Pertumbuhan Kacang Merah (Phaseolus vulgaris L.) dengan Berbagai Kedalaman Muka Air Tanah pada Sistem Budidaya Jenuh Air

Authors

  • Mohd. Taufikri Herdiansyah Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Tanjungpura, Pontianak 78124, Indonesia
  • Nurjani Nurjani Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Tanjungpura, Pontianak 78124, Indonesia
  • Basuni Basuni Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Tanjungpura, Pontianak 78124, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.26418/nexus.v1i1.91466

Keywords:

muka air tanah, pekembangan tanaman, sulfat masam

Abstract

Pengelolaan kedalaman muka air tanah yang sesuai dengan kebutuhan tanaman merupakan faktor penting untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan tanaman pada lahan sulfat masam, hal ini untuk meminimalkan terjadinya oksidasi pirit (FeS2) di dalam tanah. Tujuan penelitian mengkaji tingkat kedalaman muka air tanah yang efektif pada sistem budidaya jenuh air untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil kacang merah pada lahan pasang surut sulfat masam. Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, dari bulan Juni sampai Oktober 2024. Penelitian disusun menggunakan rancangan acak kelompok. Perlakuan yang digunakan yaitu taraf kedalaman muka air tanah (20, 30, dan 40 cm). Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk menunjang pertumbuhan tanaman kacang merah, kedalaman muka air tanah pada lahan pasang surut sulfat masam yang efisien berkisar antara 28-33 cm, sedangkan untuk meningkatkan produktivitas tanaman yaitu berkisar antara 30-31 cm.

References

Badan Pusat Statistik Indonesia. (2020). Luas Lahan Sawah Irigasi menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Barat. Statistik Lahan Pertanian. dari http://epublikasi.setjen.pertanian.go.id

Badan Pusat Statistik. (2023). Produksi Tanaman Sayuran, 2018-2020. dari https://www.bps.go.id/id/statistics-table/2/NjEjMg%3D%3D/produksi-tanaman-sayuran.html

Hakim, N., Nyakpa, Y., Lubis, A. M., Nugroho, S. G.., Diha, M. A., Hong, G. B., dan Bailey, H. H. (1986). Dasar-dasar Ilmu Tanah, cetakan pertama. Universitas Lampung. Lampung.

Mohdar, M. A., Dewanti, P., Handoyo, T., dan Ratnasari T. (2022). Pengaruh Cekaman Kekeringan terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Padi Hitam Varietas Jeliteng. Jurnal Agrikultura, 33 (3): 247-256

Nurbaiti, Yulia, A.E., dan Jujung, S. (2012). Respon pertumbuhan bibit kelapa sawit (Eloeis guineensis Jacq.) pada medium gambut dengan berbagai periode penggenangan. Jurnal Agroteknologi Tropika 1 (1): 14–17.

Purwaningrahayu, R. D., Indradewa, D., dan Sunarminto, B. H. (2004). Peningkatan hasil beberapa varietas kedelai dengan penerapan teknologi basah. Penelitian Pertanian Tanaman Pangan, 23 (1), 49-58.

Rohmah, E. A., dan Saputro, T. B. (2016). Analisis pertumbuhan tanaman kedelai (Glycine max L.) varietas Grobogan pada kondisi cekaman genangan. Jurnal Sains dan Seni ITS. 5(2): 29–33.

Sagala, D., Ghulamahdi, M. dan Melati, M. (2011). Pola Serapan Hara Dan Pertumbuhan Beberapa Varietas Kedelai Dengan Budidaya Jenuh Air Di Lahan Rawa Pasang Surut. Jurnal Agroqua: Media Informasi Agronomi Dan Budidaya Perairan, 9 (1): 1-13. https://doi.org/10.32663/ja.v9i1.40

Soil Survey Staff. (2014). Kunci Taksonomi Tanah. Edisi Ketiga, 2015. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Bogor.

Syamsia, Idhan, A., Noerfitryani, Nadir, M., Reta, and Kadir, M. (2018). Paddy chlorophyll concentrations in drought stress condition and endophytic fungi application. Pages 1–6 IOP Conf. Series: Earth And Environmental Science. IOP Publishing, Vancouver.

USDA. (2007). The USDA Food Search for Windows. Human Nutritition Research Center of Agricultural Research and Service.

Downloads

Published

2025-03-24

Issue

Section

Articles