Laju Pertumbuhan Eucheuma Cottonii Metode Keramba Jaring Apung dengan Berat Awal Berbeda di Melanau Barat, Pulau Lemukutan
DOI:
https://doi.org/10.26418/lkuntan.v8i2.94309Keywords:
Berat Awal, Eucheuma cottonii, Keramba Jaring Apung, Pertumbuhan Mutlak, Laju Pertumbuhan SpesifikAbstract
Pemilihan berat awal bibit merupakan salah satu faktor krusial dalam budidaya rumput laut yang dapat mempengaruhi efisiensi dan hasil panen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui laju pertumbuhan mutlak dan laju pertumbuhan spesifik (SGR) rumput laut Eucheuma cottonii serta menentukan berat awal bibit yang paling efisien pada metode budidaya keramba jaring apung (KJA). Penelitian dilaksanakan selama 40 hari di perairan Melanau Barat, Pulau Lemukutan, menggunakan empat kelompok perlakuan berat awal bibit yang berbeda: 50 g, 100 g, 150 g, dan 200 g. Data dianalisis menggunakan statistik non- parametrik Kruskal-Wallis. Hasil penelitian menunjukkan pertumbuhan mutlak tertinggi pada berat awal 100 g dimana hasil pertumbuhan mutlak sebesar 136 g, namun secara statistik tidak terdapat perbedaan signifikan antar kelompok perlakuan dengan nilai Asymp. Sig. 0,49 (p > 0,05). Sebaliknya, laju pertumbuhan spesifik (SGR) menunjukkan perbedaan sangat signifikan dengan nilai signifikansi 0,00 (p < 0,05), dimana bibit dengan berat awal 50 g memiliki SGR tertinggi (rata-rata akhir 2,95%/hari). Penelitian ini menunjukkan adanya hubungan timbal balik antara efisiensi pertumbuhan dan akumulasi biomassa akhir. Bibit dengan berat awal 50 g menunjukkan efisiensi pertumbuhan tertinggi, sedangkan bibit dengan berat awal 100 g menghasilkan biomassa total terbesar pada akhir masa budidaya. Pemilihan berat awal bibit yang optimal perlu disesuaikan dengan orientasi tujuan budidaya, apakah untuk mempercepat siklus produksi atau memaksimalkan hasil panen total.References
Ã…berg, P. 1990. Measuring Size and Choosing Category Size for A Transition Matrix Study of the Seaweed Ascophyllum nodosum. Marine Ecology Progress Series. 63(2/3): 281-287.
Adini, S., E. Kusdiyantini, A. Budiharjo. 2015. Produksi Bioetanol dari Rumput Laut dan Limbah Agar Gracilaria sp. dengan Metode Sakarifikasi yang Berbeda. Bioma: Berkala Ilmiah Biologi. 16(2): 65–75.
Akib, A., M. Litaay, A. Ambeng, M. Asnady. 2015. Kelayakan Kualitas Air untuk Kawasan Budidaya Eucheuma cottoni Berdasarkan Aspek Fisika, Kimia dan Biologi di Kabupaten Kepulauan Selayar. Jurnal Pesisir Dan Laut Tropis. 3(1): 25– 36.
Anggadiredja, J. T. A. Zatnika, H. Purwoto, S. Istini. 2008. Rumput laut: Pembudidayaan, Pengolahan, dan Pemasaran Komoditas Perikanan Potensial. Jakarta: Penebar Swadaya.
Burdames, Y., E.L.A. Ngangi. 2014. Kondisi lingkungan Perairan Budi Daya Rumput Laut di Desa Arakan, Kabupaten Minahasa Selatan. E-Journal Budidaya Perairan. 2(3): 69-75.
FAO. 2024. The State of World Fisheries and Aquaculture 2024. Roma: FAO.
Fikri, M., S. Rejeki, L.L. Widowati. 2015. Produksi dan Kualitas Rumput Laut (Eucheuma cottonii) Dengan Kedalaman Berbeda di Perairan Bulu Kabupaten Jepara. Journal of Aquaculture Management and Technology. 4(2): 67–74.
Isroni, W., A.S. Bahri, A.A. Amin. 2020. The Effect of Using the Initial Weight of Seedlings by the Floating Method on the Percentage of Daily Growth of Seaweed Eucheuma cottonii. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science. 441.
Jalil, A.R., M.F. Samawi, H.Y. Azis, I. Jaya, A. Malik, I. Yunus, M.A.A.S. Sohopi. 2020. Comparison of Physical‑Chemical Conditions for Seaweed Cultivation in the Spermonde Archipelago, Indonesia. AACL Bioflux. 13(4): 2071–2082
Jiang, H., D. Zou, W. Lou, Y. Deng, X. Zeng. 2018. Effects of Seawater Acidification and Alkalization on the Farmed Seaweed, Pyropia haitanensis (Bangiales, Rhodophyta), Grown Under Different Irradiance Conditions. Algal Research- Biomass Biofuels and Bioproducts. 31: 413–420.
Jurianto, I. P. 2024. Lemukutan Island: Exotic Marine Tourism in West Kalimantan. [Online]. From: https://wisata.app/diary/259164. [Diakses pada 29 Juli 2025).
Khaidir, K., I. Henky, R. Wulandari. 2021. Pengaruh Bobot Bibit Awal yang Berbeda Terhadap Laju Pertumbuhan Rumput Laut Kappaphycus alvarezii dengan Metode Rakit Apung. Intek Akuakultur. 5(2): 113–124.
Lobban, C.S., dan P.J. Harrison. 1994. Seaweed Ecology and Physiology. Cambridge: Cambridge University Press.
Minsas, S., A. Jayuska, Muliadi, N. Satyahadewi, Rafdinal. 2022. Pelatihan Diversifikasi Olahan Rumput Laut Bagi Masyarakat Pulau Lemukutan, Kabupaten Bengkayang. Buletin Al-Ribaath. 19 : 61-67.
Nashrullah, M.F., A.B. Susanto, L. Pratikto, E. Yati. 2021. Analisis Kesesuaian Lahan Budidaya Rumput Laut Kappaphhycus alvarezii (Doty) menggunakan Citra Satelit di Perairan Pulau Nusa Lembongan, Bali. Journal of Marine Research. 10(3): 345–354.
Novandi, M., V.D. Suryaningtyas, R. Irwani. 2022. Pengaruh Bobot Awal Terhadap Laju Pertumbuhan Rumput Laut Eucheuma Cottonii di Perairan Pesisir. Jurnal Akuakultur Tropis. 7(1): 45–52.
Pande, N., P. Suji, D. Antari, N.L. Watiniasih, A. Putu, W. Krisna. 2021. Pertumbuhan Rumput Laut (Eucheuma cottonii) dengan Berat Bibit Awal Berbeda di Pantai Pandawa, Bali. Jurnal Biologi Udayana. 25(2): 122–129.
Roleda, M.Y., C.L. Hurd. 2019. Seaweed Nutrient Physiology: Application of Concepts to Aquaculture and Bioremediation. Phycologia. 58(5): 552–562.
Ruliyansyah, A. 2016. Evaluasi Potensi Wisata Alam Pulau Lemukutan Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat. E-Jurnal Arsitektur Lansekap. 2(1): 51-61.
Sahabati, S., J.D. Mudeng, L.L.J.J. Mondoringin. 2016. Pertumbuhan Rumput Laut (Kappaphycus alvarezii) yang Dibudidaya dalam Kantong Jaring dengan Berat Awal Berbeda di Teluk Talengen Kepulauan Sangihe. E-Journal Budidaya Perairan, 4(3): 16-21.
Sarma, K.A., A. Rahman, A. Dey. 2018. Impact of Solar Operated Aerator on Dissolved Oxygen and Fish Growth. Journal of Experimental Zoology India. 21(2): 1041–1046.
Shen, S.C. Zhan, A.R. Fernie, J. Luo. 2023. Metabolomics-Centered Mining of Plant Metabolic Diversity and Function: Past Decade and Future Perspectives. Molecular Plant. 16(1): 43-63
Sugiyono. 2016. Metode penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Surni, W.A. 2014. Pertumbuhan Rumput Laut (Eucheuma cottonii) pada Kedalaman Air Laut yang Berbeda di Dusun Kotania Desa Eti Kecamatan Seram Barat Kabupaten Seram Bagian Barat. Biopendix: Jurnal Biologi, Pendidikan dan Terapan. 1(1): 95–104.
WWF-Indonesia. 2014. Better Management Practices (BMP) Budidaya Rumput Laut Jenis Kotoni (Kappaphycus alvarezii), Sacol (Kappaphycus striatum), dan Spinosum (Eucheuma denticulatum). Edisi Pertama. Jakarta: WWF-Indonesia.
Xiao, X., S. AgustÃ, F. Lin, C. Xu, Y. Yu, Y. Pan, K. Li, J. Wu, C.M. Duarte. 2019. Resource (Light and Nitrogen) and Density-Dependence of Seaweed Growth. Frontiers in Marine Science. 6: 1-5.
Zhang, L., W. Liao, Y. Huang, Y. Wen, Y. Chu, C. Zhao. 2022. Global Seaweed Farming and Processing in the Past 20 Years. Food Production, Processing and Nutrition. 4(23): 1-30.