TINJAUAN YURIDIS HAK ANAK LUAR KAWIN DALAM MEMPEROLEH HARTA WARISAN DARI BAPAK BIOLOGISNYA PASCA PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR 46/PUU-VIII/2010

Authors

  • NURAINI SUSANTI - A1011131106

Abstract

Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/PUU-VIII/2010 yang   menyatakan bahwa "Anak     yang     dilahirkan     di     luar     perkawinan     mempunyai hubungan   perdata   dengan   ibunya   dan   keluarga   ibunya   serta   dengan   laki-laki sebagai     ayahnya     yang     dapat     dibuktikan     berdasarkan     ilmu     pengetahuan dan teknologi   dan/atau   alat   bukti   lain   menurut   hukum   mempunyai   hubungan   darah, termasuk hubungan perdata dengan keluarga ayahnya". Hal ini tentu saja berbeda dengan yang tertuang dalam Pasal 186 Kompilasi Hukum Islam, yang menyebutkan bahwa "Anak yang lahir   diluar   perkawinan   hanya   mempunyai   hubungan   saling   mewaris   dengan ibunya   dan   keluarga   dari   pihak   ibunya.

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan     Metode     Hukum     normatif,     yaitu     penelitian     keperpustakaan     yang dilakukan   dengan   cara   meneliti   bahan   keperpustakaan. Hasil   penelitian   ini   bahwa pemikiran   pengakuan   hak   waris   anak   luar   kawin   berdasarkan   putusan   Mahkamah Konstitusi   Nomor   46/VIII/2010   adalah   anak   luar   kawin   pun   berhak   mendapat perlindungan   hukum.   Hukum   harus   memberi   perlindungan   dan   kepastian   hukum yang   adil   terhadap   status dan   hak-hak   yang   ada   pada anak luar kawin.

Kedudukan anak   luar   kawin dalam   Kitab   Undang-Undang   Hukum   Perdata adalah     anak     yang     dilahirkan     di     luar     perkawinan     yang     sah     hanya     mempunyai hubungan   perdata   dengan   ibunya   dan   keluarga   ibunya.   Dengan   demikian,   anak   luar kawin tersebut hanya mempunyai pertalian kekeluargaan dengan segala implikasinya dengan   ibunya   dan   keluarga   ibunya   saja,   dan   tidak   mempunyai   hubungan   hukum dengan   ayah   yang   membenihkannya,   kedudukan anak   luar   kawin setelah Putusan Mahkamah     Konstitusi     Nomor 46/PUU-VIII/2010 adalah: Hubungan     anak     dengan seorang laki-laki sebagai bapak, tidak semata-mata karena adanya ikatan perkawinan dengan ibunya, akan tetapi dapat juga didasarkan pada pembuktian adanya hubungan darah   antara   anak   dengan laki-laki   tersebut   sebagai   bapak dan Hak   seorang   anak, tanpa     memandang     status     perkawinan     kedua     orang     tuanya,     harus     mendapatkan perlindangan   dan   kepastian   hukum   yang   adil,   karena   pada   dasarnya,   hukum   tidak mengenal istilah dosa turunan. Pembuktian dan pengakuan terhadap anak luar kawin yang dilakukan di Pengadilan inilah yang menjadikan anak luar kawin menerima haknya sebagai pewaris dari bapak biologisnya.

 

Kata Kunci : Hak Waris, Kedudukan Anak Luar Kawin, Putusan Mahkamah Konstitusi

Downloads

Published

2017-04-17