AST.103.11

Haggett, P. (2001). In: Geography. A Global Systhesis. Prentice Hall.

Hasanuddin, & Kristanto, B. (2001). Proses Terbentuknya Heterogenitas Etnis di Pontianak Pada Abad Ke-19. In Februari ï¿­ (Issue 1).

Holahan, C. J. (1983). Environmental Psychology (Vol. 13). Random House.

Kartika Sari, I. (2014). Perubahan Karakter Arsitektur Permukiman Kampung Beting Kota Pontianak Kalimantan Barat. In Langkau Betang (Vol. 1, Issue 1).

Kelly, J. L. (2011). A new interpretation of information rate. World Scientific, 25–34.

Khaliesh, H. (2013). Perkembangan Permukiman Tepian Sungai Kampung Beting di Pontianak dari Rumah Lanting ke Rumah Tiang.

Lund, C., & Rachman, N. F. (2018). Indirect Recognition. Frontiers and Territorialization around Mount Halimun-Salak National Park, Indonesia. World Development, 417–428.

Oktayanty, Y. (2014). Dari Hutan Adat Kalawa ke Hutan Desa: Sebuah Teritorialisasi Negara Berbasis Masyarakat? Jurnal Antropologi: Isu-Isu Sosial Budaya, 16(1), 83–97.

Oxtora, R. (2022). Pontianak Bangun Jembatan Beton di Kampung Beting, https://kalbar.antaranews.com/berita/339829/po ntianak-bangun-jembatan-beton-di-kampungbeting. diambil pada tanggal 11 November 2022.

Pemerintah Kota Pontianak. (2013). Peraturan Daerah Kota Pontianak Nomor 2 Tahun 2013 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Pontianak Tahun 2013-2033.

Sack, D. R. (1983). Human Territoriality: A Theory. Annals of The Association of American Geographers, 73(1), 55–74.

Downloads

Additional Files

Published

2023-10-31

Issue

Section

Articles