RESPON TANAMAN BAWANG MERAH TERHADAP CENDAWAN MIKORIZA ARBUSKULA (CMA) PADA CEKAMAN KEKERINGAN DI TANAH GAMBUT

Authors

  • Rini Suryani Departement of Agrotechnology, Universitas Tanjungpura
  • Sutarman Gafur Departement of Soil Science, Universitas Tanjungpura
  • Tatang Abdurrahman Agrotechnology Department, Universitas Tanjungpura

DOI:

https://doi.org/10.26418/pedontropika.v3i1.23434

Keywords:

tanaman bawang merah, CMA, cekaman kekeringan, tanah gambut

Abstract

Tanaman bawang merah merupakah satu diantara komoditi hortikultura yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Budidaya tanaman bawang merah di tanah gambut mempunyai banyak permasalahan, terutama sifat fisik, kimia dan biologi tanah yang buruk. Fokus utama dari tanah gambut adalah kemampuannya dalam menyimpan dan melepaskan air secara cepat. Air merupakan kebutuhan utama untuk pertumbuhan tanaman. Ketersediaan air sangat berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan produksi terutama berhubungan dengan fungsinya sebagai bahan pelarut unsur hara tanah. Sistem perakaran tanaman bawang yang dangkal akan menyebabkan terhambatnya penyerapan air terutama pada ketersediaan air   yang terbatas. Penggunaan cendawan mikoriza arbuscular (CMA) dapat membantu tanaman bawang merah untuk menyerap air dari dalam tanah, terutama pada kondisi cekaman kekeringan. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh CMA dan frekuensi penyiraman serta interaksinya terhadap pertumbuhan tanaman bawang merah di tanah gambut. Penelitian dilakukan di rumah kaca lahan percobaan Fakultas Pertanian, Universitas Tanjungpura selama 3 bulan. Penelitian menggunakan rancangan petak terbagi yang terdiri dari 2 faktor. Fungsi perlakuan CMA sebagai plot utama terdiri dari 2 taraf; m0 = tanpa CMA, m1 =   dengan CMA, sedangkan fungsi perlakuan frekuensi penyiraman sebagai sub-plot terdiri dari 4 taraf; a1 = setiap hari, a2 = setiap 3 hari, a3 = setiap 5 hari, a4 = setiap 7 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi AMF berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, serapan P, volume akar, persentase akar terinfeksi dan berat kering bulir bawang per rumpun. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh interaksi antara perlakuan inokulasi AMF dan frekuensi penyiraman.

References

Agus, F dan Subiksa, I.G.M. 2008. Lahan Gambut, Potensi Untuk Pertanian dan Aspek Lingkungan. Balai Penelitian Tanah. Bogor.

Badan Pusat Statistik dan Direktorat Jenderal Hortikultura. 2014. Luas Panen Bawang Merah Menurut Provinsi, [internet]. Tersedia pada : http://www.pertanian.go.id/EIS-SEM - HORTI-2014/LP-B.Merah-ASEM-

HORTI2014.pdf. Dilihat pada 16 Desember 2015.

Badan Pusat Statistik dan Direktorat Jenderal Hortikultura. 2014. Produksi Bawang Merah Menurut Provinsi,[internet]. Tersedia pada: http://www.pertanian.go.id

/ATAP2014-HORTI-pdf/2014-Prod -

BwMerah.pdf. Dilihat pada 16 Desember 2015.

Badan Pusat Statistik, 2015. Distribusi Perdagangan Komoditas Bawang Merah Indonesia 2015.

http://www.bps.go.id/website/pdf_pub likasi/Distribusi-Perdagangan- Komoditi-Bawang-Merah-di- Indonesia-2015.pdf. Dilihat pada 3

November 2015.

Fitter, A.H dan Hay, R K K. 1998. Fisiologi Lingkungan Tanaman. UGM Press. Yogyakarta.

Foth, H.D., 1994. Dasar-dasar Ilmu Tanah, (Diterjemahkan oleh Soenartono Adisoemarto), Erlangga, Jakarta.

Gardner, F.P; R.B. Pearce, R.L. Mitchel. 1985. Fisiologi Tanaman Budidaya. UI Press. Jakarta.

Handayanto, E, dan K. Hairiah. 2007. Biologi Tanah : Landasan Pengelolaan Tanah Sehat. Pustaka Adipura. Malang

Downloads

Published

2022-07-20

Issue

Section

Articles