EKSISTENSI PEMBINAAN PENGADILAN PAJAK DI DALAM SISTEM PERADILAN DI INDONESIA

Authors

  • DIDIT SUGIHARTO - A01109170

Abstract

Secara  konstitusional  pada  Pasal  24  ayat  (1)  UUD  1945 menegaskan  secara  eksplisit  bahwa  Kekuasaan  Kehakiman merupakan  kekuasaan  yang  merdeka  untuk  menyelenggarakan peradilan  guna  menegakkan  hukum  dan  keadilan,  kemudian ditegaskan  kembali  di  dalam  Pasal  1  UU  No.  48  Tahun  2009 Tentang  Kekuasaan  Kehakiman  yang  berbunyi  Kekuasaan kehakiman  adalah  kekuasaan  negara  yang  merdeka  untuk menyelenggarakan  peradilan  guna  menegakkan  hukum  dan keadilan berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik  Indonesia  Tahun  1945,  demi  terselenggaranya  Negara Hukum Republik Indonesia. Untuk  itu  di  dalam  rangka  mewujudkan  sistem  peradilan satu atap (one roof system)  yang terintegrasi di  bawah  kekuasaan Mahkamah Agung, maka di dalam rumusan Pasal 21 ayat (1) UU No. 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman menyebutkan bahwa Organisasi, administrasi, dan finansial,  Mahkamah Agung dan  badan  peradilan  yang  berada  di  bawahnya  berada  di  bawah kekuasaan  Mahkamah  Agung.  Berdasarkan  ketentuan  tersebut, maka  penyelenggaraan  kekuasaan  kehakiman  menghendaki Mahkamah Agung untuk melakukan pembinaan baik secara teknis yudisial  maupun  secara  non  teknis  yudisial  (organisasi, administrasi, dan finansial) terhadap badan peradilan yang berada di bawahnya berada di bawah kekuasaan Mahkamah Agung. Namun  pada  kenyataanya  amanat  daripada  Pasal  24  ayat (1) UUD 1945 Jo Pasal 1 dan Pasal 21 ayat (1) UU No. 48 Tahun 2009  Tentang  Kekuasaan  Kehakiman  tidak  dilaksanakan  secara murni dan konsekuen, karena dapat dilihat secara jelas dan tegas di dalam Pasal 5 ayat (2) UU No. 14 Tahun 2002 Tentang Pengadilan Pajak menyebutkan bahwa Pembinaan organisasi, administrasi, dan keuangan  bagi  Pengadilan  Pajak  dilakukan  oleh  Departemen Keuangan, padahal dapat diketahui bahwa Kementerian Keuangan merupakan unsur daripada cabang kekuasaan eksekutif.

Dengan adanya keterlibatan Kementerian Keuangan di satu pihak  yang  merupakan  bagian  daripada  cabang  kekuasaan eksekutif  di  dalam  melakukan  pembinaan  secara  non  teknis yudisial  (organisasi,  administrasi  dan  finansial)  bagi  Pengadilan Pajak,  maka  dengan  demikian  akan  menyebabkan  terjadinya dualisme pembinaan, karena di lain pihak pembinaan secara teknis yudisial  bagi Pengadilan Pajak dilakukan oleh Mahkamah  Agung berdasarkan  Pasal  5  ayat  (1)  UU  No.  14  Tahun  2002  Tentang Pengadilan  Pajak.  Terjadinya  dualisme  pembinaan  di  Pengadilan Pajak  menyebabkan  terancamnya  independensi  dan  imparsialitas hakim  di  dalam  memeriksa,  mengadili  dan  memutus  terhadap sengketa pajak.

Keywords  :  Kekuasaan  Kehakiman,  Sistem  Peradilan  Satu Atap, Pengadilan Pajak, Dualisme Pembinaan.

Downloads

Published

2013-04-24