Pengukuran Garis Sempadan Pantai Berbasis ArcGIS Melalui Pemetaan Pengendalian Kawasan Pesisir Di Kota Singkawang
DOI:
https://doi.org/10.26418/jtllb.v12i4.86666Keywords:
Sempadan Pantai, Kawasan Pesisir, GISAbstract
Kota Singkawang merupakan kawasan pesisir dengan panjang garis pantai sepanjang 27,6 km. Salah satu kebijakan yang perlu diimplementasikan dalam pengelolaan kawasan pantai adalah menetapkan garis sempadan pantai untuk menjaga zona aman antara infrastruktur dengan garis pantai yang selalu berubah. Penerapan GIS diperlukan dalam pengukuran garis sempadan pantai, merumuskan kebijakan dalam melindungi ekosistem pesisir dan mengurangi risiko bencana pesisir. Metodelogi ini menggunakan perhitungan coastal hazard zone (CHZ), lebar sempadan, variasi tahunan zona yang mengalami erosi, serta pengukuran profil pantai. Hasil dari analisis ini terdapat tipe profil pantai berlumpur, pantai dengan kawasan hutan mangrove dan pantai pasir sedikit kerikil dengan jarak pada kondisi eksisting < 100 m dari bibir pantai. Nilai ketinggian muka air laut untuk pantai kerikil 2 m dan pantai berlumpur 12 m, lebar garis sempadan pantai berkisar 159,2 m untuk pantai pasir berkerikil, pantai pesisir manggrove 121,5 m dan berlumpur 125,5 m. Ketentuan Perpres No. 51 Tahun 2016 tentang penetapan garis sempadan pantai, divalidasi dengan perhitungan kondisi pantai Kota Singkawang. Sehingga dapat dibuat penetapan batas sempadan melalui peraturan tertulis sebagai bentuk pengendalian pemanfaatan ruang pesisir agar tidak mengalami perubahan garis pantai.
References
Aghazsi, S. R. (2015). Penguasaan Tanah di Kawasan Sempadan Pantai dan Wilayah Pesisir. Lentera Hukum.
Arfiani, Z. P., Gobel, M. T. A., & Syukri, M. R. (2020). Penataan Kawasan Pesisir Pantai Untuk Mengurangi Resiko Bencana Jurnal Pengelolaan Wilayah Pesisir.
Cambers, G. (1998) Planning For Coastline Change. Universty of Puerto Rico Sea Grant College Program .
Dean, R. G. dan Dalrymple, R. A. (2002) Coastal Processes with Engineering Applications. Cambridge University Press, Australia.
Ekosafitri, K. H., Rustiadi, E., & Yulianda, F. (2017). Pengembangan Wilayah Pesisir Pantai Utara Jawa Tengah Berdasarkan Infrastruktur Daerah: Studi Kasus Kabupaten Jepara.. Jurnal Pengembangan Wilayah
Ganguly & Bhan, 2023, “Remote Sensing and GIS Based Monitoring and Management of Coastal Aquifers and Ecosystemâ€.Global perspectives, Regional Processes, Local Issues.
Hapsari, K., Rustiadi, E., & Yulianda, F. (2017). Pengembangan Wilayah Pesisir Pantai Utara Jawa Tengah Berdasarkan Infrastruktur Daerah. Jurnal Pengembangan Wilayah.
Komar, P. D., McDougal, G. W., Marra, J. J. dan Ruggiero, P. (1999) The Rational Analysis of Setback Distance: Applications to the Oregon Coast. Journal of Shore & Beach Vol 69(1) 41-49.
Laporan Akhir Penataan dan Pengelolaan Kawasan Pesisir Kota Singkawang. (2017). Bappeda Kota Singkawang
Peraturan Presiden No. 51. (2016). Tentang Batas Sempadan pantai.
Republik Indonesia. (2016). Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 51 Tahun 2016 tentang Batas Sempadan Pantai.
Republik Indonesia. (2014). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2014 tentang Keinsinyuran. Jakarta.
Triatmodjo, B. (1999) Teknik Pantai. Beta Offset, Yokyakarta.
Wicaksono, A. D., Awaluddin, M., & Bashit, N. (2020). Analisis Laju Perubahan Garis Pantai Menggunakan Metode Net Shoreline Movement (NSM) dengan Add-in Digital Shoreline Analysis System (DSAS)Jurnal Geodesi Undip.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2024 Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.
The articles in this journal are under the copyright of the author of the article. This article is open access from the journal.