Karakteristik Fisikokimia-Sensoris Fruit Leather pada Berbagai Formulasi Terong Asam (Solanum Ferox Linn)-Nangka (Artocarpus Heterophyllus Lamk) dan Subtitusi Sukrosa dengan Sorbitol
DOI:
https://doi.org/10.26418/jft.v4i1.56635Keywords:
fruit leather, nangka, terong asam, SorbitolAbstract
Buah-buahan sangat digemari dan memiliki segudang vitamin, namun tidak sedikit buah yang memiliki umur simpan yang singkat atau udah rusak, salah satu upaya mempertahankan kualitas buah dapat dilakukan dengan pengolahan menjadi produk fruit leather Penelitian ini bertujuan mendapatkan formulasi terong asam-nangka yang menghasilkan karakteristik fisikokimia dan sensoris terbaik dan untuk mendapatkan subtitusi sukrosa dengan sorbitol yang menghasilkan karakteristik sensoris fruit leather nangka yang disukai. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan 1 (satu) faktor terdiri dari 2 tahap, tahap 1 yaitu formulasi terong asam-nangka (F) (100:0, 75:25, 50:50, 25:75, 0:100; 4 kali ulangan). Formulasi terpilih tahap 1 dilanjutkan ke tahap 2 yaitu subtitusi sukrosa dengan sorbitol (S) (30:0, 27,5:2,5, 25:5, 22,5:7,5). Data dianalisis dengan anova pada taraf 5%. Jika formulasi berpengaruh nyata dilanjutkan uji beda nyata jujur (BNJ) pada taraf 5%. Penentuan formulasi terbaik dengan uji indeks efektifitas. Formulasi terpilih tahap 1 yaitu (0g terong asam:100g nangka). Hasil sensoris tahap 2 fruit leather terhadap rasa, aroma warna dan tekstur yang paling disukai yaitu pada formulasi (27,5g sukrosa:2,5g sorbitol). Karakteristik fisikokimia fruit leather kadar air 12,57%, kadar abu 2,56%, total asam tertitrasi 14,40% dan kadar sukrosa 51,66%, dengan hasil sensoris rasa 4,13 (suka-sangat suka), aroma 3,87 (suka), warna 4,17 (suka-sangat suka) dan tekstur 4,10 (suka-sangat suka). Karakteristik sensoris subtitusi sukrosa dengan sorbitol yang paling disukai menghasilkan nilai sensoris rasa 4,10 (suka-sangat suka), aroma 4,00 (suka), warna 4,00 (suka) dan terkstur 4,13 (suka-sangat suka).References
Astawan. (2009). Terong antikanker sebagai obat kuat. Jawa Tengah: Dinas Pertanian.
Badan Pengawas Obat dan Makanan. (2008). Persyaratan penggunaan bahan tambahan pemanis buatan dalam produk pangan. Jakarta: Pusat Pengkajian Obat, Pangan, dan Makanan Republik Indonesia.
Badan Standarisasi Nasional. (2000). Makanan ringan ekstrudat. Jakarta: BSN.
Herbach, K. M., Stinizing, F. C., dan Carle, R. (2006). Betalain stability and degradation structural and chromatic aspects. Journal Science of Food, 71(4), 41-50.
Rini, S. dan Kumala, F. (2016). Panduan asuhan nifas dan evidence based practice. Yogyakarta: Deepublish.
Soesilo, D., Santoso, R. E., dan Diyatri, I. (2005). Peranan sorbitol dalam mempertahankan kestabilan ph saliva pada proses pencegahan karies. Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi), 38(1), 25-28.
Sudarmadji, S. B., Haryono, dan Suhardi. (1997). Prosedur analisa bahan makanan dan pertanian. Yogyakarta: Liberty.
Suryani, E. (1996). Mempelajari pembuatan perisa dari ekstrak flavor alami nangka (artocarpus heterophyllus). Skripsi. Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2022 FoodTech: Jurnal Teknologi Pangan

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Authors who publish with this journal agree to the following terms:
- Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Attribution-ShareAlike 4.0 International (CC BY-SA 4.0) that allows others to share the work with an acknowledgment of the work's authorship and initial publication in this journal.
- Authors are able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journal's published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book), with an acknowledgment of its initial publication in this journal.
- Authors are permitted and encouraged to post their work online (e.g., in institutional repositories or on their website) prior to and during the submission process, as it can lead to productive exchanges, as well as earlier and greater citation of published work (See The Effect of Open Access).