Kondisi Komunitas Terumbu Karang di Teluk Palembang Pulau Lemukutan Kalimantan Barat
DOI:
https://doi.org/10.26418/lkuntan.v4i3.46673Keywords:
Kondisi komunitas, Terumbu karang, Underwater photo tansect, dan TelukAbstract
Secara ekologis komunitas terumbu karang memiliki fungsi sebagai tempat perkembangan biota laut, tempat mencari makan bagi biota laut, penahan abrasi, serta menstabilkan garis pantai dari kikisan ombak. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kondisi komunitas terumbu karang dan kondisi parameter lingkungan di Teluk Palembang, Pulau Lemukutan Kalimantan Barat. Penelitian ini menggunakan metode underwater photo transect dengan panjang line transect 50 meter pada 2 kedalaman 3-4 m dan 6-7 m, pengamatan dilakukan pada 3 stasiun yang berbeda yang dimana mewakili kawasan Teluk Palembang, Pulau Lemukutan, Kalimantan Barat. Hasil penelitian didapat persentase tutupan karang hidup berada pada nilai 44,25% dapat dikategorikan sedang. Jenis yang mendominasi yaitu Acropora sp. (ACSP.) 31,73%. Parameter kualitas perairan di Teluk Palembang termasuk kurang baik karena nilai dari salinitas, kecerahan dan arus belum memenuhi nilai optimal untuk pertumbuhan terumbu karang
References
Abdul, K., K. Suryo, dan W. Indra. 2003. Panduan Pengenalan Jenis – jenis Karang Hias Yang Diperdagangkan, Assosiasi Koral dan Ikan Hias Indonesia (AKKII). Jakarta. 9–41p.
Akbar, M. 2013. Kaitan Kondisi Oseanografi Dengan Kepadatan Dan Keanekaragaman Karang Lunak Di Pulau Laelae, Pulau Bonebatang dan Pulau Badi. Skripsi. Makassar : Universitas Hasanuddin.
Barus, B.S., T. Prartono, dan D. Soedarma. 2018. Pengaruh Lingkungan Terhadap Bentuk Pertumbuhan Terumbu Karang Di Perairan Teluk Lampung. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis.. 10(3): 699-709
Bengen, D.G. 2009. Ekosistem dan Sumberdaya Pesisir dan Laut Serta Pengelolaan Secara Terpadu dan Berkelanjutan. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan. Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Damanhuri, H. 2003. Terumbu Karang Kita, Pusat Kajian Mangrove dan Kawasan Pesisir. Universitas Bung Hatta Padang.
Edward dan Z. Tarigan. 2003. Pemantauan Kondisi Hidrologi Diperairan Raha P. Muna, Sulawesi Tenggara Dalam Kaitannya Dengan Kondisi Terumbu Karang. Makara. Jurnal. Sains.. 7(2): 73-82
Giyanto, M. Abrar, T.A. Hadi, A. Budiyanto, M. Hafizt, A. Salatalohy, dan M.Y. Iswari. 2017. Status Terumbu Karang Indonesia. Jakarta: Puslit Oseanografi – LIPI. 30p
Giyanto, B.H., D. Iskandar, Soedharma dan Suharsono. 2010. Effisiensi Dan Akurasi Pada Proses Analisis Foto Bawab Air Untuk Menilai Kondisi Terumbu Karang. Jurnal Oseanologi dan Limnologi di Indonesia. 36(1): 111-130
Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup (KEPMEN-LH) Nomor 51. 2004. Baku Mutu Air Laut
Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup, Nomor 04 Tahun 2001 Tentang Kriteria Baku Kerusakan Terumbu Karang.
Luthfi, O. M., dan T.A. Prima. 2017. Distribusi Karang Keras (scleractania) sebagai Penyusun Ekosistem Terumbu Karang di Gosong Karang Pakiman, Pulau Bawean. Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan. 6(1):9-22.
Notoatmodjo, S. 2002. Metode Penelitian Kesehatan, Rineke Cipta. Jakarta. 207p..
Patty, S.I. dan N. Akbar. 2018. Kondisi Suhu, Salinitas, pH dan Oksigen Terlarut di Perairan Terumbu Karang Ternate, Tidore dan Sekitarnya. Jurnal Ilmu Kelautan Kepulauan. 1(2);1-10
Pranata, N. B., Muliadi, dan Aulia Seto Sandhi Sanova. 2018. Kondisi Ekosistem Terumbu Karang di Teluk Cina, Pulau Lemukutan, Kalimantan Barat. Jurnal Laut. Khat.atulistiwa. 1: 9-16
Prasetia, N.D., dan G.Y. Wisnawa. 2015. Struktur Komunitas Terumbu Karang di Pesisir Kecamatan Buleleng Singaraja. Jurnal Sains dan Teknologi. 4: 2303-3142
Prasetyo, B.T., P.S. Agustinus, Lintang, S. Yuniadi, J. Astuty, Donny, dan Prihadi. 2018. Keterkaitan Tipe Substrat dan Laju Sedimentasi dengan Kondisi Tutupan Terumbu Karang di Perairan Pulau Panggang, Taman Nasional Kepulauan Seribu. Jurnal Perikanan dan Kelautan. 9(2):1-7
Sukarno. 1993. Mengenal Ekosistem Terumbu Karang, Pustlitbang Oceanogr LIPI. 1(1):1–17
Wahyu, F.U., L.D. Magdalena, Priosambodo, dan M. Willem. 2017. Genera Karang Keras Di Pulau Barrang Lompo Dan Bone Batang Berdasarkan Metode Identifikasi Coral Finder. Jurnal Bioma. 2(2): 39-51
Webler, T. and K. Jakubowski. 2016. Mitigating damaging behaviors of snorkelers to coral reefs in puerto rico through a pre-trip media-based intervention. Journal Biological Conservation. 197:223-228.
Ruliyansyah, A. 2016. Evaluasi Potensi Wisata Alam Pulau Lemukutan Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat. E-J. Arst. Lans. 2 (1).
Dianaastuuty. 2016. Studi Kompetisi Turf Alga dan Karang Genus Acropora di Pulau Menjangan, Kepulauan Karimunjawa, Kabupaten Jepara, UNDIP, Semarang.
Ranjbar, M.S. 2010. Coral mortality and serpulid infestations with red tide, in the Persian Gulf. Journal Marine Biotecnology, Springer Verlag, UK.
Sudiarta, I.K.. 1995. Struktur Komunitas Biota Ekosistem Terumbu Karang dan Pemintakatan Kawasan Wisata Bahari Pulau Lembongan, Bali, Program Pasca Sarjana lnstitut Pertanian Bogor. 215p.
Harahap, K.A. 2004. Kondisi Ekosistem Terumbu Karang di Perairan Sekitar Pulau Batam, Riau, Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor.
Coral, Watch. 2011. Terumbu Karang Dan Perubahan Iklim, Panduan Pendidikan Dan Pembangunan Kesadartahuan, Australia, The University Of Queensland.
Guntur. 2011. Ekologi Karang Pada Terumbu Buatan, Ghalia Indonesia, Jakarta
Sugiyanto, G. 2004. Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Karang (Caulastrea furcata) Dengan Fragmentasi Buatan di Perairan Pulau Pari Kepulauan Seribu, FPIK – IPB, Bogor
Hartoni, R. Damar, dan Y. Wardiatno. 2011. Kondisi Terumbu Karang di Perairan Pulau Tegal dan Sidodadi Kecamatan Adang Cermin Kabupaten Pasarawan Provinsi Lampung. Jurnal Maspari. 4(1): 46 – 47
Suharsono. 2014. Biodiversitas Biota Laut Indonesia. Jakarta: Puslit Oseanografi – LIPI, 418p.
Suharsono. 1991. Bulu Seribu (Acanthaster planci), Balai Penelitian dan Pengembangan Biologi Laut. Jurnal Oseanologi. 16(3):17