Pengaruh Tarian Srimpi Muncar Mangkunegaran terhadap Kelestarian Kesenian Mataram Islam di Praja Mangkunegaran

Authors

  • Daniel Edhi Wicaksono SMA Kolese De Britto
  • Leo Acharya Bhamakerti SMA Kolese De Britto
  • Liam Camillo Matahatikoe

DOI:

https://doi.org/10.26418/swadesi.v4i1.92231

Keywords:

Srimpi Muncar, Kelestarian, Mangkunegaran

Abstract

Kesenian menjadi krusial dalam perkembangan dan pembentukan identitas suatu masyarakat. Hal ini dikarenakan sifatnya yang turun-temurun dan perkembangan atas penyesuaian suatu kelompok terhadap sekitar, serta kesadarannya sebagai sebuah masyarakat. Kesenian, lebih spesifiknya seni tari, merupakan sesuatu yang tidak bisa dilepaskan dari Sejarah Indonesia, khususnya Masa Mataram Islam. Salah satu pewaris dan penerus kesenian Mataram Islam tersebut merupakan Praja Mangkunegaran. Berbagai macam tarian berkembang di Praja Mangkunegaran, salah satunya adalah Srimpi Muncar Maka dari itu, penelitian ini disusun dengan tujuan menganalisis perkembangan Tarian Srimpi Muncar di Praja Mangkunegaran dan menjelaskan pengaruh Tarian Srimpi Muncar terhadap kelestarian kesenian Mataram Islam di Praja Mangkunegaran. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah. Menurut metode ini, penelitian dilakukan dalam lima (5) tahap. Pertama (1), pemilihan topik. Kedua (2), heuristik atau pencarian sumber. Ketiga (3), verifikasi sumber. Keempat (4), interpretasi. Kelima (5), historiografi atau penulisan sejarah. Hasil penelitian ini menunjukkan, bahwa Srimpi Muncar Gaya Mangkunegaran merupakan sebuah perkembangan dan penyusunan ulang oleh Mangkunagara VII terhadap Srimpi Muncar Gaya Yogyakarta. Perkembangan ini menghasilkan sebuah tari yang memadukan Gagrak Mataraman Yogyakarta dengan Gaya Surakarta. Selain itu, Srimpi Muncar juga memainkan peranan penting dalam melestarikan dan mengembangkan kesenian Mataram Islam, serta pencerminan sebuah revivalisme pada masa kekuasaan Mangkunagara VII.

Author Biography

Liam Camillo Matahatikoe

SMA Kolese De Britto

References

Daftar pustaka yang berupa Arsip :

Majalah Jaya Baya. (1983, January 30). Srimpi Putri CinTa-Kelaswara. Jaya Baya, 22, 78.

Pustaka yang berupa judul buku:

Benedict R. O’G. Anderson. (1967). Diachronic Field-Notes on the Coronation Anniversary at the Kraton Surakarta Held on December 18, 1963. Indonesia, 3, 63–71. https://doi.org/10.2307/3350722

Davidson, Jamie Seth, & Henley, David. (2007). The Revival of Tradition in Indonesian Politics: The Deployment of Adat from Colonialism to Indigenism. Routledge Contemporary Southeast Asia Series. https://library.uc.edu.kh/userfiles/pdf/25.The%20revival%20of%20tradition%20in%20Indonesian%20politics.pdf

Geertz, C. (1973). The Interpretation of Culture. New York: Basic Books. https://edisciplinas.usp.br/pluginfile.php/5781397/mod_resource/content/1/Geertz_Clifford_The_Interpretation_of_Cultures_Selected_Essays%20%281%29.pdf

Hidaya, S. N. F. (2017). Peranan Mangkunegara VII dalam Mengembangkan Kebudayaan Jawa 1918 – 1942. Universitas Negeri Surabaya.

Kuntowijoyo. (1995). Pengantar Ilmu Sejarah. PT. Bentang Pustaka, Yogyakarta.

Koentjaraningrat, (1986), Pengantar Ilmu Antropologi. Penerbit AKSARA BARU Jakarta, Jakarta.

Kroeber, A. L., & Kluckhohn, C., (1952). Culture: A Critical Review of Concepts and Definitions. Peabody Museum Press. Cambridge, Massachusetts.

Nurhajarini, D. D. R. (2012). Yogyakarta Dari Hutan Beringan Ke Ibukota Daerah Istimewa. Buku. http://pustaka.kebudayaan.kemdikbud.go.id/index.php?p=show_detail&id=5989&keywords=

Prabowo, Wahyu S., Hadi S., Soemaryatmi, Katarina I. S. (2007). Sejarah Tari: Jejak Langkah Tari di Pura Mangkunagaran. Surakarta: ISI Press.

Ricklefs, M. C. (2021). Samber Nyawa Kisah Perjuangan Seorang Pahlawan Nasional Indonesia Pangeran Mangkunagara I (1726-1795).

Sindhunata. (2024). Ratu Adil: Ramalan Jayabaya & Sejarah Perlawanan Wong Cilik. Penerbit Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Simuh. (1985). Unsur-Unsur Islam dalam Kepustakaan Jawa: Pengaruh India, Islam, dan Barat dalam Proses.

Throsby, David. (2001). Cultural Capital: Culture, Economics and Sustainability. Cambridge University Press, United Kingdom. https://www.academia.edu/50347519/Cultural_capital?source=swp_share

Wasino. (2014). Modernisasi di Jantung Budaya Jawa: Mangkunegaran 1896-1944. Jakarta: Kompas.

Pustaka yang berupa Jurnal Ilmiah :

Fibiona, I., & Lestari, S. N. (2017). Mardi Goena, Krida Beksa Wirama, and Harbiranda: Skilful Hand of KRT Jayadipura in Developing and Preserving the Javanese Culture, from 1920s to the 1930s. Indonesian Historical Studies, 1(2).

Malarsih, Rohidi, T., Sumaryanto, T., & Hartono. (2017). Mangkunegaran dance style in the custom and tradition of Pura Mangkunegaran. Harmonia: Journal of Arts Research and Education, 17(2), 136-143.

Rosyida, A. A. (2017). POLITIK EFISIENSI ANGGARAN MANGKUNEGARA VI TAHUN 1911 - 1915. AVATARA e-Journal Pendidikan Sejarah, 5(1), 1443-1457.

Soemaryatmi. (2021, Desember). STUDI PUSTAKA TARI SRIMPI MUNCAR GAYA YOGYAKARTA DAN GAYA MANGKUNAGARAN SURAKARTA. Acintya, 13(2), 204-218. Institut Seni Indonesia Surakarta. https://doi.org/10.33153/acy.v13i2.4123

Sriyadi, & Pramutomo, R.M. (2020). Absorpsi Tari Bedhaya Bedhah Madiun Gaya Yogyakarta di Mangkunegaran Masa Pemerintahan Mangkunegara VII. Jurnal Sejarah Citra Lekha, 5(1), 28-43.

Wardhana, A., Pitana, T., & Susanto. (2019). CULTURAL REVIVALISM OF MANGKUNEGARA VII AND THE ISLAMISM DISCOURSE IN THE EARLY 20th CENTURY. Ulul Albab, 20(1), 123-146.

Spellman, J. W., & Jerstad, L. G. (1970). Mani-Rimdu: Sherpa Dance-Drama. Pacific Affairs, 43(4), 594. https://doi.org/10.2307/2754922

Siburian, E. P. T. (2011). Perjalanan Hidup dan Upaya Membangkitkan Kembali Seni Opera Batak Tilhang Serindo. Harmonia Journal of Arts Research and Education.

Evers, Hans-Dieter, & Siddique, Sharon. (1993). Revivalism in Southeast Asia: The Case of the Tablighi Jama’at. JSTOR. https://www.jstor.org/stable/i40046131

Downloads

Published

2025-09-23