MENELISIK HILANGNYA ‘RUANG TAMU”, MENGIKIS BUDAYA SILATURAHMI

Authors

DOI:

https://doi.org/10.26418/lantang.v12i2.88185

Keywords:

Ruang Tamu, Rumah, Teras, Sirkulasi, Hierarki Ruang

Abstract

Ruang tamu pada rumah kecil Indonesia telah bergeser, dari ruang penerima formal menjadi area yang kerap dilebur dengan ruang keluarga karena keterbatasan lahan dan kebutuhan multifungsi. Studi deskriptif-kualitatif ini menelaah sepuluh rumah tipe kecil di Perumahan Bulan Terang Utama, Malang, melalui observasi terstruktur, wawancara, dan pemetaan ruang untuk merekonstruksi hierarki ruang serta alur sirkulasi tamu. Analisis menegaskan dua strategi utama. Strategi pertama mengubah teras depan menjadi ruang tamu semi-terbuka, memendekkan rute tamu, mengurangi paparan ke area privat, serta menambah kapasitas interaksi. Strategi kedua mempertahankan ruang tamu menyatu dengan ruang keluarga, dengan teras berfungsi sebagai limpahan ketika jumlah tamu meningkat. Mekanisme pengatur batas konsisten pada seluruh objek meliputi relokasi area servis, orientasi duduk mengarahkan pandangan menjauh dari kamar tidur, penggunaan partisi ringan atau penataan level lantai, serta pengelolaan bukaan untuk kenyamanan termal dan visual. Dari sisi sosiokultural, strategi tersebut menjaga kesinambungan silaturahmi tanpa renovasi besar, sekaligus menyesuaikan praktik menerima tamu. Penelitian merekomendasikan prinsip penataan peka budaya bagi rumah kecil yaitu sirkulasi tamu terfokus di bagian depan, pembatas visual adaptif, penggunaan furnitur modular, serta aturan penggunaan ruang yang disepakati keluarga. Temuan memberi rujukan bagi perancang, pengembang, dan pemilik untuk mengoptimalkan area depan sebagai zona perantara ramah, efisien, sekaligus melindungi privasi.

Author Biographies

Rinawati Pudji Handajani, Departement of Architecture, Universitas Brawijaya

Department of Architecture,

Faculty of Engineering

Universitas Brawijaya

Damayanti Asikin, Department of Architecture, Universitas Brawijaya

Department of Architecture,

Faculty of Engineering

Universitas Brawijaya

References

Aji, Artbanu W. 2008. "Makna Tanda Dalam Interior Ruang Tamu: Studi Semiotika Sistem Tertutup Pada Interior Ruang Tamu Lima Status Sosial Di YOGYAKARTA." Lintas Ruang, vol. 2, no. 2, 2008,

doi:10.24821/lintas.v2i2.22.

Altman, I. (1975). The Environment and Social Behavior: Privacy, Personal Space, Teritory, and Crowding. Monterey, California: Brooks/Cole Publishing CompanRapoport, 1977

Bank Indonesia. 2024. “Survei Harga Properti Residensial Triwulan IV Tahun 2023â€. 2024

Bhirawan, B., Indrosaptono, D., & Sari, S. R. (2018). Hubungan Seting JPO dengan Atribut Aksesibilitas dan Privasi (Studi Kasus: JPO Pasar Karang Ayu, Semarang). Jurnal Arsitektur ARCADE, 2(3), 127. https://doi.org/10.31848/arcade.v2i3.79 (Razali & Talib, 2013).

Creswell, JW (2014). Desain Penelitian: Pendekatan Metode Kualitatif, Kuantitatif, dan Campuran (edisi ke-4). Thousand Oaks, CA: Sage

Habraken, N. J. (1982). Transformation of the site. Cambridge: Massachusetts Summer

Hall, T. E. (1969). The Hidden Dimension. Chicago: Anchor Books a Doubleday Anchor Book

Handayani, Siska. 2021.â€Negosiasi Ruang berdasarkan Aktivitas Pengguna pada Rumah Industri di Kampung Siti Ambia, Singkil. Skripsi thesis: UIN Ar-Raniry

Laurens, J. M. (2005). Arsitektur dan Perilaku Manusia. Jakarta: Grasindo-Gramedia.

Pratama, Bagus Iqbal A,et al, 2021, Perubahan Teritori Ruang Pada Rumah Subsidi Ripe 30, Jurnal Arsitektur Arcade.

Rapoport, A (1969). House Form and Culture (1st Editio). New York: Pearson Sarwono, S. W. (1992). Psikologi Lingkungan. Jakarta: Grasindo.Razali & Talib, 2013

Susanti, I. S., Komala Dewi, N. I., & Permana, A. Y. (2018). Tatanan Teritorial dalam Proses Transformasi Hunian. Jurnal Arsitektur ZONASI, 1(1), 27. https://doi.org/10.17509/jaz.v1i1.11542

Downloads

Additional Files

Published

2025-12-03

Issue

Section

Articles