ANALISIS KEBUTUHAN RUANG TERBUKA HIJAU (RTH) BERDASARKAN SERAPAN GAS CO2 DI KOTA PONTIANAK
DOI:
https://doi.org/10.26418/jtllb.v1i1.2105Abstract
ABSTRAK Peningkatan jumlah penduduk Kota Pontianak berdampak pada pengalihfungsian lahan bervegetasi menjadi area terbangun sehingga mengurangi luas Ruang Terbuka Hijau (RTH) kota. Dampak yang paling nyata adalah berkurangnya kemampuan vegetasi menyerap CO2 sehingga CO2 yang dihasilkan dari aktivitas kota, baik dari konsumsi energi, perternakan, pertanian dan aktivitas manusia terus meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menghitung luas penutupan lahan bervegetasi eksisting; (2) menghitung jumlah emisi karbondioksida yang dihasilkan oleh aktivitas kota saat ini; (3) menghitung luas RTH yang dibutuhkan untuk menyerap sisa emisi karbondioksida yang tidak terserap oleh tutupan lahan yang ada di Kota Pontianak. Metoda yang digunakan dalam penelitian ini adalah interpretasi citra Landsat TM 7 tahun 2012 dan Ikonos tahun 2008. Sedangkan untuk perhitungan emisi CO2 mengacu pada metode yang dikeluarkan oleh Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) tahun 1996 mengenai Guidelines for National Greenhouse Gas Inventories Workbook. Hasil penelitian menunjukkan bahwa luas tutupan lahan bervegetasi eksisting Kota Pontianak tahun 2012 adalah 3.351,21 ha atau 29% dari luas total wilayah Kota Pontianak. Emisi CO2 yang dihasilkan Kota Pontianak dari energi (bahan bakar) sebesar 1.713.909 ton/tahun, ternak dengan jumlah emisi 284 ton/tahun, pertanian dengan jumlah emisi 10.692 ton/tahun, dan penduduk dengan jumlah emisi 192.824 ton/tahun. Total emisi CO2 dari keempat sumber tersebut adalah 1.917.709 ton/tahun. Tingginya tingkat emisi CO2 yang terdapat di Kota Pontianak menyebabkan wilayah ini membutuhkan luasan RTH sebesar 5.962,2 ha atau sebesar 52% dari luas wilayah kota untuk menyerap seluruh emisi CO2 yang dihasilkan. Kata Kunci: Karbondioksida, Pontianak, ruang terbuka hijauDownloads
Published
2013-05-27
Issue
Section
Articles