Identifikasi Derajat Kematangan Gambut Kedalaman 0-100 cm Lahan Perkebunan Kelapa Sawit Kabupaten Kubu Raya
DOI:
https://doi.org/10.26418/jtllb.v12i2.72394Keywords:
Perkebunan kelapa sawit, gambut, bahan organik, berat volume, tingkat kematanganAbstract
Penerapan sistem drainase pada lahan gambut pada perkebunan kelapa sawit belum mengadopsi prinsip konservasi. Penggunaan pupuk yang tidak tepat dapat menyebabkan pembusukan gambut secara cepat. Pemahaman terhadap perubahan sifat gambut diperlukan untuk menentukan pendekatan yang tepat dalam menentukan degradasi gambut. Penelitian ini mencari metode survei tanah menggunakan bor Eijkelkamp pada perkebunan kelapa sawit Perusahaan Mitra Aneka Rezeki yang terletak di Kecamatan Teluk Pakedai, Kabupaten Kubu Raya, Indonesia. Investigasi karakteristik gambut dilakukan pada delapan satuan lahan yang ditentukan berdasarkan umur kelapa sawit 3, 4, 5, dan 8 tahun, serta hutan gambut yang letaknya berdekatan dengan perkebunan sebagai perbandingan. Sampel gambut pada satuan lahan dan hutan gambut dikumpulkan pada setiap kedalaman 50 cm hingga substratum. Parameter bahan organik, berat jenis, C organik, N total, pH-H2O, pH-KCl, dan asam humat secara komposit dianalisis di laboratorium tanah. Analisis statistik uji T dilakukan dengan tingkat kepercayaan 5% untuk mengetahui perbedaan karakteristik gambut antara kedalaman 0-100 cm dan di bawah 100 cm, serta antara hutan gambut dan 8 unit lahan pada kedalaman yang sama. Penanaman kelapa sawit di lahan gambut menyebabkan perubahan sifat gambut secara bertahap dan terutama terjadi pada lapisan gambut bagian atas (0-100 cm), sedangkan lapisan yang lebih dalam relatif tidak berubah. Perubahan besar sifat gambut pada perkebunan kelapa sawit terindikasi dimulai pada lahan pohon kelapa sawit berumur 5 tahunReferences
Agus, F. 2007. Cadangan, Emisi, dan Konservasi Karbon Pada Lahan Gambut. hlm. 45-52. Dalam F. Agus dan N. Sinukaban (Ed.).
Andriesse. 1988. Nature and Management of Tropical Peat Soil, FAO Soils. Bulletin 5:5. Roma.
Arifin, S. W. Atmojo, P. Setyono, and W.S. Dewi. 2016. Pengelolaan Perkebunan Kelapa Sawit Rendah Emisi GRK di Lahan Gambut Kabupaten Kubu Raya. Dissertasi Doktoral. Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret. Surakarta.
Bunga Rampai Konservasi Tanah dan Air. Masyarakat Konservasi
Driessen and Rochima L. 1976. The Physical Properties of Lowland Peats of Kalimantan. In: Proc. Peat and Podsolic Soil and Their Potential for Agriculture in Indonesia. Soil Res. Ins. Bogor. ATA 106 Bulletin No. 3. page 11-19.
Gaur, A., C.1982. A Manual of Rural Composting. Food and Agricurtural of Organization of The United Nation. Rome.
Haug RT. 1980. Compost Engineering Principles and Practice. Ann Arbor Science Publishers, Inc., Ann Arbor, MI.
Hobbs, N.B. (1986). Mire morphology and the properties and behaviour of some British and foreign peats. Quart. J. of Eng. Geol., (19), 7-80.
Lucas R. E. 1982. Organic Soils (Histosols), Formation, Physical, and Chemical Properties and Management for Crop Production. In: Michigan State Univ. Res. Report. No. 435 (Farm Science).
Maas, A. 2000. Laju Dekomposisi Gambut dan Dampaknya pada Status Hara pada Berbagai Tingkat Pelindian, Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan. Fakultas Pertanian UGM. Yogyakarta 2 (1). 34-45.
Noor, M., Dedi Nursyamsi, D., Alwi M., dan Fahmi, A. 2014. Prospek Pertanian Berkelanjutan di Lahan Gambut: dari Petani ke Peneliti dan Peneliti ke Petani. Jurnal Sumberdaya Lahan. 8 (2). 69-79
Notohasiprawiro, T. 1997. Twenty-Five Years Experience in Peatland Development for Agriculture in Indonesia. in Rieley, J., dan S.E. Page. 1997 (eds). Biodiversity and Sustainability of Tropical Peatlands, Samara Publ. Ltd., Cardigan, UK
O’brien, D. & R. Wickens. 1975. Mechanization on Peat in Horticulture. Dalam Robinson, D.W. dan J.G.D. Lamb (eds) Academic Press. New York. 87-96.
Radjagukguk, B. 2000. Perubahan Sifat-Sifat Fisik dan Kimia Tanah Gambut Akibat Reklamasi Lahan Gambut Pertanian, Ilmu Tanah dan Lingkungan, Vol.2. 1-15.
Rosmarkam A, Shidieq D., and Atmojo, S. W. 1988. Soil Classification. Lecture Handbook Dictate. Faculty of Agriculture, Universitas Sebelas Maret. Surakarta.
Rosmarkam, A.dan Yuwono, N.W. 2002. Ilmu Kesuburan Tanah. Kanisius, Yogyakarta. 224 hal.
Rosmini dan Radjagukguk. 1988. Pengaruh Tingkat Kematangan Gambut, Tipe Kontiner dan Pemupukan terhadap Pertumbuhan Semai Acacia Mangium. Master Thesis. Fakultas Pertanian. Universitas Gajah Mada. Yogyakarta.
Tanah dan Air Indonesia.Agus, F. and van Noordwijk, M. (15 November 2007). CO2 Emissions Depend on Two Letters. Jakarta: The Jakarta Post.
Tie Y. L. And Lim J. S. 1991. Characteristics and Classification of Organic Soil in Malaysia.
USDA (United State Department of Agriculture). 2010. Keys to Soil Taxonomy. United States Department of Agriculture. Natural Resources Conservation Service. 11th Edition. Washington D.C, USA.
Downloads
Additional Files
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2024 Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.
The articles in this journal are under the copyright of the author of the article. This article is open access from the journal.