Fitoremediasi Limbah Amalgamasi Pemurnian Bijih Emas Pertambangan Rakyat di Kecamatan Monterado

Authors

  • Noviyanti Noviyanti Universitas Tanjungpura
  • Jumiati Jumiati Universitas Tanjungpura
  • Aini Sulastri Universitas Tanjungpura

DOI:

https://doi.org/10.26418/jtllb.v11i3.67920

Keywords:

Amalgamasi, fitoremediasi, ludwigia octovalvis, merkuri

Abstract

Aktivitas pertambangan emas tanpa izin hingga saat ini marak dilakukan. Pertambangan emas tanpa izin cenderung menggunakan merkuri (Hg) dalam proses pemurnian bijih emas/proses amalgamasi yang dapat menyebabkan pencemaran dan sangat berbahaya terhadap lingkungan. Limbah yang dihasilkan dari proses pemurnian bijih emas ini memiliki kandungan merkuri yang melebihi baku mutu yaitu 13,91 mg/L, sehingga perlu dilakukan pengolahan sebelum dibuang ke lingkungan salah satunya dengan fitoremediasi. Adapun tujuan penelitian ini untuk menganalisis efisiensi fitoremediasi menggunakan lakum air (Ludwigia octovalvis) dan menentukan waktu tinggal efektif dalam menurunkan kadar merkuri limbah amalagamasi. Penelitian ini menggunakan reaktor terpisah yang berjumlah 12 buah, menggunakan 55 liter limbah amalgamasi dan dilakukan dua kali pengulangan (duplo), dengan variasi waktu tinggal 7, 14 dan 21 hari. Efisiensi penurunan konsentrasi merkuri pada limbah amalgamasi oleh tanaman lakum ini yang paling baik pada waktu tinggal 14 hari yaitu 55,60%, dengan penurunan sebesar 7,74 mg/L. Tanaman lakum air mulai mengalami kematian pada hari ke-3 dan waktu tinggal 21 hari yang paling banyak mengalami kematian. Oleh karena itu, 14 hari diasumsikan sebagai waktu tinggal yang efektif dalam menurunkan konsentrasi merkuri karena memiliki rata-rata efisiensi penurunan sebesar 55,60% dan tanaman masih bertahan hidup hingga akhir proses fitoremediasi.

Author Biographies

Noviyanti Noviyanti, Universitas Tanjungpura

Jurusan Teknik Lingkungan

Jumiati Jumiati, Universitas Tanjungpura

Jurusan Teknik Lingkungan

Aini Sulastri, Universitas Tanjungpura

Jurusan Teknik Lingkungan

References

Alrawiq, H. S. M., & Mushrifah, I. 2014. Mercury exposure on potential plant Ludwigia octovalvis L. - Preliminary toxicological testing. AIP Conference Proceedings, 589–595. https://doi.org/10.1063/1.4858718

Anam, M. M., Kurniati, E., & Suharto, B. 2013. Penurunan kandungan logam pb dan cr leachate melalui fitoremediasi bambu air (equisetum hyemale) dan zeolit reduction of pb and cr metals contents of leachate by means of phytoremediation of bambu air (equisetum hyemale) and zeolite. Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis Dan Biosistem, 1(2), 43–59. https://jkptb.ub.ac.id/index.php/jkptb/article/view/118/121

Belami, L., Yuliati, I. M., & Sidharta, B. B. R. 2014. Pemanfaatan Purun Tikus (Eleochalis Dulcis) Untuk Menurunkan Kadar Merkuri (Hg) Pada Air Bekas Penambangan Emas Rakyat. Tekno Lingkungan, 1–16.

Ghiovani, D. 2017. FitoremediasiAir yang Teremar Limbah Laundry dengan Menggunakan Kayu Apu (Pistia stratiotes). Jurnal Teknik ITS, 6(2), 7–11.

Ihsan, T. 2021. Dasar Epidemiologi: Analisis Host dan Lingkungan pada Agent Kimia.

Ni’mah, L., Anshari, M. A., & Saputra, H. A. 2019. Pengaruh variasi massa dan lama kontak fitoremediasi tumbuhan parupuk (Phragmites karka) terhadap derajat keasaman (pH) dan penurunan kadar merkuri pada perairan bekas penambangan intan dan emas kabupaten Banjar. Konversi, 8(1), 55–62. https://doi.org/10.24853/konversi.8.1.8.

Sukoasih, A., & Widiyanto, T. 2017. Hubungan Antara Suhu, pH dan Berbagai Variasi Jarak dengan Kadar Timbal (Pb) pada Badan Air Sungai Rompang dan Air Sumur Gali Industri Batik Sokarja Tengah Tahun 2016. Buletin Keslingmas, 36(4), 360–368. https://doi.org/10.31983/keslingmas.v36i4.3115

Susanti, S., Rusmiyanto, E., & Mukarlina. 2017. Respon Pertumbuhan Sorghum (Sorghum bicolor( L .)) Varietas Kawali Pada Tanah Bekas Pertambangan Emas Rakyat. Protobiont, 6(3), 290–294.

Downloads

Published

2023-10-26